Film, Komunitas, Lenyapnya Ruang Publik


Selasa pekan lalu saya ke GoetheHaus Institut menghadiri peluncuran ulang (relaunch) program Arthouse Cinema, menyaksikan Garin Nugroho berbincang-bincang dengan pembawa acara dan ketua program di panggung Arthouse Cinema yang sejuk. Garin diminta pendapatnya mengenai program tengah bulanan yang digelar Pusat Kebudayaan Jerman itu.  Dengan gayanya yang santun khas orang Yogyakarta, Garin menuturkan pentingnya memperkuat komunitas-komunitas kecil dalam kehidupan masyarakat. Bagi sutradara “Bulan Tertusuk Ilalang”  itu, sebuah masyarakat yang tidak memberi tempat bagi komunitas-komunitas berbasis apa pun sama saja dengan mendorong masyarakat bunuh diri. Makin banyak komunitas-komunitas sekecil apa pun dan berbasis apa pun akan makin memperkuat kehidupan masyarakat itu sendiri. Salah satunya adalah komunitas pecinta film. Film dalam konteks itu menjadi media untuk berialog dengan masyarakat.

Garin kemudian bercerita, suatu ketika ia ditawari memilih filmnya “Opera Jawa” untuk diedarkan di Eropa atau di Amerika (:Hollywood). Dengan mantap, Garin memilih diedarkan di Eropa. Alasannya ya tadi itu, menjadikan film sebagai media untuk berdialog dengan masyarakat. Tidak semata sebagai industri massal sebagaimana dipraktikkan Hollywood.

Tetapi bagi saya yang menarik adalah saat Garin menuturkan pengalaman masa-masa awal dia menyukai film. Dia gemar sekali nonton film di bioskop di kota masa kecilnya, Yogyakarta. Karena tidak selalu punya uang untuk membeli karcis, dia acap harus mencari orang dewasa yang mau mengaku sebagai orang tuanya supaya ia bisa masuk ke dalam gedung bioskop secara gratis. Namun karena terlalu sering, portir karcis akhirnya mengetahui modusnya. Si portir pernah menangkap dan memasukkan Garin ke balik layar bioskop.

Ini menarik bukan hanya lantaran yang menceritakan Garin, tapi juga pengalaman serupa pernah saya alami, dan saya kira pengalaman seperti itu tidak istimewa karena dialami pula oleh kebanyakan anak seusai itu desa. Persoalannya memang bukan di pengalamannya, melainkan cara menceritakannya. Karena di situ dibutuhkan kemampuan tertentu. Baiklah, bioskop di kota kecil saya itu, seperti bisokop-bisokop di kota-kota kecil lainnya di seluruh Indonesia, sudah lama bangkrut bersamaan dengan serbuan monopoli kelompok 21 dan ambruknya dunia perfilman nasional, seingat saya sejak 1997.

Persis dikatakan Garin, sejak bioskop-bioskop di kota-kota kecil gulung tikar, masyarakat kita kehilangan salah satu tempat bersosialisasi—atau berdialog dalam bahasa Garin. Kebangkrutan bioskop itu kemudian diikuti lenyapnya kios-kios penyewaan buku yang dulu sempat menjamur dan menjadi gaya hidup anak-anak muda di desa saya. Kenyataan ini bagi saya seperti menyodorkan ironi betapa arus modernitas di negara dunia ketiga seperti Indonesia yang ditandai dengan menjamurnya mal-mal justru mendorong punahnya ruang ruang untuk berdialog bagi masyarakat. Ambruknya sikap tenggang rasa antar warga masyarakat yang memicu meruyaknya kekerasan saya kira ekses paling ringan dari hilangnya ruang ruang untuk berdialog itu.

foto diambil dari pajerindo.com
Bioskop saat ini hanya berada di kota-kota. Itu pun makin kehilangan fungsi vitalnya sebagai media untuk berdialog. Bukan hanya karena dikuasai kelompok jaringan 21 dengan  film-film yang diputar di sana semata film yang konon digemari pasar, tapi juga ia hanya jadi pelengkap di pusat-pusat berbelanjaan.   

Saya yang tinggal di ibukota Jakarta, kota pusat segala pusat, mungkin beruntung. Karena dekat dengan pusat-pusat kebudayaan, dapat dengan mudah mengakses film-film yang tidak beredar di jalur industri, mengakses kegiatan seni, bertemu dengan aneka komunitas dan berdialog dengan mereka. Pusat-pusat kebudayaan seperti Taman Ismail Marzuki, Galeri Nasional, Galeri Cemara, termasuk GoetheHaus Institut, dapat saya kunjungi dengan jalan kaki. Mereka yang perdesaan hanya bisa mengonsumsi sinetron yang makin menyesatkan!           

Comments