UFO dan Pembelaan Mereka untuk Bumi


Model diperani oleh Ditta Kusumadewi
Bumi yang kita huni hanya salah satu planit dalam sistim tata surya yang kita kenal berpusat pada satu matahari. Sistim tata surya di mana bumi menjadi anggotanya, hanya satu dari miliran sistim tata surya yang berada dalam pusaran Galaxy Bimasaksti. Ilmu pengetahuan modern menjelaskan pada kita betapa Galaxy Bimasakti hanya salah satu dari miliran galaxy lainnya. Jadi, bumi ibarat sebutir debu yang hampir tak ada maknanya di keluasaan semesta. Rasanya sangat mustahil jika di keluasaan semesta itu tak ada mahluk hidup selain manusia.

Mahluk hidup lain itu kita kenal sebagai mahluk luar angkasa yang dalam film-film science fiction buatan Hollywood bernama Extra Terrestrial. Mereka konon kerap mengunjungi bumi mengendarai piring terbang, pesawat mereka yang supercanggih. Mahluk bumi menyebutnya Unidentified Flying Objecyt (UFO). Kalau diterjemahkan berarti benda terbang yang tidak teridentifikasi. Kedatangan mereka dianggap serangan terhadap mahluk di bumi.

“The Doomsday Conspiracy”, novel Sidney Sheldon, membicarakan fenomena ini. Suatu hari di pegunungan Alpen, Swiss, sebuah pesawat UFO jatuh. Robert Bellamy, mantan pilot yang kini bekerja sebagai agen rahasia untuk angkatan laut Amerika, dipanggil untuk menemukan anggota rombongan turis yang secara tidak sengaja menyaksikan jatuhnya UFO tersebut.  Pemerintah AS merasa harus merahasiakan peristiwa ini karena dianggap dapat meresahkan masyarakat bumi. Untuk keperluan itu para saksi harus dilenyapkan.

Robert Bellamy yang jago melacak dan menguasai lusinan bahasa diperalat lembaganya untuk menemukan mereka. Tanpa sepengetahuan Robert, dia dilibatkan dalam konspirasi besar yang disebut “Konspirasi Hari Kiamat”.  Tugas ini membawanya berkeliling Swis, Inggris, Jerman, Rusia, kanada, Hunggaria, hingga tanah airnya sendiri, Texas. Seluruh saksi mata yang berhasil ia lacak tewas. Kini bahkan dirinya menjadi sasaran pembunuhan oleh sebuah organisasi yang tidak jelas namun sangat berpengaruh dan mematikan.

Sheldon secara singkat menceritakan riwayat setiap saksi mata yang dilacak Bellamy. Ada seorang fotografer amatiran yang suatu hari bermimpi jadi profesional, ada seorang pastor yang imannya berantakan gara-gara menyaksikan mahluk luar angkasa itu, ada penjaga perpustakaan Rusia yang kecewa dengan kebijakan Glasnot Perestroika. Saya menduga pola semacam ini digunakan Sheldon dalam novel-novelnya (semoga saya dapat membuktikan dugaan saya benar atau salah).  

Terus terang inilah novel Sidney Sheldon saya baca pertama kali. Novel ini terbit 1991 dan telah pula dilayar lebarkan. Sebelumnya saya mengenal Sheldon spesialis penulis novel-novel detektif yang melibatkan urusan asmara kaum selebritas. Bahkan belum lama saya mengetahui bahwa Sheldon bukan perempuan sebagaimana yang saya pikirkan. Tentu saja saya mengabaikan novel Sheldon bukan lantaran karya-karyanya oleh sebagian orang dianggap sebagai pop, melainkan sebuah ketidak sengajaan. Pembaca novel paling getol sedunia pun pasti tidak akan sempat membacai semua karya menarik.

Dalam riwayat hidupnya yang saya baca di internet, Sheldon meraih ketenarannya setelah usianya tak muda lagi. Karya-karya banyak ditolak penerbit. Dia kemudian bantir stir jadi penulis serial televisi dan drama panggung Broadway.  Novel-novel detektif Sheldon menarik saya lantaran kemampuannya mengecoh pembaca, deskripsi yang rinci buah dari keseriusan riset yang dilakukannya.
Novel-novel detektif menarik karena selalu menjanjikan kejutan pada selesaianya. Kita diajak mengira-ngira siapa pelaku—biasanya—kejahatan, dan bagaimana ia melakukan kejahatannya. Penulis detektif yang baik berkali-kali berhasil mengecoh kita. Dan di situlah kenikmatan membaca novel detektif. “Six Suspects” karya Vikas Swarup misalnya, berhasil mengayun-ngayunkan untuk berpikir siapa pelaku pembunuhan.

Namun yang paling menarik dari “The Doomsday Conspiracy” bagi saya adalah pesan go green-nya. Mahluk luar angkasa dalam novel ini adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang merasa eksploitasi manusia terhadap bumi melalui industri sebagai instrumen kapitalisme, sudah sangat membahayakan dan membuat mereka resah. Mereka turun ke bumi untuk menekan mahluk bumi menghentikan semua aktivitas industri yang merusak. Mahluk bumi harus menanda tangani perjanjian untuk memulihkan keseimbangan bumi. Jika tidak, mereka bakal menyerang dan mengoloni bumi.

Dengan teknologi yang lebih canggih dari yang dihasilkan manusia, tentu mereka bisa dengan mudah mengambil alih kendali manusia di bumi. Novel ini menyodorkan ironi. Manusia si mahluk bumi, begitu getol merusak bumi, tempat tinggalnya. Sementara  mahluk angkasa luar justru datang untuk menyelamatkannya. Novel ini mengambil posisi yang jelas sebagai penganjur gaya hidup hijau untuk mengerem kerusakan bumi akibat peradaban industri yang digerakkan oleh kapitalisme. Kalau begini, tentu saya lebih memilih menjadi koloni mahluk tumbuh-tumbuhan itu.

Comments