Puisi, Secuil Cinta yang Terlupa



gambar diambil dari deviantart.com

Kejatuhan

hari ini aku ingin berjatuhan
menghabiskan kesepian pada lantai yang bising,
kemesraan cahaya lampu yang asing
dan gelora asap yang jahat tapi memikat
kumanjakan angan-angan dan mimpiku yang pendek
kekasihku telah jadi patung paling anggun
bagai malaikat

kebisuanmu hampir saja membunuhku
membuatku buta dan terperosok dalam
bergelas-gelas anggur, berlembar-lembar
catatan mantra yang tak beres kupikul

mungkin kau akan bertahan di sana
di bawah redup lampu yang menyakitimu
memelihara buku-buku yang tak bisa
menyelamatkanmu

aku sudah memilih hari ini sebagai waktu terakhirku
mengikuti lambaian gaunmu yang terlalu riuh
buat kukejar


Pohon Kasih Sayang

Jika aku membencimu
akan kutebang pohon ini
burung-burung akan pergi
membawa kilau matamu yang bersih
dan aku terpanggang terik matahari sendirian
menyulam keterasingan di padang gurun
tanpa mantra tanpa bahasa
aku menghitung jejak kakimu menjauh
menyerap suaramu yang jatuh
kau adalah pohonku
pohon segala pohon
teduh yang kuperlukan
untuk menawar retak bumi kita

di atas kepalaku hanya awan
calon hujan yang kusayang

jika aku membencimu
aku akan terkubur sendirian
tanpa rindang yang menyelamatkanku
karena pohon telah tertebang

jadi tolong sayangi aku
seniman kesepian yang tak pernah membencimu
tapi justru mencintaimu
datang padaku bersama kerumun
burung-burung
pada suatu senja yang ranum

Dua buah puisi saya di atas disiarkan Riau Pos, Hari Minggu pekan pertama Mei lalu. Setelah hampir 10 tahun, inilah untuk pertama kalinya puisi yang saya tulis disiarkan media. Ada tujuh buah  judul puisi saya yang ditayangkan media terbesar di Riau tersebut yang saya ketahui melalui versi online-nya. Saya tak mendapatkan korannya. Saya hanya mendapatkan info pemuatannya melalui kawan di jejaring sosial. Kawan saya di Riau mengaku kehabisan ketika saya mintai tolong membelikannya untuk saya. Kalau tidak salah menghitung, saya mengirimkan tidak kurang dari sepuluh  puisi yang saya tulis hampir lima tahun lalu. Saya hanya merevisinya sedikit sebelum mengirimkannya ke Marhalim Zaini, penjaga lembar puisi Riau Pos, seminggu setelah kunjungan saya ke Pekanbaru pertengahan Februari lalu.

Kendari Pos pada minggu kedua Mei menayangkan puisi yang sama. Saya tidak pernah mengirimkan puisi ini  ke media yang terbit di Ibu Kota Sulawesi Tenggara itu. Rupanya Kendari Pos mengambilnya begitu saja dari Riau Pos. Begitu rupanya yang berlaku di media grup Jawa Pos itu.

Sepuluh puisi yang saya kirim merupakan puisi terakhir yang saya tulis. Saya lebih banyak menulis cerpen, resensi, catatan harian, dan advertorial. Yang terakhir ini jauh lebih sering lantaran terkait pekerjaan saya di sebuah koran.  Menulis puisi hampir saya lupakan. Padahal, genre sastra satu ini yang pertama saya hasilkan saat pertama kali menyukai bidang penulisan, yakni masa saya sekolah di  tsanawiyah. Waktu itu dalam kurun hampir sepuluh tahun saya secara rutin menghasilkan puisi, sekurangnya satu sampai tiga puisi lahir dari tangan saya saban minggu.

Dulu, bahkan sampai saat ini saya tidak betul-betul dapat merumuskan kenapa saya menggemari kegiatan menulis puisi. Mungkin semacam kegemaran main dan nonton sepak bola, bulu tangkis, dan sejenis kegiatan olah raga lainnya yang tidak saya gandrungi kecuali ikut-ikutan supaya tidak dikucilkan kawan sebaya. Bagi saya, menulis puisi atau karya sastra yang lain memang tidak lebih dari mainan yang mengasyikkan. Sama seperti orang lain memiliki mainan lainnya seperti mainan gadget, sepeda motor, dan mainan-mainan lainnya.  Dan seperti jenis mainan umumnya, ia memberikan kepuasan secara psikis, dan saya rasa itu sudah cukup. Kalau kemudian mendapatkan pula honor dari kegiatan mengasyikkan itu, bagi saya risiko belaka. Risiko mendapat bonus.

  

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka