Pria Rempah

Model diperani oleh Sinta


Cerpen ini awalnya disiarkan Majalah Femina edisi 18 (4-10 Mei 2013)
Tatiana menatap lorong pasar di hadapannya. Menghirup baik-baik aroma bacin ikan asin yang mendesak lambungnya. Tatiana telah mengganti sepatunya dengan sandal jepit karet murahan yang ia pinjam dari Onah, asisten rumah tangganya yang setia. Memangkas rambutnya jadi sebahu, masih ditambah pula topi yang menenggelamkan separuh kepalanya. Tadinya Tatiana mau menutup hidung dan mulutnya dengan masker atau slayer. Ia sendiri yang akhirnya membatalkan ide yang dianggapnya jelek itu. Terlalu mengundang perhatian, sergahnya. Kini aroma bacin ikan asin itu terus menyodok-nyodok lambungnya dengan sengit.

Untuk tidak mengundang kecurigaan sekaligus mengendalikan perasaannya Tatiana menahan diri untuk celingukan secara berlebihan meskipun ini makin mempersulit usahanya mencari jejak pria itu. Tatiana mulai mengayunkan langkahnya pendek-pendek menghindari tabrakan dengan orang-orang yang hilir mudik di lorong sempit itu. Kepalanya terus digeleng-gelengkan dengan sedikit senyum yang dipaksakan kepada para pedagang yang berteriak menawarkan ikan asin dagangannya.

Sampai di ujung lorong Tatiana tak juga mendapatkan orang yang dicarinya. Di depannya kini dilihatnya lorong bercabang dua, ke kiri dan ke kanan. Dengan cepat Tatiana mengambil yang kanan, lorong rempah dan sayur mayur. Ia terus berjalan seperti berjingkat, menghindari becek. Kini  aroma rempah bercampur sayuran busuk menerobos hidungnya. Di lorong inilah kemarin pria itu menghilang. Pelan-pelan Tatiana memutar kepalanya mengamati setiap pedagang rempah. 

Kakinya yang putih mulus menginjak tomat busuk yang jatuh menggelinding tepat di depannya. Pecahan tomat membuatnya hampir terpeleset dan memekik. Tatiana menoleh kepada pedagang sayuran. Matanya langsung bersirobok dengan mata si pedagang. “Cari apa Mbak? Tomat? Ayo, bagus-bagus, masih segar,” sambar si pedagang. Butiran buah tomat terlihat menggunung di keranjang plastik.

Tatiana hanya tersenyum, menggeleng, dan terus melangkah, makin ke dalam. Sinar matahari yang menerobos terpal ditambah sesaknya sayuran serta rempah yang digelar serampangan, ditambah orang-orang lalu membuat lorong makin terasa pengap. Keringat yang deras merembes dari pori kulitnya membuatnya makin kegerahan. Tatiana mulai berpikir untuk berbalik dan mengakhiri petualangan gila yang dilakukannya pagi ini. Lain kali kuteruskan, bisiknya. Demi mengurangi perasaan kikuknya Tatiana pura-pura berhenti di depan pedagang rempah, memilih bawang putih dan lengkuas. Lantas membelinya masing-masing sekilo. Sebuah tindakan yang kalau Onah tahu pasti bakal cekikikan.

Di mulut lorong, Tatiana berdiri beberapa lama. Sambil menunggu taksi yang lewat ia kembali berharap menemukan pria itu.  Kandas. Setelah menutup pintu taksi, Tatiana melihat pria yang dicarinya memanggul karung, masuk ke lorong Tatiana keluar tadi. Tapi Tatiana ragu meminta sopir taksi berhenti. Tatiana khawatir kepergok Onah. Meskipun ia sudah menyuruh Onah tidak perlu belanja, tapi siapa tahu Onah tetap ke pasar untuk keperluan lain. Apalagi Onah mengaku memang senang ke pasar kalau sedang bosan lantaran pekerjaan rumah sudah kelar semua pada pukul sembilan. 

Selain itu akal sehatnya mendadak mencegah dan menganggap upayanya lebih mirip ketidakwarasan yang memalukan. Coba pikir, ia adalah wanita mandiri dengan karir cemerlang di kantor. Sementara pria itu seorang pedagang rempah di emperan lorong pasar yang mungkin sekolah saja tidak pernah.    

Cinta memang aneh, hibur Tatiana untuk diri sendiri. Sepanjang perjalanan yang dicegat kemacetan berlarat-larat itu ia mencoba mengingat kembali kali pertama bersinggungan dengan pria itu. Mungkin sebulan lalu saat Tatiana secara iseng mencari soto betawi di pasar tradisional tak jauh dari lintasan kereta api, sekitar tiga kilo dari kompleks perumahan tempatnya tinggal. Tatiana merasa bosan dengan segala menu makanan restoran di mal mal. Muak dengan tampang orang-orang kaya yang untuk minum secangkir kopi saja bisa menghabiskan duit ratusan ribu. Tatiana mendapat informasi mengenai soto betawi itu dari sebuah rubrik kuliner di sebuah harian.

“Sebelum pulang saya bikinkan karedok ya, Bu,” kata Onah saat Tatiana mengeluhkan kebosanannya pada menu makanan restoran di mal-mal. Boleh jadi keluhannya itu sebenarnya ditujukan pada kekhawatirannya jika Onah terlalu lama di kampung. Tinggal sendirian di rumah sebesar ini bagi wanita lajang yang tidak gandrung kongkow di kafe seperti dirinya jelas bukan sesuatu yang menyenangkan.

“Tidak usah, Onah. Kereta kamu kan jam sepuluh. Telat nanti, ” sergah Tatiana.

“Lah katanya bosan makan pizza.”

“Biar nanti aku cari soto betawi di pasar. Kamu jangan lama-lama di kampung.”

“Sebentar, Bu. Paling seminggu.”

“Seminggu kok sebentar,” protesnya, “Pokoknya sesudah ijab kabul kakak kamu kelar, kamu segera kembali sesuai tiket yang sudah saya belikan.”

Sepulang mengantar Onah ke stasiun, Tatiana mencari kedai soto betawi yang dimaksud rubrik kuliner itu. Ternyata tidak terlalu sulit menemukannya. Kedai soto betawi ini rupanya sangat terkenal. Seluruh meja di ruangan sempit itu terisi penuh. Sementara yang antre berdiri tidak kalah panjang. Tatiana jadi makin penasaran seenak apa sih soto betawi yang gerobaknya saja terlihat kusam begitu.

Pada saat ia berdiri mengantre itulah tiba-tiba karung lelaki itu menyenggol sikunya, dan menjatuhkan dompet yang dikempitnya. Ia hampir saja berteriak seandainya pria itu tidak buru-buru menurunkan karung dan memohon maaf serta mengambilkan dompetnya. Hanya sebentar, tak lebih dari setengah menit matanya bersirobok dengan mata pria itu, melihat senyum minta pemaklumannya. Namun semua dengan segala detilnya terekam baik dalam kepala Tatiana. Sampai di rumah tatap mata dan senyum pria yang mirip George Clooney kala muda dalam versi Melayu itu bagai tergelar terus di pelupuk mata Tatiana. Soto betawi dengan kuahnya yang kental dan terlihat nikmat itu kehilangan daya tariknya.

Tatiana mengetahui pria  itu pedagang rempah di emperan lorong pasar seminggu kemudian setelah mencari informasi dengan pura-pura kembali membeli soto betawi yang rasanya ternyata tidak senikmat digambarkan rubrik kuliner. Tentu saja upaya itu tidak gampang meski bukan hal sulit-sulit amat. Sehari setelah pertemuan pertama, Tatiana yang merasa dihantui senyum dan tatap mata pria itu, kembali ke kedai soto betawi itu.  Kali ini Tatiana dapat meja kosong. Sambil menyantap soto secara pelahan karena memang sudah tidak mengundang seleranya, matanya mengawasi pengunjung kedai. Sampai kali ke tiga Tatiana tidak melihat pria itu datang ke kedai soto untuk mengantar jahe dan daun salam kepada pemilik kedai soto yang rupanya salah satu pelanggannya.

Pria itu bernama Somad, sekali seminggu memasok daun salam dan jahe serta sejumlah rempah lainnya ke kedai soto betawi. Itulah informasi penting yang berhasil dikoreknya dari istri pemilik kedai soto. Sambil menyuapkan kuah soto, Tatiana mencoba meneliti perasaanya sendiri. Sungguhkah ia jatuh cinta? Tatap mata dan senyum minta pemakluman itu mengapa begitu mengganggu hatinya? Apa coba istimewanya dibanding sekian tatap mata dan senyum pria yang bisa dengan mudah ia pikat? Kecantikan dan prestasi kerja yang ia miliki sekarang dapat dengan mudah ia manfaatkan untuk menggaet pria mana pun yang ia suka. Hanya saja, sampai sekarang ia belum menemukan pria yang mampu menggugah seleranya. Baginya, semua pria yang mencoba memikat dirinya hanya menjadikan cinta sebagai alasan untuk tujuan-tujuan lain yang tersembunyi. 

Tapi tatap mata dan senyum Somad ini sungguh berbeda. Begitu memukau, menyentuh bagian terdalam dari perasaannya. Apakah karena tatap mata itu seperti menyiratkan keluguan dan ketidakberdayaan?   

Maka pada hari Minggu pagi Tatiana bersiap kembali ke kedai soto. Onah yang baru semalam kembali dari kampung heran melihat majikannya yang selama ini emoh berurusan dengan perkara masak memasak, mendadak mau ikut belanja bakal sayuran ke pasar tradisional pula.

“Ayo buruan. Malah bengong, kamu.”

“Tumben banget sih, Bu?”

“Sudah, kamu jangan banyak komentar,” sahutnya sambil melirik Onah. Ia membaca kecurigaan di wajah Onah.

Di depan pasar Tatiana menyuruh Onah masuk sendirian ke pasar. “Nanti kalau sudah selesai kita ketemu di sini,” ujarnya penuh nada perintah disertai tatapan mata menyuruh Onah tidak perlu bertanya lagi. Setelah melihat punggung Onah betul-betul lenyap dalam keriuhan pasar, sesuai rencana, Tatiana bergegas ke arah kedai soto betawi di pojok kanan.  Tapi, rupanya kedatangannya terlambat. Somad sudah mengantar rempah dan sayuran. Tatiana hanya dapat melihat punggungnya berjalan menjauh. Sambil pura-pura dompetnya tertinggal Tatiana mengejar Somad yang berjalan dengan cepat masuk ke dalam lorong pasar. Tatiana bertekad untuk terus membuntutinya, namun aroma bacin ikan asin membuat kepalanyanya pusing dan langkahnya limbung.
**

Tugas keluar kota kali ini Tatiana jalani tidak dengan hati yang penuh. Ia dilanda gelisah yang baru kali ini dialaminya. Beberapa kali sekretaris pribadinya yang selalu mendampinginya selama bertugas berdeham lantaran melihatnya melamun.

“Klien sudah tiba di hotel, Bu. Mereka akan jalan-jalan dulu ke pantai,” cetus si sekretaris mengingatkannya sekaligus mencairkan kebekuan yang dirasakannya sejak berangkat dari Jakarta pagi tadi.

“Oke,” sahutnya malas.

Tatiana kembali tenggelam dalam pikirannya. Tatap mata dan senyum Somad mengeram terus di kepalanya. Akal sehatnya berkata bahwa Somad mungkin saja seorang suami yang berbahagia. Seorang ayah dari anak-anak yang lucu. Tapi entah mengapa ia tak mengindahkan segala kemungkinan itu. Tatiana tiba-tiba membayangkan menikah dengan Somad. Bukan lantaran usianya hampir menginjak 35. Sebab baginya, tidak ada seorang pun yang boleh mendiktenya untuk segera menikah atau tidak hanya karena perkara usia.  Ia ingin segera buru-buru pulang dan meminta bantuan Onah menggaet Somad.

Tatiana memutuskan untuk pulang sebelum acara selesai.   

Namun, ketika Tatiana benar-benar pulang dan tiba di rumah, ia merasa menyesal dan ingin pergi sejauh-jauhnya. Perasaannya begitu terpukul. Di beranda rumahnya Tatiana melihat Onah tengah berbincang mesra sekali dengan pria rempah itu.  Suara tawa riang mereka seakan merontokkan ketahanan Tatiana.

Gondangdia, 30 November 2012     

Comments