Idealitas Cinta dan Seni Rupa



Model diperani oleh Yunita.

Kalau ada film yang mengambil setting daerah tempat kamu tinggal, kamu tentu pengin menyaksikan film tersebut dengan harapan melihat tempat  yang kamu kenal sejak kecil hadir di layar. Berharap-harap cemas bagaimana daerah yang kamu kenal itu diperlihatkan secara berbeda atau sesuai dengan yang kamu kenal. Bagaimana si sutradara memperlakukan daerah yang kamu kenal itu. Kamu mungkin akan membandingkan cara pandang si sutradara dengan cara pandangmu terhadap tempat yang kamu kenal itu.

Kamu tahu, tempat yang sama bisa memiliki makna dan penafsiran yang berbeda bagi masing-masing orang. Perbedaan dapat timbul karena setiap orang memiliki pengalaman, daya serap, pemahaman, dan mungkin juga cinta, yang berbeda.  Kita tidak dapat protes terhadap fakta ini. Yang bisa kita lakukan adalah membuat film sendiri. Lalu biarkan sejarah yang menguji mana yang lebih bertahan lama.

Cirebon, kota kelahiran saya, sejauh yang saya ketahui, belum pernah menjadi setting sebuah film. Apalagi film yang secara khusus menyorot perjalanan sejarah Cirebon (semoga kelak ada yang membuat filmnya). Kalau novel mengambil setting Cirebon, saya pernah membacanya. Novel ini berjudul “Jantan” (1989) karya Edijushanan, pengarang kelahiran Sindanglaut, Cirebon.

“Jantan” yang pernah memenangi  Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta ini mengambil setting  di bukit Maneungteung. Ini bukit yang masuk wilayah Desa Waled Asem, Kecamatan Waled, kawasan selatan Cirebon yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Jaraknya sekitar 3-5 kilometer dari desa saya. Kami menyebut bukit ini sebagai Ajimut. Sampai saya berusia belasan, bukit yang dibelah sebatang sungai ini merupakan tempat wisata yang ramai dikunjungi  orang saban Minggu. Di salah satu puncaknya terdapat Monumen Maneungteung.

Novel “Jantan”, dibuka dengan adegan puncak bukit Maneungteung yang hening, lalu sayup-sayup terdengar bunyi cetar dari seseorang yang memainkan cambuknya. Bunyi cetar yang ditimbulkan kemudian dipantulkan dinding dinding bukit dan diseret angin hingga terdengar sampai ke desa-desa sekitar. Saya membaca novel ini setelah saya melewati masa remaja. Ketika membacanya, saya membandingkan-bandingkan bukit Maneungteung yang digambarkan novel dengan ingatan-ingatan saya tentang bukit Maneungteung itu. Proses membanding-bandingkan ini memberi kenikmatan tertentu yang tidak terumuskan.
    
Ketika saya membaca novel “Louisiana Louisiana” besutan Jamal, belum lama ini, saya juga tidak bisa menghindar untuk membanding-bandingkan. Tapi kali ini membandingkan tokohnya, Randi, dengan orang Cirebon yang saya kenal. Karena novel ini memang hanya ‘mengambil’ orang Cirebon menjadi tokohnya. Randi tentu saja tokoh fiksi. Tapi Cirebon, jelas bukan fiksi. Randi berasal dari keluarga pengusaha meubel (ingat, Cirebon produsen meubel rotan terkenal, saya dalam kurun waktu yang telah berlalu pernah menjadi skrup terkecil dari industri ini) yang sukses. Terbukti bisa menyekolahkan Randi sampai ke Kopenhagen, Denmark. Bukan hanya itu, keluarga Randi merupakan gambaran keluarga yang ideal. Tidak hanya sukses secara ekonomi, hubungan keluarga yang harmonis nan hangat, tapi juga nilai-nilai, yakni nilai nilai relijiusitas (:Islam). Pendeknya, sebuah keluarga tanpa masalah atawa konflik. Oleh karena itu tidak menarik. Mungkin saya tidak akan menemukan bandingannya dalam realitas yang saya kenal. 

Maka persoalan dihadirkan untuk menggulirkan plot (: hambatan untuk mencapai harapan/idealitas) melalui keberangkatan Randi ke Denmark. Di sebuah negeri di nun Eropa Utara sana Randi bertemu dan berselingkuh dengan Hanne, istri Palle. Palle tak lain rekan bisnis ayah Randi. Lelaki Denmark ini pula yang menampung Randi di apartemennya. Perselingkuhan dengan Hanne, membuat Randi merasa bersalah. Bukan hanya karena bersetubuh dengan perempuan yang bukan muhrimnya, tapi juga karena Hanne adalah istri Palle.

Persetubuhan di luar pernikahan bagi Randi jelas sesuatu yang luar biasa. Tapi lama kelamaan menjadi hal yang biasa. Ia juga kemudian melakukannya dengan Gabby (Gabriella Mendini), Nille (Penille Pedersen), Elena, dan tentu saja dengan Malene, gadis Denmark yang dicintainya. Rasa bersalah dan pergulatan batin Randi bahkan diverbalkan dalam dialog-dialog panjang. Dialog-dialog panjang ditambah adegan pertemuan Randi dengan sekian perempuan-perempuan yang dikencaninya, surat-menyurat, membuat novel ini hampir terkesan seperti novel-novel remaja yang centil. Kecentilan ini masih ditambah dengan kehadiran Lia dan Fifay melalui surat menyurat yang terasa mendadak. Kemunculan mereka seakan sekadar untuk menghadirkan romantisme sekaligus menguatkan pandangan-pandangan ideal penulis novel ini tentang cinta.

Yang membuatnya berbeda tentu isi dari isu yang jadi bahan dialog. Dialog-dialog berisi perdebatan menyangkut perkara perbedaan kultur, moralitas, spiritualitas, etik, estetik, modernitas, dan berbagai aliran dalam seni rupa, antara Randi dengan Jensen, Hovard, dan beberapa teman kuliah Randi lainnya, jelas bukan dialog-dialog ringan. Termasuk pandangan-pandangan Randi menyangkut wahdatul wujud. Saya seperti disuguhi kuliah aneka macam disiplin ilmu. Meskipun untuk yang terakhir saya menangkap inkonsistensi. Randi menampik personifikasi Tuhan. Tapi pada saat lain menggunakan perumpaan tukang kursi dan kursi untuk menolak konsep wahdatul wujud.

Sebagai pembaca saya tentu mendapat banyak pengetahuan. Tapi untuk sebuah novel, dialog-dialog ini bagi saya jadi terasa berlarat-larat. Baiklah, ini adalah diktat seni rupa (dan cinta?) yang dinovelkan.

Comments