Mengapa Ingin Jadi Wartawan?


Model diperani oleh Ayu Purnama
Resensi ini awalnya disiarkan Majalah Banten Muda, edisi Juli 2013. 

Sejak reformasi bergulir, yakni setelah periode Orde Baru berakhir pada Mei 1998, bangsa Indonesia dilanda euforia kebebasan berpendapat. Salah satunya ditandai dengan maraknya pertumbuhan koran, majalah, tabloid, dan meda massa lainnya. Berdasarkan data Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) saja, sampai  tahun 2013 terdapat 1.324 media cetak yang terdiri dari surat kabar harian mingguan, tabloid, dan majalah.

Fenomena ini kemudian membuat siapa pun seakan bisa menjadi wartawan, bahkan yang tidak bisa menulis sekalipun. Karena yang dibutuhkan cukup pergi ke percetakan untuk membuat kartu pers dan kartu nama. Wartawan akhirnya menjadi profesi yang tidak membanggakan. Apalagi dengan maraknya apa yang disebut wartawan bodrek, wartawan amplop, wartawan goodybag, dan sebutan-sebutan miring lainnya. Sebagian orang kemudian menjadi apriori terhadap wartawan. Tak heran saya pernah menemui seorang kepala sekolah yang menolak bertemu dan diwawancara wartawan lantaran, berdasarkan pengalaman, wawancara hanya jadi kedok untuk memeras kepala sekolah yang baru mendapat dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) dari pemerintah.

Namun, N Mursidi melalui buku memoarnya “Tidur Berbantal Koran, Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan” mengisahkan perjalanan yang getir, lucu, dan gembira demi meraih cita-citanya menjadi wartawan.

Membuat pilihan
Selalu gagal masuk sekolah negeri yang difavoritkan, tidak pernah ranking di kelas, dan sederet prestasi buruk lainnya, membuat N Mursidi memvonis bahwa dirinya anak yang kurang cerdas, tidak membuat bangga orang tua. Ayahnya pun lebih membanggakan kakak-kakaknya yang berhasil masuk sekolah negeri favorite. Vonis terhadap diri sendiri membawa N Mursidi pada kenakalan. Semacam pelampiasan kekecewaan. Nongkrong di ujung gang, main gaple, gitar-gitaran nggak jelas saban malam, bikin brisik, dan mengganggu warga yang mau tidur.

Ketika satu persatu kawan-kawan nongkrongnya pergi menempuh jalan hidupnya masing-masing dan meninggalkan dia seorang diri, N Mursidi tersadar bahwa dia harus berubah. Dan tak ada cara lain kecuali meninggalkan kampung kelahirannya. Pilihannya adalah ke Yogyakarta. Dia tak mungkin terus tinggal di desa karena tak mau meneruskan profesi orang tuanya sebagai pedagang kain di pasar tradisional. Berbekal nekat dia pun kuliah di perguruan tinggi swasta di Kota Pelajar.

Malangnya, (atau untungnya) baru dua semester kuliah, ayahnya sakit sehingga tidak dapat mengiriminya uang. Maka bersama Budi, seorang kawannya N Mursidi berjualan koran demi menyambung hidup di kota rantau. Karena kalau dia kembali ke desa, mau tidak mau ia harus meneruskan profesi yang tidak disukainya. Di jalanan inilah N Mursidi menemukan dunia yang sesungguhnya. Harus berjuang keras mendapat uang demi membeli sebungkus nasi guna bertahan hidup.

Kehidupan yang sesungguhnya itu adalah semburan debu dan asap knalpot kendaran, terkaman panas terik matahari, todongan belati pencopet, dipalak preman, tidur berpindah-pindah dari satu kosan ke kosan lain, dan seterusnya. Namun justru kehidupan yang sesungguhnya itu yang membuat N Mursidi merasa lebih hidup. Ia tertantang mengatasi semua itu dengan segenap kegembiraan dan kegetiran yang mendewasakan (hal.55). Tantangan yang paling memompa semangatnya adalah bagaimana bisa menulis di koran dan kemudian menjadi wartawan.

Yang penting dari memoar ini kiranya bukan cita-cita menjadi penulis dan wartawan itu, melainkan perjuangan pantang menyerah, serta kesetiaan dan komitmen pada proses. Karena inilah yang dibutuhkan untuk meraih cita-cita apa pun. Bagi N Mursidi, menjadi penulis dan wartawan bukanlah cita-cita yang dibawanya saat meninggalkan Lasem, kota kelahirannya. Waktu itu ia hanya ingin meninggalkan dan menghindari meneruskan profesi orang tuanya. Yogyakarta baginya sebagai tempat pelarian (hal. 59).

Dia jatuh cinta pada dunia penulisan secara kebetulan yang berawal dari pertemuannya dengan tukang becak langganannya yang getol membaca koran. Namun tatkala dia telah menancapkan satu pilihan cita-citanya maka harus diperjuangkan secara konsisten, setia, dan pantang menyerah untuk menjalani proses yang tidak pernah selesai sampai dunia runtuh.  Inilah juga kiranya yang ditekankan memoar ini.  

Maka dia pun hijrah dari kebiasaan tidak suka membaca menjadi gemar membaca, dari nongkrong di ujung gang menjadi nongkrong di perpustakaan dan depan komputer, dari banyak tidur menjadi mengurangi jam tidur, dan seterusnya. Semua itu dijalani dengan gembira karena makin memperkaya batin. Tak perlu berkeluh kesah dan menghiba-hiba.  Buku memoar ini saya kira menarik karena tidak merasa perlu bernada nasihat. Semata bercerita dengan tuturan yang sederhana dan jujur.

Judul buku ini “Tidur Berbantal Koran, Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan” bagi saya justru yang agak mengganggu. Kalau dimaksudkan sebagai strategi marketing, judul ini tentu kurang menarik di tengah buku-buku dan novel how to yang dengan judul-judul bombatis. Wartawan bukanlah profesi yang ‘wah’. Ia bukan hanya tidak menjanjikan pendapatan besar, profesi ini saat ini makin mudah dicapai tanpa perlu melalui perjalanan panjang. Yang ‘wah’ dan langka saat ini adalah wartawan yang berintegritas, yaitu berani menulis apa adanya, berani menghadapi resiko paling ringan diteror, serta berani menolak amplop di tengah kekurangan uang.

Jadi, kiranya akan lebih punya makna bagi pembaca dan bukan sekadar romantisme menempuh jalan kepenulisan, jika dalam memoar ini N Mursidi tidak hanya menuangkan pengalamannya berjuang menjadi wartawan, tapi  perjuangannya menjadi wartawan yang jujur!  

Judul     : Tidur Berbantal Koran, Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan
Penulis : N. Mursidi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan : 1/Februari 2013
Tebal   : xiv + 243 halaman
ISBN    : 978-602-020-594-6
Harga   : Rp 44.800

Comments