Ibu Merokok


gambar diambil dari deviantart.com
Cerpen ini awalnya disiarkan Tabloid Cempaka edisi 05 (28 April-3 Mei 2013) 
Yang kukhawatiranku ternyata betul-betul terjadi: Ibu mencoba-coba merokok!  Ini mungkin salah kami juga. Tapi apa yang harus kulakukan sekarang apabila ibu merasa lebih bahagia dengan merokok?

Semuanya berawal dari keputusan kami mengabulkan keinginan ibu tinggal di panti.

“Ibu kesepian tinggal di rumah kalian, Sri,” ucap ibu saat pertama mengungkapkan niatnya tinggal di panti. Aku mencoba mengerti mengapa ibu merasa demikian. Meski di rumahku atau di rumah anak-anaknya yang lain, ada cucu-cucu yang siap menghiburnya. Ibu butuh teman berbagi yang seimbang. Barangkali kami, anak-anak dan cucunya sudah tidak lagi memahami dunianya yang memang berbeda dengan dunia kami. Meski usia ibu belum terlalu tua, baru 65. Ibu menempati kamar A5 bersama seorang penghuni lainnya yang bernama Bu Henda.

“Maaf ya, bu, kami sibuk terus sehingga tidak punya waktu banyak menemani ibu,” ujarku waktu itu.

“Ibu mengerti kesibukan kalian, Sri. Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu dimaafkan. Hidup di kota memang menuntut begitu.” kata ibu. Ah ibu, kau memang selalu mau memahami kami. Tak pernah lelah memahami kami.

“Ibu hanya kepingin bergaul dengan teman-teman sebaya. Boleh ya, Sri,” pinta ibu. Aku tidak segera menjawab permintaan ibu. Terbayang perjuangan ibu melahirkan, mendidik, dan membesarkan kami hingga kami dewasa, menikah dan bertebaran keluar dari rumah menjalani hidup kami masing-masing. Ibu tak pernah mengeluh, apalagi menuntut anak-anaknya membalas budi. Ah, lagi pula sanggupkah kami membalas budi seorang ibu?

“Bu, sebetulnya kami keberatan menuruti keinginan ibu tinggal di panti. Rasanya kami seperti menelantarkan dan tak tahu balas budi,” ujarku hati-hati.

“Sri, ibu tidak pernah mengharap balas budi apa pun dari kalian. Semua yang ibu lakukan selama ini semata kewajiban seperti juga kewajiban ibu-ibu yang lain. Kamu juga punya kewajiban yang sama, mendidik dan membekali anak-anakmu sampai mereka dewasa dan tahu kewajiban mereka mengurus anak-anak mereka kelak. Begitulah memang hukum dunia ini,” papar ibu dengan suara lembut. Betapa terharu aku mendengar kata-kata ibu. Begitu bijak dan penuh makna. Sungguh beruntung kami memiliki ibu seperti dia.

“Bagaimana, Sri, boleh ya?”

Setelah kami berembuk, akhirnya dengan hati yang berat kami tak bisa lagi menahan keinginan ibu yang begitu kuat untuk tinggal di panti. Kami mengantar ibu ke panti. Menitipkan pada pimpinan panti supaya menjaga ibu sebaik-baiknya. Seharian kami di panti, untuk mengurus administrasi juga melihat-lihat kamar yang akan ditempati ibu. Berkenalan dengan para penghuni panti yang akan menjadi teman ibu menghabiskan hari-harinya ke depan. Ketika semua sudah beres kami masih merasa berat meninggalkan ibu. Seakan kami tidak akan bertemu lagi dengan ibu. Aku tidak bisa menyembunyikan kesedihanku. Air mataku meleleh.

“Nggak usah menangis begitu, Sri. Ibu akan baik-baik saja.”

“Ibu, kalau tidak kerasan dan ingin kembali ke rumah kami jangan sungkan-sungkan telepon kami. Saban minggu kami akan menjenguk ibu di sini secara bergantian,” ujar Mbak Indri, seraya memeluk ibu. Satu persatu kami memeluk ibu. Mbak Retno, Mas Teguh. Kurasakan betapa ringkih tubuh ibu.

“Kalau kalian sibuk, jangan juga memaksakan diri menjenguk ibu. Ibu akan baik-baik saja,” ujar ibu, “lewat telepon sudah cukup.”

Ternyata benar kata ibu. Kami terlalu sibuk dan harus sekuat daya  memaksakan diri menjenguk ibu di  panti.  Saat ibu tinggal secara bergiliran di rumah kami, kami pun sangat sedikit memiliki waktu buat ibu kecuali hari libur. Kadang hari libur pun kami habiskan untuk istirahat, mengumpulkan tenaga untuk memulai lagi kesibukan esoknya. Begitulah sepanjang tahun.

Sebetulnya sudah lama ibu menginginkan tinggal di panti, setahun sejak ayah kami meninggal, ibu mengungkapkan keinginannya tersebut. “Tinggal sendirian di rumah ini hanya bikin ibu selalu teringat ayahmu, Sri,” kata ibu waktu itu.   Kemudian ibu setuju dengan saran kami supaya tinggal secara bergiliran di rumah kami. “Sekarang ibu tidak akan selalu teringat ayah. Kami akan mengalihkan perhatian ibu pada ayah, kami akan selalu bergantian menemani ibu,” ucap kami, yang kami tahu kemudian ternyata tidak bisa membuktikan janji kami. Berhari-hari kadang ibu hanya bercakap-cakap dengan pembantu kami yang usianya masih muda, yang tentu juga tidak bisa memahami dunia ibu.

Hanya kurang lebih selama 4 tahun ibu secara begiliran tinggal di rumah kami yang semuanya terletak di pinggiran Jakarta.

“Ibu, maafkan kami. Kami tidak sempat menjenguk ibu minggu ini,” kataku mengabari ibu lewat telepon.

“Tidak apa-apa, Sri. Ibu kan sudah bilang kalau kalian tidak sempat tidak perlu memaksakan diri. Salam saja buat cucu-cucu ibu. Semoga kalian sehat-sehat saja,” ujar ibu di ujung telepon. Di telingaku suara ibu terdengar lembut dan pasrah.
***

Tanpa terasa enam bulan sudah ibu tinggal di panti. Dan seingatku baru sekali aku sempat menjenguknya seusai mengantarnya tinggal di sana. Rasa kangen pada ibu terkikis oleh kesibukan kami yang seakan tak pernah habis. Selama ini hanya lewat telepon kami menanyakan kabar ibu, itu pun selalu tergesa-gesa. Bahkan ketika obrolan belum selesai aku harus buru-buru menghentikan obrolan dengan pelbagai cara sehalus mungkin. Kadang aku mengabaikan telepon dari ibu lantaran dikejar kesibukan pekerjaan. Ketika aku punya waktu untuk menelpon balik, ibu sudah tidur.

“Kamu menelpon ibu semalam, Sri?”

“Ya, bu. Ibu baik-baik saja kan?”

“Ibu baik-baik saja, Sri. Kemarin ibu nelpon kamu mau cerita teman baru ibu di panti,” kata ibu.

“Aku ingin mendengarnya. Tapi sekarang aku harus meeting dulu, bu. Bagaimana kalau nanti malam?” kataku seraya menahan perasaan bersalah.

“Ya sudah. Nggak apa-apa, Sri.” suara tanpa keluhan sama sekali. Tapi justru membuatku merasa makin bersalah. Aku bersyukur bila ibu betul-betul menemukan teman baru yang membuatnya betah di panti.

Ibu bercerita, bu Henda, teman sekamarnya, memiliki kegemaran yang sama dengan ibu: gemar menanam bunga dan merawat kucing. “Sekarang kami punya lima anak kucing,” cerita ibu. Aku jadi ingat, kegemaran ibu pada kucing harus dilupakan saat ibu tinggal di rumah kami. Entahlah, hampir semua cucu ibu takut dengan hewan satu itu. Tetapi dadaku berdesir manakala ibu juga bercerita, bu Henda suka  mengobrol berjam-jam sampai ibu lupa salat. Yang lebih mengkhawatirkan lagi Bu Henda mengajari ibu merokok. Dia sering mengajak ibu keluar dari panti, ngopi dan makan bubur kacang di warung tak jauh dari panti.

“Lalu ibu ikut-ikutan tidak salat dan merokok?” tanyaku menyelidik, “kalau bisa janganlah ibu dekat-dekat dengan Bu Henda apalagi ikut-ikutan merokok dan lalai mengerjakan salat,” tanpa sadar aku menukas.

“Dia satu-satunya teman ibu di panti yang enak diajak ngobrol, Sri,” ujar ibu seperti sengaja mengalihkan pertanyaanku. “ibu senang sekali punya teman seperti bu Henda.”

“Tapi ibu nggak ikut-ikutan merokok kan? Seharusnya ibu mengajaknya salat dan berhenti merokok.” kejarku, khawatir.

“Dia sudah lima tahun di panti. Dia tidak punya anak, Sri. Kamu mau dengar suaranya?” Takut mengecewakan ibu, aku mengiyakan.

“Nak, Sri. Ibumu ini sekarang sudah pintar merokok seperti saya, dan saya diajari salat oleh ibumu,” suara bu Henda disusul tawa. Seketika perasaanku bergemuruh. Ibu merokok? Astaga. Aku tidak bisa membayangkan benarkah ibu merokok? Ibu yang selama ini sangat membenci rokok, bahkan pada ayah waktu ia masih hidup, kini merokok? Sudah lupakah ibu bahwa salah satu penyebab kematian ayah karena paru-parunya bolong oleh asap rokok yang jahat? Mengenang ayah, aku jadi terbayang betapa bedanya perilaku ibu dan ayah dalam soal makanan. Ayah sangat suka makan apa saja tanpa pantangan. Ngopi dan merokok ayah paling jago. Kegamaran ayah yang terakhir ini yang sering membuat mereka berdebat.

Sebaliknya, ibu sangat hati-hati. Ibu sangat menghindari makanan bersantan, sambal dan yang diolah dengan minyak. Ibu juga menjauhkan diri dari makanan kaleng, dan segala macam makanan kemasan dari supermarket. Ibu hanya minum putih. Gaya hidup sehat ibu ditularkan kepada kami. Terutama aku yang sangat fanatik menjadi vegetarian.

Tapi aku tidak tahu harus ngomong apa bila sekarang ibu menjadi perokok? Tiba-tiba aku membenci bu Henda yang diceritakan ibu sebagai teman paling baik di panti.

“Bu Henda yang membuat ibu betah di panti, Sri. Dia yang membuat ibu merasa muda lagi,” ujar ibu sewaktu aku meminta ibu menjauhi bu Henda. Aku sangat menyesal telah mengizinkan ibu tinggal di panti.

Suatu hari aku memaksakan diri meluangkan waktu menjenguk ibu tanpa mengabari ibu terlebih dulu. Ternyata benar dugaanku, sesampai di sana ibu tak kudapati. Menurut penghuni kamar sebelah ibu pergi dengan Bu Henda entah ke mana. Aku langsung mencari warung bubur kacang seperti yang ibu ceritakan melalui telepon.

Tidak sulit bagiku menemukan warung itu. Sesampai di sana kekhawatiranku terbukti. Kulihat ibu dengan seorang teman sebayanya yang pasti bernama bu Henda tengah asyik menikmati rokok sambil ngopi.
***

“Ibu, aku tak suka ibu merokok,” ujarku begitu ibu kembali ke kamarnya. Ibu diam saja. Tampaknya ibu tidak suka aku melarang dia merokok. “Hanya sesekali saja, Sri,” ujar ibu menghiba. Aku tak kuasa berkata apa-apa lagi untuk meminta ibu tidak merokok.

“Nak Sri, kamu bawa rokok untuk kami?” ujar bu Henda tiba-tiba muncul.

“Bu Henda, saya senang ibu berteman dengan ibu saya. Tapi mohon jangan ajari ibu saya merokok,”

“Nak Sri, apa salahnya merokok? Lagi pula kami melakukannya di luar. Bukan di panti ini. Ibumu malah mengajak saya shalat. Dan saya mau shalat.” ujar Bu Henda.

“Tidak ada yang salah, bu Henda. Tapi saya tidak suka ibu saya merokok gara-gara bu Henda,”

“Nak Sri belum tahu nikmatnya merokok,” ujar bu Henda, bikin aku jengkel. “setiap orang memang punya kesukaan masing-masing. Tidak boleh saling melarang selama tidak merugikan orang lain, Nak Sri. Nak Sri gemar pada kesibukan bekerja, ya kan?”

Aku pulang dengan perasaan kehilangan. Sangat kehilangan akan seorang ibu.

“Ya sudahlah, Sri. Tak apa-apalah ibu merokok kalau itu membuat ibu senang,” ujar Mbak Indri saat kuadukan tentang kegemaran baru ibu. “Setiap orang punya kesukaan sendiri-sendiri.”

“Bukan cuma itu, Mbak. Lama-lama ibu ikut-ikutan tidak shalat. Biar aku mau keluar saja dari pekerjaanku dan membawa ibu kembali ke rumah!”

Kebon Sirih, 2013

Comments