Posts

Showing posts from June, 2013

Kejarlah Cita-Citamu Setinggi Tanah

Image
“Cita-cita itu penting, tapi bukan segalanya.”
Itu kesimpulan Agus. Bocah kelas lima sekolah dasar di sebuah kampung di kaki pegunungan Merapi, Muntilan, Jawa Tengah. Kesimpulan tersebut muncul gara-gara perjuangan Agus demi mewujudkan cita-citanya makan di restoran padang membuatnya meninggalkan kawan-kawan dan melupakan saat-saat gembira bermain bersama mereka.
Agus memaksa diri bekerja keras mengumpulkan uang. Mulai dari mencari keong di sawah untuk dijual, mengantar ayam potong pesanan pemilik restoran padang, sampai menahan keinginan untuk jajan dan beli layang-layang. Cita-cita yang sederhana itu ternyata begitu merepotkan Agus.

Di Mana Batas Pahlawan dan Bajingan?

Image
Banyak sastrawan Rusia yang karya-karyanya cukup dikenal di Indonesia. Anton Chekhov, Maxim Gorky, Leo Tolstoy, Fyodor Dostoevsky, Alexander Solzhenitsyn. Nama-nama ini membawa sastra Rusia ke panggung sastra dunia. Salah satu ciri karya-karya prosa mereka adalah realisme sosialis. Umumnya kondisi sosial masa pergolakan politik, Revolusi Oktober 1917.Anton Chekhov merupakan favorite saya.Ia pemotret ulung hal remeh temeh keseharian menjadi kisah yang menggugah.“Varka Hanya Ingin Tidur” adalah salah satu cerpen Chekhovyang melekat terus di kepala saya.
Ini kisah tentang bocah perempuan yang menjadi pembantu di rumah majikan pemiliki toko sepatu. Selain membantu di toko dan membersihkan rumah, tugas Varka adalah mengasuh bayi. Majikannya yang kejam membebani Varka dengan begitu banyak tugas seakan tidak ada waktu bagi Varka beristirahat. Suatu malam, bayi majikannya rewel dan nangis terus sehingga Varka sama sekali tidak bisa tidur. Saking jengkelnya ia membekap bayi majikannya sampai ma…

Writing Clinic, Art Exhibition

Image
Pada kolom pertanyaan apa alasan saya ikut Writing Clinic yang diadakan Majalah Femina, saya menulis: “untuk memperkaya teknik menulis.”Tentu saja alasan tersebut saya tulis secara sungguh-sungguh. Karena kegiatan menulis memang satu proses terus menerus sebagaimana kegiatan lain di dunia ini. Tetapi bukan semata alasan tersebut yang mendorong kepergian saya mengikuti acara yang digelar Sabtu (1/6) lalu di kantor redaksi majalah wanita paling populer itu. Saya ingin bertemu orang-orang yang punya minat sama dengan saya. Salah satunya dengan kawan perempuan tempat saya bergosip tentang banyak hal itu. Dalam undangan, peserta diminta mengenakan jeans and blue sebagai dress code-nya (baru kali ini workshop penulisan ada dress code-nya, ah namanya juga majalah Femina). Acara dimulai pukul 08.30, tapi sekitar pukul 07.00 kawan perempuan saya itu mengabari bahwa dia sudah sampai di Kuningan.

In Solitude

Image
Cerpen ini pernah ditayangkan Radar Surabaya, Minggu 2 Juni 2013 Aku hıdup sendırıan dı rumah dı tepı perkuburan tenggara desa. Rumahku berdinding anyaman bambu itu satu-satunya yang berdırı dı sana. Halaman depan menghadap jalan setapak dan persawahan, sedangkan sampıng kırı dan kanan perkuburan adalah perkebunan tebu dan lahan yang dıtumbuhı pohon pohon besar berusıa ratusan tahun. Pohon randu, pohon kepuh, pohon jati, serta pohon-pohon lainnya yang tidak kuketahui namanya, tumbuh kokoh di sana.Pada sıang harı hanya satu dua orang yang melıntas dı jalan setapak itu, mereka adalah orang yang pulang dari bekerja di sawah. Tak setiap pekan dılewatı puluhan bahkan ratusan orang. Mereka tak lain ırıng-ırıngan pengarak keranda berısı jenazah yang akan dıkuburkan. Selebıhnya adalah kesenyapan.

Tapı aku terlalu terbıasa melıhat pemandangan ını. Tak ada perasaan takut atau kesepian yang berlarut larut. Suara angın yang menggasak rantıng pohon dan daun daun tebu adalah teman setıaku. Lolongan …