Perihal Ketakutan Manusia



Model diperani oleh Sigit Muhammad

Kamu takut ketinggalan informasi. Kamu takut tidak kebagian tiket kereta untuk pulang ke desa. Kamu takut tidak punya duit. Kamu takut tipes menyerangmu lagi. Kamu takut ketemu ular. Kamu takut, kamu takut...entah berapa banyak lagi situasi yang menumbuhkan ketakutanmu  yang mungkin saja sama atau berbeda sama sekali dengan ketakutan kawanmu. Sesuatu yang menjadi ketakutan seseorang bisa jadi merupakan kesenangan orang lain. Juga sebaliknya, sesuatu yang menyenangkan bagi orang lain bisa jadi ketakutan kita yang paling abadi.    

Setiap orang mempunyai ketakutan-ketakutannya sendiri. Ini kesimpulan Guru Isa, tokoh sentral novel “Jalan Tak Ada Ujung” Mochtar Lubis. Kesimpulan yang kemudian mengantarkan Guru Isa kepada gerbang keikhlasan dan keberanian menghadapi hidupnya. Novel tipis bersampul merah menyala ini mengungkit perihal ketakutan manusia.

Semula Guru Isa adalah orang yang dikutuk ketakutan-ketakutannya sendiri. Perasaan takut mengejarnya hingga meluluhlantakan jiwa dan hidupnya. Ia takut menghadapi kekerasan masa perang. Tapi ia juga takut untuk mengakuinya, takut dituduh tidak patriotis, takut dituding pengecut, dan sederet ketakutan lainnya. Ia bergabung dengan Hazil, Rakhmat dan para pemuda gerilyawan lainnya untuk berperang melawan tentara Belanda.

Bersama ketakutan-ketakutannya Guru Isa menjalani hidupnya yang serba darurat karena masa perang yang memporandakan segalanya. Jantungnya senantiasa berdentam-dentam menahan ketakutan sehingga seluruh gerak geriknya menjadi kikuk dan kaku. Ketakutan demi ketakutan yang bertumpuk bahkan membuat ia kehilangan gairah terhadap istrinya, Fatimah. Sehingga perempuan itu berselingkuh dengan Hazil untuk mendapatkan kenikmatan tubuh yang tidak pernah didapatkannya dari Guru Isa.

Bahkan karena rasa takut pula, Guru Isa yang mencium perselingkuhan itu tetap memendamnya lantaran tak berani menghadapi kenyataan perselingkuhan itu, takut terjadi ketegangan antara dirinya dengan Fatimah dan Hazil. Ia juga takut ketahuan ketidakberdayaannya sebagai laki-laki jika ia mengusut perselingkuhan istrinya dengan pemuda pejuang.

Ketakutan yang merajam Guru Isa berlapis-lapis. Ia harus menutup satu pintu ketakutan dengan memasuki pintu ketakutan berikutnya. Celakanya, pintu-pintu ketakutan sebelumnya tak pernah benar-benar tertutup. Jadilah Guru Isa bagai digulung gelombang ketakutan yang mengurungnya dalam sebuah ruangan yang berada di ambang kewarasan.

Persoalan menyangkut ketakutan manusia yang diungkit novel terbitan 1952 rasanya tak pernah usang. Takut adalah gejala manusiawi. Ia merupakan respons psikologi  terhadap kondisi yang mengancam kenyamanan. Ketakutan ini yang kemudian mendorong tindakan seseorang, baik untuk mengatasi ketakutan atau menghindarinya sama sekali. Cobalah periksa, bukankah apa pun yang kita lakukan sesungguhnya digerakkan oleh perasaaan takut itu? Orang menikah karena takut kesepian. Orang bekerja karena takut tidak punya duit. Orang belajar karena takut bodoh. Orang minum obat karena takut sakit. Orang membelanjakan duitnya secara gila-gilaan karena takut dicap pelit, (eh ada nggak yang seperti ini?)     

Orang harus melawan ketakutan berikutnya demi mengatasi ketakutan sebelumnya. Itulah yang mestinya terjadi. Namun jika ketakutan berlebihan dengan alasan yang tidak masuk akal, yang terjadi adalah ketidakwarasan seperti yang hampir dialami Guru Isa.  

Perihal ketakutan manusia bukan satu-satunya hal menarik yang membuat saya menuliskan hasil pembacaan saya atas novel “Jalan Tak Ada Ujung” ini. Hal lainnya adalah setting tempat novel, yakni Kebon Sirih, Kwitang, Senen, Jalan Jaksa. Nama-nama daerah di pusat Jakarta yang sejak tiga tahun terakhir ini menjadi lingkungan tempat saya tinggal dan  bekerja.

Anda tahu, ini daerah yang sangat padat. Gedung perkantoran aneka macam perusahaan, mulai dari kantor perusahaan rekaman, surat kabar, televisi, sampai pengiriman barang dan depot makanan. Di daerah yang dilalui jalur kereta api ini terdapat juga stasiun kereta, sekolah kecantikan, dan tentu saja hotel, kafe-kafe, restoran, pasar, minimarket, dan hal-hal lain yang mungkin saja tidak pernah terpikirkan oleh Guru Isa dan tokoh-tokoh yang hidup dalam novel ini pada zaman perang kemerdekaan.   

Sambil makan nasi goreng depan sekolah kecantikan di Jalan Wahid Hasyim, Kebon Sirih, saya iseng membayangkan tiba-tiba Guru Isa dan Fatimah turun dari taksi dan masuk ke sebuah salon kecantikan.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka