Di Mana Batas Pahlawan dan Bajingan?



Model diperani oleh Dinda

Banyak sastrawan Rusia yang karya-karyanya cukup dikenal di Indonesia. Anton Chekhov, Maxim Gorky, Leo Tolstoy, Fyodor Dostoevsky, Alexander Solzhenitsyn. Nama-nama ini membawa sastra Rusia ke panggung sastra dunia. Salah satu ciri karya-karya prosa mereka adalah realisme sosialis. Umumnya kondisi sosial masa pergolakan politik, Revolusi Oktober 1917.  Anton Chekhov merupakan favorite saya.  Ia pemotret ulung hal remeh temeh keseharian menjadi kisah yang menggugah.  “Varka Hanya Ingin Tidur” adalah salah satu cerpen Chekhov  yang melekat terus di kepala saya.

Ini kisah tentang bocah perempuan yang menjadi pembantu di rumah majikan pemiliki toko sepatu. Selain membantu di toko dan membersihkan rumah, tugas Varka adalah mengasuh bayi. Majikannya yang kejam membebani Varka dengan begitu banyak tugas seakan tidak ada waktu bagi Varka beristirahat. Suatu malam, bayi majikannya rewel dan nangis terus sehingga Varka sama sekali tidak bisa tidur. Saking jengkelnya ia membekap bayi majikannya sampai mati.

Entah tahun berapa saya membaca cerpen ini. Mungkin duapuluh tahun lalu. Seingat saya membaca cerpen ini di koran Pikiran Rakyat entah terjemahan siapa. Medio 2011 buku kumpulan cerpen pengarang-pengarang dunia “Cinta Tak Pernah Mati” terbitan Serambi kembali memuatkan cerpen ini.  Selain karya Chekhov, pengarang Rusia yang karyanya dimuatkan di buku susunan Anton Kurnia ini adalah Leo Tolstoy, Fyodor Dostoevsky.

Belum lama ini seorang kawan juga meminjami saya “Pecundang” novel Maxim Gorxy. Saya belum sempat membacanya karena harus menamatkan novel pengarang Rusia lainnya: Mikhail Lermontov bertajuk “Pahlawan Zaman Kita”. Mengisahkan tentang seorang perwira muda bernama Grigorii Aleksandrovich Pechorin.

Meskipun tokoh sentral, dalam novel ini Pechorin hanya muncul sebentar, yakni saat keretanya lewat Vladikaukasus, sebuah benteng di pegunungan Kaukasus, sebelum ia berangkat ke Persia. Saat itu Maksim Maksimich ingin menemui  Pechorin. Selebihnya Pechorin hadir melalui cerita yang dikisahkan Maksimich kepada ‘aku’ serta catatan harian Grigorii Aleksandrovich Pechorin yang ditemukan Maksimich.

Maksimich bertemu dengan Pechorin pada saat mereka bertugas di benteng yang sama. Sejak saat itu mereka bersahabat. Suatu hari mereka diundang oleh seorang pangeran menghadiri pesta perkawinan putri pertamanya. Di sana Pechorin jatuh cinta pada Bela yan tak lain putri pangeran. Pechorin bertekat mendapatkan Bela. Memperalat Azamat, adik laki-kali Bela, pemuda yang sangat menginginkan kuda milik seorang perampok keji bernama Kazbich, Pechorin kemudian mendapatkan Bela. Pechorin mendapatkan kuda tersebut dari tangan Kazbich dan Azamat pun menukar kuda tersebut dengan kakaknya. Bela kemudian menjadi gundik Pechorin. Tapi tak lama. Perempuan Tatar itu meninggal setelah mengalami pendarahan akibat ditusuk Kazbich.

Melalui buku catatan yang ditinggalkan Pechorin, ‘aku’ kemudian mengisahkan perjalanan hidup Pechorin secara lebih panjang. Tentang kisah cintanya dengan seorang nona pangeran bernama Mary. Awalnya Pechorin tidak menaruh perhatian terhadap Mary. Sahabat Pechorinlah yang bernama Grushnitskii yang mencintai Mary. Namun tiba-tiba Pechorin mempunyai niat jahat untuk merebut cinta Mary. Secara perlahan Pechorin berusaha mendekati Mary. Grushnitskii yang mengetahui kedekatan keduanya kemudian marah dan mengganggap Pechorin sebagai musuh.
Kemudian kisah cintanya dengan Vera, perempuan yang telah bersuami. Ia memutuskan meninggalkan Mary, lalu berhubungan kembali dengan Vera tanpa sepengetahuan suaminya dan Mary. Mary yang merasa cintanya diabaikan, kemudian jatuh sakit. Kenyataan ini membuat Grushnitskii semakin membenci Pechorin dan mengajaknya berduel.

Malang bagi Grushnitskii,  dalam duel tersebut ia terbunuh oleh Pechorin. Tanpa diduga suami Vera mengetahui penyebab  pertengkaran dan duel maut Pechorin dengan Grushnitskii, termasuk perselingkuhan antara Vera dengan Pechorin. Terang saja, suami Vera murka, lalu membawa Vera pergi agar tidak bertemu lagi dengan Pechorin.

Sikap dan laku hidup Pechorin lebih mirip bajingan. Bajingan pada saat bersamaan memang bisa merupakan pahlawan. Paling tidak ia berani mendobrak nilai-nilai yang berlaku pada zaman dan lingkungannya. Judul "Pahlawan Zaman Kita" saya rasa memang hendak menciptakan ironi sekaligus mencari batas-batas antara pahlawan dan bajingan.

Bagi saya, yang menarik dari novel ini selain banyak deskripsi yang detil dalam menggambarkan pegunungan Kaukasus yang bersalju, gunung Elbrus,  keragaman budaya, bahasa, dan etnis di Kaukasus, adalah persinggungannya dengan Islam. Terdapat dialog mengenai takdir (ketentuan yang sudah dituliskan tentang manusia, termasuk tanggal kematiannya) yang dipercaya penganut agama tersebut.  Dengarlah:  “Di mana orang yang bisa dipercaya itu pernah melihat daftar yang mencantumkan tanggal kematian kita? Dan kalau benar ada takdir, untuk apa kita diberi kehendak, nalar? Kenapa kita diharuskan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan kita?” (hal. 189). Dialog ini ada dalam bab Fatalis.

Mikhail Lermontov juga sempat menyinggung dengan cara meledek beberapa nama pengarang dunia seperti pengarang Inggris Byron, pengarang Perancis Balzac.

Comments