Kejarlah Cita-Citamu Setinggi Tanah



Eugene Panji (tengah) memberikan diskusi usai pemutaran di GoetheHaus


“Cita-cita itu penting, tapi bukan segalanya.”

Itu kesimpulan Agus. Bocah kelas lima sekolah dasar di sebuah kampung di kaki pegunungan Merapi, Muntilan, Jawa Tengah. Kesimpulan tersebut muncul gara-gara perjuangan Agus demi mewujudkan cita-citanya makan di restoran padang membuatnya meninggalkan kawan-kawan dan melupakan saat-saat gembira bermain bersama mereka.

Agus memaksa diri bekerja keras mengumpulkan uang. Mulai dari mencari keong di sawah untuk dijual, mengantar ayam potong pesanan pemilik restoran padang, sampai menahan keinginan untuk jajan dan beli layang-layang.  Cita-cita yang sederhana itu ternyata begitu merepotkan Agus.



“Cita-cita kok pengen makan di restoran padang,” ledek kawan-kawannya. Mereka  adalah Jono, Mey, dan Puji. Jono ketika ditanya gurunya apa cita-citanya, dengan mantap Jono menjawab ingin jadi tentara. Sementara Mey, yang aslinya bernama Sri, ingin jadi artis. Sedangkan cita-cita Puji hanya ingin membahagiakan orang lain.

Itulah cerita yang disodorkan film “Cita-citaku Setinggi Tanah” garapan Eugene Panji yang diputar ArthouseCinema, GoetheHaus, Selasa (25/6) malam kemarin. Saya beruntung dan bahagia dapat menyaksikan film yang sangat bagus ini. Di bioskop film ini tayang Oktober tahun lalu. Dan tampaknya gagal, maksudnya tak bertahan lama lantaran penontonnya sedikit. Di Indonesia ini memang banyak sekali hal-hal yang bagus malah gagal.

Saya menyukai film ini bukan hanya cerita dan setingnya yang bagus dan menghempaskan ingatan saya pada masa kanak, tapi juga dialog-dialog dan narasi yang cerdas, kocak, namun tetap bersahaja. Dengarlah, suara Agus ketika menarasikan ibunya: “Ini ibuku, dia pintar memasak tahu bacem, saking pinternya tiap hari dia masak tahu bacem...”  Dengar pula saat Agus menarasikan Jono, kawannya: Namanya Jono, ketua kelas lima. Waktu kelas empat dia juga jadi ketua kelas, begitu juga waktu kelas satu dan kelas dua. Bahkan sebelum sekolah dia sudah jadi ketua kelas...

Dari narasi Agus—yang terdengar terlalu cerdas—tentang ibunya kita segera maklum kenapa Agus bercita-cita pengin makan di restoran.  Makan di restoran padang, dalam bayangan Agus, seperti jadi raja walaupun sebentar. Dilayani pelayan, piring yang berisi aneka macam lauk begitu banyak sampai memenuhi meja. Nasinya pun pulen.  

Bagi saya “Cita-citaku Setinggi Tanah” seperti antitesis dari film-film motivasi seperti “Laskar Pelangi”,” Sang Pemimpi”, dan “Negeri Lima Menara”, serta ”9 Summer 10 Autumns”. Ia tidak mengajari orang untuk bermimpi setinggi-tingginya. Ia hanya ingin mengatakan bahwa punya cita-cita itu penting, tapi jangan sampai cita-cita membuat kakimu tidak menjejak di bumi. Tentu maksudnya, mengenal sebaik-baiknya diri dan lingkunganmu.

“Cerita film ini berangkat dari kegelisahan saya melihat anak-anak zaman sekarang yang serba instan,”  kata Eugene, dalam diskusi seusai pemutaran film.  Eugene benar, inilah zaman di mana anak-anak dipompa orang tua dan lingkungannya  menjadi begitu pragmatis, bahkan untuk mencapai cita-cita yang kedengarannya mulia.  

Cerita yang ditulis Oni Satriono mengalir datar, tanpa kelokan. Ia menggunakan pendekatan superrealis, sehingga hampir tak ada dramatisasi. Akibatnya  efek haru yang dibutuhkan dari sebuah tontonan, absen. Konflik pun nyaris tak hadir. Sekalipun begitu toh tidak membuat bosan. Akting para pemainnya untuk ukuran debutan terbilang mulus. Nina Tamam yang memerani ibu Agus bermain natural meyakinkan.

Perkara konflik, cerita yang bagus toh memang tidak harus mengandung konflik. Lagi pula, kata Eugene, film ini dibuat dengan perspektif anak-anak.

“Konflik itu kebutuhan orang dewasa. Anak-anak tidak membutuhkan itu,” Nah!

Comments