Dunia Ketiga, Buddha, Pencerahan



Model diperani oleh Karina Sinaga

Dibanding karya sastranya, saya lebih dulu mengenal Thailand lewat film-filmnya. Selain drama, film-film horor Thailand menarik perhatian banyak orang. Sejumlah film horor Thailand yang pernah saya tonton seperti “Shelter”, “Alone”, “4Bia” sangat mengesankan. Bukan hanya daya cekamnya, tapi juga cerita dan pendekatannya terhadap realitas mahluk halus yang jauh berbeda dengan film horor besutan anak negeri.  “Orang Tengah” , salah satu dari omnibus 4Bia, bagi saya paling membetot emosi dan lama mengendap dalam ingatan.

Sejak itu jika ada kesempatan saya akan  membeli atau mengunduh film-film Thailand. Saya juga kemudian tertarik mencari karya sastra Negeri Siam itu. Pikir saya, mungkin ada spirit yang sama film dan karya sastra yang dihasilkan negeri itu. Tapi kau tahu, tidak gampang menemukan karya-karya sastra negara-negara Asia Tenggara di negeri kita. Penerbit-penerbit di republik ini lebih gandrung menerbitkan novel-novel dari Eropa dan Amerika. Tak heran jika kita seperti kehilangan pembanding dari negara-negara yang secara kultural dan sosial lebih dekat dengan situasi negeri sendiri.    

Saya gembira ketika belum lama ini menemukan “Negeri Hujan” novel karya Pira Sudham, pengarang Thailand, terselip di rak buku seorang kawan. Ini novel tentang kegagapan orang dunia ketiga (:miskin) manakala berhadapan dengan orang-orang di negara maju.  

Inferior
Kita orang di dunia ketiga selalu memandang kagum pada orang-orang di negara maju. Kekaguman kita yang kadang berlebihan acap melahirkan ketidakpercayaan diri, inferior, gagap saat berhadapan dengan mereka. Terlebih jika kita datang dari pelosok kampung yang diabaikan oleh derap pembangunan di negerinya sendiri. 

Kekaguman yang berlebih tanpa disertai kekritisan terhadap negara maju, berlanjut pada sikap melecehkan pada kondisi dan nilai-nilai tradisi bangsa sendiri.  Apa yang kita lihat di negeri sendiri seakan selalu lebih buruk, tertinggal, terbelakang, primitif. Sebaliknya, kita akan selalu memandang apa yang datang dari negara maju lebih baik.

Prem, tokoh dalam novel yang konon dicalonkan meraih Nobel itu, merupakan tipikal manusia negara dunia ketiga yang gagap manakala berhadapan dengan orang-orang di negara maju. Prem acap diserang kikuk saat bicara dan bertindak dalam bergaul dengan mereka. Benaknya senantiasa dipenuhi kekhawatiran salah menempatkan diri dan dianggap primitif, kuno.

Namun sikap kritis yang ada pada dirinya menyelamatkannya dari mengingkari akar budaya negerinya sendiri seperti terjadi pada Dhani, kawan senegeri yang ditemuinya di Inggris, tempat mereka melanjutkan pendidikan. Latar belakang sosial Dhani dan Prem memang jauh berbeda. Prem datang dari Napo, pelosok Thailand tahun 1976, yang tradisi masyarakatnya tidak memungkinkan anak-anak mereka melanjutkan sekolah. Anak-anak harus membantu orang tua bekerja di ladang. Apalagi di pelosok yang jauh dari pusat tersebut sekolah pun hanya ada satu dengan pengajar hanya satu pula. Dhani mirip dengan Hanafi dalam novel Salah Asuhan Abdoel Moeis. Ia merasa malu dan canggung mengakui negerinya yang dianggapnya rendah, bodoh.

Di Napo, sekolah satu-satunya dikelola oleh Kumjay. Kumjay mengelola dan sekaligus mengajar murid-muridnya seorang diri. Kumjay bahkan harus mendatangi warga satu persatu untuk meminta izin anak-anak mereka belajar di sekolah yang didirikannya secara swadaya. Kondisi yang barangkali gampang ditemui di negara-negara miskin termasuk Indonesia sampai sekarang. Sebaliknya, Dhani datang dari kelas sosial yang lebih diuntungkan: anak seorang diplomat dengan segala fasilitas dan kemudahan. Kumjay tak ubahnya berkah bagi Napo dan terutama Prem. Kumjay bukan hanya seorang pengajar, tapi aktivis sosial militan (dan politik?) yang memungkinkan Prem  dapat melanjutkan pendidikannya sampai ke Inggris.

Prem berasal dari keluarga petani buta huruf yang sangat miskin di Napo. Kemiskinan dan kebodohan keluarga Prem jelas merupakan korban dari sistem negaranya. Dalam prespektif Johan Galtung, keluarga Prem merupakan contoh korban kekerasan negara terhadap warganya. Di mana negara membiarkan kemiskinan yang melahirkan dan melestarikan kebodohan.  Karena kebodohan, orang tua Prem, Kum Surin, tak dapat protes ketika hasil kebunnya dihargai dengan harga tahun sebelumnya oleh tengkulak. Posisinya di hadapan tengkulak tak ubahnya seperti pengemis yang harus diselamatkan hidupnya.

Kelahiran Prem, membawa harapan dalam keluarga Kum Surin. Karena Prem merupakan anak laki-laki satu-satunya dari enam bersaudara. Anak laki-laki dianggap sebagai keberuntungan yang  akan meneruskan nama keluarga. Dalam tradisi Buddha yang mengenal reinkarnasi, kelahiran anak laki-laki merupakan karma baik dari kehidupan masa lalu. Prem yang pada masa kanak mengidap bisu, tumbuh menjadi anak yang pintar dan menarik perhatian Kumjay. Kumjay yang kemudian membawa Prem bekerja menjadi pelayan bikkhu di kota supaya dapat melanjutkan sekolah.

Kontras
Ketika hidup di Eropa untuk melanjutkan pendidikan, Prem senantiasa membandingkan pola hidup orang-orang di sana dengan kehidupan masyarakat Napo.  Membandingkan harga sebotol minuman yang diminum Dhani dan Helmut von Regnitz, penggubah lagu, kenalannya di Eropa, yang sebanding dengan harga hasil ladang orang tua Prem selama musim panen; membandingkan gaya hidup yang dijalaninya di Eropa, makan di restoran mewah, mendengar musik, menonton opera, dengan para petani miskin di negerinya yang bahkan sandal pun mereka tidak mengenalnya.

Prem membuang jam tangan dan pakaian Eropanya ke unggunan api saat dia kembali ke desanya. Itu dilakukan di depan para keponakan yang memandang aneh penampilan Prem yang serba mewah. Aksi membuang jam tangan dan pakaian Eropa menjadi simbol kesadaran Prem untuk kembali menjadi dirinya. Jam tangan sebagai simbol waktu, tak mempunyai fungsi apa-apa di tengah kehidupan desanya yang masih bersahaja. Kembalinya Prem kepada dirinya yang murni bahkan ditegaskan lagi dengan keputusannya menjadi bhikkhu.

Pilihan menjadi bhikkhu sebagai simbol penolakan terhadap dunia bagi saya selesaian yang sangat menggetarkan. Segala kemewahan dan kenikmatan hidup tak penting lagi saat seseorang menemukan jati diri dan sikap hidupnya.  Inilah kontras  yang hadir secara lembut dan menggugah. Kemajuan yang ditemui Prem di negara-negara Eropa yang dianggap sebagai bangsa yang mendapat pencerahan akhirnya harus dilupakan demi mendapat pencerahan yang lebih tinggi: menjadi bhikkhu.  Jalan Buddha yang ditempuh Prem, bukan hanya  simbol pencerahan tertinggi tapi juga penolakan terhadap kenikmatan dunia.           

Comments