Writing Clinic, Art Exhibition



Leila S Chudori saat memberi workshop di Writing Clinic Femina

Pada kolom pertanyaan apa alasan saya ikut Writing Clinic yang diadakan Majalah Femina, saya menulis:  “untuk memperkaya teknik menulis.”  Tentu saja alasan tersebut saya tulis secara sungguh-sungguh. Karena kegiatan menulis memang satu proses terus menerus sebagaimana kegiatan lain di dunia ini.
       
Tetapi bukan semata alasan tersebut yang mendorong kepergian saya mengikuti acara yang digelar Sabtu (1/6) lalu di kantor redaksi majalah wanita paling populer itu. Saya ingin bertemu orang-orang yang punya minat sama dengan saya. Salah satunya dengan kawan perempuan tempat saya bergosip tentang banyak hal itu. Dalam undangan, peserta diminta mengenakan jeans and blue sebagai dress code-nya (baru kali ini workshop penulisan ada dress code-nya, ah namanya juga majalah Femina).  Acara dimulai pukul 08.30, tapi sekitar pukul 07.00 kawan perempuan saya itu mengabari bahwa dia sudah sampai di Kuningan.


Saya tidak segera bangun. Masih ada 30 menit untuk melanjutkan tidur.  Jarak Kuningan (tempat kantor Femina berada) dan Gondangdia daerah saya menyewa kamar, tidak jauh. Saya kira tidak sampai tiga kilometer. Hanya butuh 10 menit perjalanan naik bis. Saya keluar dari kamar sewa sekitar pukul 08.00 untuk sarapan lebih dulu di depan masjid Cut Mutia. Saya baru sampai di tempat acara hampir pukul 09.00, karena sempat balik lagi untuk mengganti sandal jepit dengan sepatu atas saran kawan perempuan saya itu.

Tentu saja tidak sulit menemukan kantor Femina. Saya beberapa kali lewat jalan ini, bahkan pernah dua kali masuk ke sana. Sekali untuk wawancarai aktris Joana Alexandra (untuk website film tempat saya bekerja dulu); sekali untuk mengantar langsung naskah lomba novelet. Ketika saya sampai acara belum dimulai. Para peserta, dengan dress code biru-biru terlihat duduk-duduk di teras kantor. Saya celingkuan mencari kawan perempuan saya dan peserta pria yang mungkin ada. Saya menemukan kawan perempuan saya duduk berdesakan dalam loby. Tapi tak satupun saya temui peserta pria. Saya satu-satunya peserta pria di acara itu.

Menurut Rahma, redaktur cerpen Femina sekaligus salah seorang  penyelenggara kegiatan, sebenarnya ada beberapa pria yang mendaftar jadi peserta. Namun mereka tidak lolos lantaran tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Praktis di dalam ruangan, saya satu-satunya pria di tengah puluhan perempuan. Kalau ada pria lain mereka adalah fotografer dan office boy, dan tentu saja Iwan Setyawan, pemakalah, yang datang lebih kemudian. Terus terang saya agak kikuk mulanya. Karena pikir saya pasti akan menjadi pusat perhatian. Ternyata itu tidak terjadi. Kami khidmat-anthusias menyimak Leila S. Chudori membabar teknik menulis.  Saat memulai Leila sempat memprotes istilah Writing Clinic. Kesannya untuk orang sakit, kata Leila. Menurut Leila lebih enak menyebutnya workshop menulis.

Saat tiba sesi tanya jawab, hampir semua peserta mengacungkan tangan. Mengingat keterbatasan waktu tentu saja hanya beberapa yang diberi kesempatan bertanya. Saya dan kawan perempuan saya merasa cukup menyimak saja.  Entah sudah berapa kali saya dan kawan saya itu menjadi peserta acara serupa sepanjang menekuni dunia penulisan. Saya pikir kali ini tidak ada bedanya dengan yang sudah-sudah. Memang demikian adanya. Kalau pun berbeda, tidak jauh-jauh amat. Dengarlah pertanyaan seperti “sudut pandang penceritaan mana lebih menarik antara orang pertama tunggal (aku), orang ketiga tunggal (dia), orang kedua tunggal (kamu), atau orang ketiga jamak (mereka)”; “bagaimana observasi yang efektif untuk menghadirkan cerita menjadi lebih hidup”, dan sejenisnya. 

Dalam menjawab penanya, Leila memberi contoh pengalamannya menulis. Menurut Leila, observasi langsung ke lapangan perlu, tapi tidak harus. Saat menulis “Pulang” novel mutakhirnya, Leila bercerita, ia memang melakukan observasi ke Perancis. Tapi ia tidak observasi ke Beijing, dan beberapa kota lain di China. Maka untuk bercerita mengenai China atau kota lain, Leila banyak melakukan wawancara dengan orang yang pernah ke China, dan tentu saja membaca literatur seputar tempat bersangkutan.    

Dalam workshop ini Leila mendedah teknik menulis yang berlaku umum (konvensional). Maksudnya, sejak awal penulis sudah harus menyiapkan kerangka plot. Yakni plot tiga babak yang dikenal dalam novel dan film konvensional: babak pertama adalah perkenalan karakter; babak kedua tak lain puncak problem atawa klimaks, dan; babak tiga adalah penyelesaian. Novel dan film yang lahir pada abad 19 dan sebelumnya hampir semuanya menggunakan plot tiga babak ini.

Iwan Setyawan, yang menyampaikan materi pada sesi kedua, meskipun dengan gaya motivator yang sedikit ‘centil’ tetap saja isinya tak jauh beda: banyak membaca dan terus berlatih menulis. Tak lupa, Iwan berkisah tentang perjalanan hidupnya sebagaimana ia tuliskan dalam novel memoarnya ”9 Summer 10 Autumns”.  Dia sempat mengungkap makna filosofis di balik judul novel debutannya yang bestseller itu. Dia bilang, judul itu menyiratkan selalu ada yang tidak genap dalam hati manusia. Selalu ada lubang. Hidup adalah perjalanan untuk mencari dan menambal lubang itu.  Iwan juga menuturkan perihal novel baru yang sedang digarapnya. Temanya tentang ketulusan, dia bilang. Kesuksesan, kata Iwan, tidak harus seperti dirinya: anak sopir angkot yang berhasil jadi direktur di New York. Sopir angkot yang menjadikan anaknya sopir angkot lagi pun selama semua dijalani dengan tulus, maka dapat disebut sukses. Konsep sukses tidak bisa disama ratakan pada setiap orang. Tapi kesuksesan sejati ialah ketika seseorang mampu mengamalkan hidupnya dalam ketulusan.

Acara ini selesai sekitar pukul 15-an. Namun saya dan kawan perempuan saya baru beranjak dari sana hampir pukul 16.00 lantaran menemani Imelda Caroline menunggu jemputan.  Selain berkenalan dengan Imelda Caroline, dari acara ini saya sempat ngobrol dengan Rahma. Rahma terlihat antusias bercerita tentang pembaca Femina yang mengomentari cerpen saya yang disiarkan di sana awal Mei silam. Bapak-bapak, Rahma bilang. Wah...

Kami melanjutkan menghabiskan hari itu  itu ke Salihara, di Pasar Minggu, menyaksikan pembukaan pameran lukisan. Kawan perempuan saya semestinya datang ke Salihara pukul 13.00. Ia adalah peserta kelas menulis yang diselenggarakan komunitas ini.  Ketika sampai di sana ia menghindari Ayu Utami, pengajar kelas menulis, karena membolos. Namun kepergok juga akhirnya. Saya melihat mereka bercakap-cakap. Saya mendengar Ayu Utami memberi saran kepada kawan saya untuk mengubah plot cerpen yang ditulis kawan saya itu. Novelis kontroversial itu seperti biasa, mengenakan gaun terusan tanpa lengan dengan belahan tinggi di bagian paha. Ia terlihat ramping dan elok. Saya menyukai perempuan ini karena konsistensinya mengamalkan gaya hidup go green : tidak merokok, tak menggunakan mesin pendingin ruangan di rumahnya,  menanam banyak pohon,  menghindari menggunakan perabot rumah berbahan kayu, dan menggunakan bensin seminimal mungkin.  Ini saya ketahui dari kawan saya yang pernah bekerja untuk komunitas ini. Dan yang paling ekstrem menolak memiliki keturunan karena tak ingin menambah beban bumi yang makin renta dan rusak. “Manusia adalah kanker bagi bumi” begitu ia pernah menulis dalam salah satu novelnya. Kesadaran semacam ini saya kira dibutuhkan di tengah tingginya populasi manusia.

Ohya, sampai mana tadi? Baiklah pameran lukisan (art exhibition). Pameran ini menggelar karya S. Teddy D. bertajuk ”Jalan Gambar”.  Lukisan-lukisan aneka ekspresi tubuh manusia dalam warna hitam putih di atas kertas karton putih.  Gambar-gambar yang membuat saya berimajinasi tentang asal mula kejadian manusia. Dalam katalog pameran, Nirwan Dewanto menulis begini:  “Dalam khazanah seni rupa modern Indonesia gambar adalah bawah sadar lukisan. Dalam setiap lukisan, terkubur sebuah gambar: atau, gambar adalah pra-lukisan. Tapi Teddy membuat gambar-gambar itu bangkit, membongkar khazanah seni lukis yang sudah terlalu lama memperalatnya atau menguburnya”. Anda mengerti maksudnya?   
S Teddy D (duduk) memamerkan lukisannya di Salihara

Kalau boleh saya menafsirkan, kira-kira begini: gambar dalam seni rupa modern selama ini dianggap sebagai proses awal dari sebuah lukisan. Pelukis harus melampaui kemampuan menggambar. Penggambar dan pelukis merupakan dua kasta yang berbeda. Yang pertama lebih rendah dari yang kedua. Wallahu’alambishowab. 

Comments