Konspirasi: Antara Fantasi dan History



Model diperani oleh Rina Christina

Saya punya seorang kawan yang memiliki pandangan unik. Ia selalu memandang fenomena apa pun yang terjadi di panggung dunia ini sebagai buah dari konspirasi. Hancurnya menara kembar di New York, munculnya gembong teroris Usamah Bin Ladin, lengsernya Presiden Soeharto,  terpilihnya SBY  jadi presiden, bahkan  mengemukanya ustad ini, ngetopnya artis itu, serbuan epidemi flu burung, kematian Michael Jackon, bangkitnya kaum Nabi Luth (baca:homoseksual) bahkan naiknya harga bawang, menurut kawan saya,  tidak terjadi begitu saja sebagai proses sebab akibat secara alamiah seperti air bergerak dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah.  Termasuk bencana alam seperti tsunami yang melanda Aceh 2004 silam, semua tak lepas dari rancangan sekelompok kecil orang untuk melanggengkan dominasi mereka atas sekelompok besar masyarakat dunia.
 
Ada beberapa yang saya percaya, tapi sebagian lainnya sama sekali sukar dipercaya lantaran di luar nalar saya.  Salah satu yang kerap membuat kami berdebat keras adalah keyakinannya bahwa tsunami Aceh bagian dari sebuah konspirasi besar Amerika untuk mencabik-cabik Indonesia atau— dalam cara pandang kawan saya itu— Islam.

Novel “d.I.a. cinta dan presiden” besutan Noorca M. Massardi yang usai saya baca belum lama ini mengingatkan pada perdebatan dengan kawan saya itu. Teori konspirasi yang diyakininya dengan gigih itu acap membuat saya jengkel setengah mati. Pasalnya, banyak logika yang bolong dalam teori-teorinya itu. Kesalahan kawan saya itu bisa jadi lantaran fantasinya tentang konspirasi bersumber dari paranoid akut. Seandainya dia memiliki daya imajinasi untuk menerjemahkan teori-teorinya dalam rangkaian cerita yang logis sekaligus fantastik sebagaimana dilakukan Noorca dalam novelnya itu, tentu tidak membuat saya jengkel, bahkan sebaliknya: takjub.

Begitulah, membaca novel “d.I.a. cinta dan presiden” saya seakan dipaksa untuk mempercayai teori konspirasi ala kawan saya itu. Bukan hanya karena pergerakan plotnya yang “realistis”, tapi deskripsi yang rinci dan meyakinkan sehingga saya seperti membaca catatan sejarah yang dinovelkan dengan cara yang mencengangkan. Setiap peristiwa konspirasi dalam novel ini mempunyai pijakan logikanya yang membuat saya terhindar dari kejengkelan.

Novel ini dibuka dengan adegan seorang pria misterius di ruang kerja Wahid Pratama, anggota DPR, yang terancam di-recall lantaran kekritisan dia terhadap sepak terjang Ketua Umum Partai Mandat Nasional Prof Dr Eri Masina. Pria misterius ini memberi aba-aba kepada Wahid Pratama dan kawanan pewarta tentang kejadian besar yang akan mengubah peta Jakarta yang bakal terjadi beberapa menit lagi. Sebuah peristiwa yang tidak hanya mengubah  peta Jakarta secara geografi tapi juga politik. Peristiwa itu adalah gempa dahsyat yang menelan sebagian besar wilayah Jakarta menjadi tinggal nama. 

“Apa yang berhasil kami lakukan di Aceh pada 26 Desember 2004, kami ulangi dengan sukses di Jakarta pada 21 Mei bertahun-tahun lalu walau dengan sedikit penyimpangan yang tidak bisa kami antisipasi....!” kata Sutomo Parastho, pemilik jaringan media paling berpengaruh di Indonesia, menjelaskan kepada putranya Anggara.

Konspirasi mengubah peta Jakarta yang direncanakan sejak presiden pertama hingga Presiden Wahid Pratama tersebut bertujuan untuk memperbaiki, mengubah, dan meningkatkan derajat, kejayaan serta kesejahteraan bangsa dan negara kita. Namun dalam menjalankan proyek besar ini para konspirator bekerja sama dan menggunakan jasa teknologi d.I.a (Defense Intellegence Army).      

Penjelasan Sutomo Parastho kepada putranya itu membuat saya mendadak harus mengurungkan niat untuk suatu hari memaksa kawan saya membaca novel ini supaya saya tidak jengkel lagi saat dia mengigaukan pandangannya tentang konspirasi. Pasalnya, selesaian (:tujuan) konspirasi versi novel Noorca ini pasti akan ditolak mentah-mentah kawan saya itu.

Penolakan kawan saya seakan mengiang di telinga saya: “Mana mungkin d.I.a eh CIA  mau melakukan konspirasi kalau tujuannya untuk mengembalikan kejayaan bangsa dan negara Indonesia. CIA  itu melakukan konspirasi jelas untuk menghancurkan negara mana pun yang mengancam dominasi mereka di bumi sini.”

Kawan saya itu pasti akan terus ngoceh, “Bagaimana penjelasan keterkaitan presiden  pertama dengan Sutomo Parastho, Wahid Pratama, dan semua proyek besarnya itu? Bukankah presiden pertama kita sangat antiAmerika?”    

Tapi saya sudah menyiapkan bantahan untuk kawan saya itu: daya imajinasimu sih lemah!

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka