Balikpapan



Balikpapan dari lantai lima

Ini hari kesepuluh Ramadhan. Udara begitu jernih. Sinar matahari seperti berbisik-bisik lirih. Di pelataran parkir sebuah gedung di sisi jalan utama Kota Balikpapan, pasar murah begitu riuh. Perempuan itu duduk di kursi paling sudut. Sibuk membujuk anaknya yang merajuk. Saya mendekat ke arahnya, lalu mengajaknya bicara. Dina Mariana, dia menyebutkan namanya. Kau dengar, seperti nama seorang penyanyi cilik, bukan? Nama boleh sama. Nasib bisa begitu jauh memisahkan. Kulitnya gelap. Dia berkerudung coklat kusam. Sorot matanya yang gelisah sesekali melirik kamera yang saya kalungkan di leher. Kelihatannya dia tidak begitu nyaman dengan kehadiran saya. Bagi saya ini menyedihkan. Jadi, saya berusaha membuatnya sesantai mungkin dengan cara ikut membujuk anaknya. Saya juga kemudian menyebutkan nama saya dan tujuan saya datang ke kota ini.

Usaha saya tidak terlalu berhasil. Tapi jauh lebih baik suasananya sekarang. Dia mulai berani menatap mata saya. Tangannya erat menggenggam kupon yang akan ditukar dengan paket sembako yang dijual dengan harga separuh. Ekspresi wajahnya hampir tak menyiratkan emosi kegembiraan atau kesedihan.

“Babuludarat,” Dina menyebut kelurahan tempat tinggalnya. Dia pendatang di Balikpapan, daerah asalnya Samarinda. Suaminya yang memboyong dia ke kota yang banyak terdapat perusahaan tambang ini. “Orang tua saya dari Bandung,” jelasnya. Bandung yang disebutnya tidak lain Bandung, Jawa Barat. Bersama orang-orang dari sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, orang tua Dina Mariana pada akhir tahun 70-an datang ke Samarinda sebagai transmigran demi mencari hidup lebih layak. Oleh pemerintah Orde Baru mereka dikirim ke perkebunan-perkebunan kelapa sawit untuk bekerja sebagai buruh.  

“Tapi saya lahir di sini,” dia menimpali obrolan saya dengan suara lirih. Jadi, Dina mengenal Bandung hanya namanya. Jangankan Bandung, ke pusat Kota Balikpapan saja belum tentu sekali setahun. Kalau ke Samarinda dapat dia lakukan sekali setahun untuk bertemu orang tua merayakan lebaran. Selebihnya adalah di rumah mengurus keluarga. Bahasa Sunda, Dina tak tahu bagaimana cara mengucapkannya.

**

Balikpapan bagi saya terbilang kota yang bersih, rapi, dan aman, setidaknya dibanding Medan, Makassar, atau Jakarta. Pendapat saya dikuatkan cerita kawan Balikpapan yang mengantar saya berkeliling kota ini. Saban melihat tempat baru saya acap sentimentil, hasrat saya untuk menetap di sana selalu muncul. Mungkin keinginan saya untuk menetap di kota mana pun yang saya kunjungi juga dimiliki Dina. Namun, kau tahu, ini hanya menjadi sekadar keinginan. Berpindah tempat tinggal bukan perkara mudah. Ini saya kira tidak hanya terkait budaya, tapi yang lebih penting lagi adalah menyangkut persoalan yang sangat fundamental: uang dan sarana.

Para pemimpin negeri ini tidak pernah berpikir untuk secara serius membangun sarana angkutan berbiaya murah yang memungkinkan warga negaranya berpindah dari satu kota ke kota lain, atau dari pulau ke pulau lain sesuai keinginan, minat, dan mungkin bidang pekerjaannya. Suatu kondisi yang diperlukan untuk terciptanya dinamika budaya serta sirkulasi ekonomi di seluruh wilayah negeri ini secara lebih cepat. Saat ini bepergian dari satu pulau ke pulau lain, bahkan dari satu kota ke kota lain, baik sekadar untuk berlibur atau untuk menetap dan bekerja hanya dapat dilakukan oleh warga berkantung tebal kalau tidak tebal nekatnya.    

Bagi orang seperti Dina (dan saya, tentu saja) bepergian atau berpindah dari satu kota ke kota lain hanya dapat terjadi ketika ada keajaiban atau peristiwa besar. Bagi orang tua Dina, transmigrasi adalah peristiwa besar itu. Sehingga yang terjadi adalah kesenjangan antara satu pulau dengan pulau yang lain. Yang satu padat dan begitu banyak jembatan, sementara di pulau yang lain keadannya masih begitu-begitu saja sejak negeri ini lepas dari masa penjajahan. 

Imajinasi saya tentang transportasi berbiaya murah dari satu pulau ke pulau lain di negeri ini tampaknya masih belum akan terjadi sampai berabad-abad lagi. Justru yang kita lihat sekarang ke arah sebaliknya. Banyak diciptakan—atau setidaknya dibiarkan—kerusuhan di daerah-daerah yang melibatkan unsur sara. Pengusiran warga pendatang oleh warga lokal.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka