Menggugat Eksploitasi Perempuan dan Sumber Daya Alam



Model diperani oleh Bella Anjani

Perempuan-perempuan itu bernama Mabel, Mace, dan Leksi. Nasib mereka begitu buruk hanya karena mereka perempuan. Terlahir sebagai  perempuan di negara dunia ketiga (:Indonesia), terlebih di wilayah pedalaman Papua seperti sebuah kutukan. Kekerasan yang mereka alami tidak hanya datang dari negara, tapi juga dari lingkungan keluarga. Tapi mereka tak mau menyerah. Mereka punya tekat dan sedikit pengetahuan. Hanya dengan itu mereka melawan.

Mabel, Mace, dan Leksi merupakan korban kekerasan tak berujung dari sebuah sistem budaya patriarki yang menindas dan diskriminatif. Lingkungan keluarga dan negara seakan bersekongkol memperdaya perempuan, melucuti hak-hak kemanusiaannya. Tak ada yang dapat menolong perempuan melepaskan diri dari posisi terjepit seperti itu selain mereka sendiri. Negara, keluarga, bahkan agama seakan mensahkan perlakuan tidak adil yang menimpa perempuan melalui aturan-aturan yang dilembagakan. Begitu kuatnya budaya patriarki ini, seakan makin menegaskan prediksi Taufik Hakim, kandidat peraih Nobel Sastra dari Mesir, sebagaimana dikutip  Husein Muhammad dalam bukunya Ijtihad Kyai Hussein, satu-satunya kiai feminis di Indonesia itu,  kesetaraan gender akan terwujud paling cepat pada tahun 2400. Jadi  membutuhkan waktu sekitar 387 tahun lagi.

Ketiga perempuan dari tiga generasi berbeda ini merepresentasikan begitu rendahnya posisi tawar perempuan di hadapan negara dan masyarakat. Sejak masa kanak Mabel dihadapkan pada satu pilihan: menikah dengan laki-laki yang memandang perempuan tak lebih dari seonggok benda; Mace  ditinggal begitu saja oleh suaminya; dan Leksi tak pernah tahu siapa ayahnya.

Melalui novel ini Anin secara jelas tidak hanya mengusung fenomena diskriminasi jender yang akut, tapi juga menyuarakan semangat menggugat dan perlawanan terhadap budaya patriarki. Pada saat bersamaan Anin menyoal tentang kemiskinan, ketimpangan sosial sebagai akibat langsung dari eksploitasi kekayaan alam Papua oleh pihak asing yang bersekongkol dengan pemerintah pusat.

Dengan demikian Anin sengaja atau tidak telah menampilkan dirinya sebagai feminis kritis tanpa harus mengabaikan novel sebagai karya sastra yang indah, memberi pengalaman berbahasa yang bernas, meliuk, dan mengasyikkan. Liukan mengasyikkan novel ini antara lain dari cara bertutur novel ini terbilang unik dan sedikit rumit. Alur bergerak melalui banyak narator yang tidak semuanya manusia. Ada Kwee, seekor babi, Pum, seekor anjing, yang dapat mengecoh jika kita kurang cermat membaca.

Tanah Tabu berhasil menggambarkan secara detil-detil kehidupan Papua, baik secara fisik maupun batin. Terasa betul betapa Tanah Tabu digarap secara cermat dan sungguh-sungguh. Padahal, menurut pengakuan Anin dalam suatu chatting, ia tidak pernah menginjak tanah Papua. Ia hanya melakukan riset pustaka selama dua tahun. Bayangkan jika Anin meriset langsung.

Anindita
Saya mengenal sosok Anin secara langsung pada 2004, di perhelatan Tangerang Art Festival yang digagas dan diadakan kawan-kawan komunitas seniman Tangerang. Anin pada kesempatan itu menjadi salah satu pemenang lomba penulisan puisi. Puisinya lembut sebagaimana pembawaan Anin. Tapi saya tahu, puisi Anin juga penuh semangat gugatan ketidakadilan jender.

Saya melihatnya membacakan puisi sambil jongkok di atas rakit yang terayun-ayun di permukaan sungai Cisadane. Begitulah, saya mengenal Anin sebagai penulis puisi. Kami sempat ngobrol tentang dunia penulisan dan keisengannya menulis puisi di Balai Budaya Tangerang, sekretariat even Tangerang Art Festival. Seingat saya Anin seorang pengobrol yang pasif. Dia lebih tekun menyimak. Sejak itu saya tak pernah mengontaknya.

Beberapa tahun sesudahnya saya menemukan noveletnya di majalah Femina, ‘Mengarak Purnama’. Noveletnya ini pun berseting Papua dan menyuarakan persoalan yang sama: ketidakadilan jender. Hanya saja tokohnya seorang perempuan urban metropolitan peranakan bernama Virlie yang humanis namun terasingkan dari tradisi keluarganya yang berorientasi bisnis. Pihak keluarga tak ada yang mendukungnya saat ia berangkat ke Papua untuk misi kemanusiaan. Alasannya, selain karena Virlie seorang perempuan, misi kemanusiaan jelas tidak memberi keuntungan materi.

Dari beberapa karya Anin yang saya baca, jelas sekali Anin seorang feminis dengan pemihakan yang jelas. Terima kasih, Anin. 

Comments