Ngobrol tentang Feminisme di Warteg



Sampul salah satu buku KH Husein Muhammad


Bagi yang intens mengikuti issue feminisme, tentulah mengenal KH Husein Muhammad.  Dialah satu-satunya kiai feminis di Indonesia. Sebutan ini bukan omong kosong. Pasalnya, kiai kelahiran Cirebon, 9 Mei 1953, ini mendedikasikan hidupnya bagi keadilan gender. Dia tidak hanya menulis banyak buku yang menuangkan gagasan-gagasannya seputar gender dan ketimpangannya, tapi juga bergerak langsung di lapangan dengan memberdayakan perempuan di antaranya melalui pesantren pemberdayaan perempuan Puan Amal Hayati yang didirikannya bersama sejawat yang memiliki komitmen sama.

Terus terang saya ini memang sangat ketinggalan info, karena baru beberapa bulan belakangan mengenal tokoh luar biasa satu ini. Secara tidak sengaja saya menemukan buku karangannya di kos seorang kawan. Buku itu “Ijtihad Kyai Husein, Upaya membangun Keadilan Gender”. Melalui karyanya ini, KH Husein membabar persoalan-persoalan perempuan dalam cengkraman kultur patriarkal dan pembelaannya terhadap perempuan. Membaca pemikiran-pemikirannya di buku itu, saya langsung memantapkan diri menjadi fans-nya.

Sejumlah bab yang paling menarik perhatian saya adalah yang mengupas perihal poligami, perempuan sebagai kepala keluarga, dan perempuan menjadi imam salat. Dengan argumentasi yang kokoh serta ditopang ayat-ayat Qur-an dan hadits, serta sumber-sumber klasik lainnya, Kiai Husein secara arif bijaksana memaparkan pandangan-pandangannya. Poligami, bukanlah sunah sebagaimana dipahami banyak orang dan dijadikan dalih bagi laki-laki untuk memiliki lebih dari satu istri. Islam sama sekali bukan inisiator gagasan dan praktik poligami.

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan. Keadilan tak akan bisa terwujud tanpa ada kesetaraan gender. Praktik poligami merupakan wujud ketidakadilan gender yang paling nyata. Bagaimana mungkin Islam menginisiasi poligami?

Membaca buku Kiai Husein bagi saya seperti menemukan oase di tengah pemikiran penuh bias gender yang menempatkan perempuan dalam posisi dilemahkan. Saya bahagia sekali ketika suatu malam berkesempatan bertemu dan ngobrol dengannya di sebuah warung tegal. KH Husein bekerja sebagai komisioner di Komnas Perempuan yang berkedudukan di Jakarta, di sela kesibukannya mengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon.  Jadi, ia ulang alik Jakarta-Cirebon. Nah, sore itu rupanya dia bertandang ke kosan kawan saya.

KH Husein rupanya acap mampir ke kosan kawan saya itu yang tak lain santrinya. Malam itu dengan sepeda kayuh ia menyambangi kawan saya. Saya gugup ketika bertemu langsung dengannya. Kami ngobrol sambil ngopi dan menyesap asap tembakau di warung tegal tak jauh dari kosan kawan saya itu. Untunglah, berkat pembawannya yang ramah, rendah hati, ditambah penampilannya yang bersahaja, gugup saya lekas menguap.    

Bertemu dan ngobrol dengan tokoh seperti KH Husein merupakan kesempatan langka. Jadi saya manfaatkan betul untuk bertanya. Namun saking banyaknya yang ingin saya tanyakan, saya seperti kehilangan fokus.  Untungnya lagi, ia tetap sabar dan hangat merespons obrolan saya. Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sesiku. Tubuhnya kecil, kurus, namun terlihat segar. Wajahnya yang tirus tampak lebih muda dibanding yang saya lihat di foto.

Matanya teduh, sedikit sayu, namun sorotnya menghunjam. Seperti menyimpan energi yang tak mau padam. Suaranya lembut dengan aksen Cirebon yang lumayan kental dia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang mungkin terdengar naif. Dia bicara sambil sesekali membalas BlackBerry Messenger.

Ketertarikan saya pada ide-ide kesetaraan gender mungkin dipengaruhi oleh pengalaman  melihat langsung akibat buruk dari praktik poligami. Luka-luka akibat poligami tidak gampang pupus bahkan mengendap sepanjang hidup.  Mari saya ceritakan: ibu saya adalah lima bersaudara, dan semuanya perempuan.  Dan semua saudara-saudara ibu saya, alias bude dan bule  saya, merupakan korban poligami! Tentu saja luka akibat poligami dirasakan pula sepupu-sepupu saya.  Yang menyedihkan penderitaan mereka dianggap sebagai kelaziman, dan tidak dipahami sebagai akibat dari kezaliman.

Anggapan yang melazimkan praktik poligami berakar dari kultur patriarkal. Kita tahu, kultur ini menempatkan perempuan laksana mahluk kelas dua. Sebagai mahluk kelas dua, maka mereka sah diperlakukan apa saja. Perannya dibatasi dengan dalih melindungi. Padahal melindungi seharusnya tidak membatasi, melainkan memberi kebebasan untuk aktualisasi dan mengembangkan diri.

Menganggap perempuan mahluk kedua secara lebih jauh membuat sebuah keluarga merasa tak lengkap jika belum memiliki anak laki-laki. Ketika istri menolak hamil lagi atau tak memberinya anak laki-laki, maka suami seakan boleh, bahkan wajib untuk menikahi perempuan lain lagi demi mendapatkan anak laki-laki. Masih banyak lagi akibat turunan dari kultur patriarkal yang secara massif menyelusup ke dalam sistem sosial, sistem nilai. Ketidak adilan itu kemudian dianggap sesuatu yang given, datang dari Tuhan. Inilah yang hendak dibongkar oleh buku-buku KH Husein.

Ngobrol mengenai topik yang kita minati memang bikin lupa waktu. Tahu-tahu malam sampai di pertengahan. Pemilik warteg dengan halus mengusir kami karena warung harus tutup. Obrolan pun berlanjut di kosan kawan saya. Tapi sebelum puas saya mengulik pandangannya yang lain—mungkin tak akan pernah puas—Kiai Husein harus berangkat melanjutkan urusannya di lain tempat. Kami mengantarnya sampai muka pagar, melihat punggungnya lenyap dibawa sepeda kayuh...

Comments