Pernikahan Itu...

ilustrasi dirancang oleh Dedi Kurniadi dan Randy


Beberapa minggu yang lalu saya menghadiri pernikahan kawan di Purworejo, Jawa Tengah. Entah sudah berapa puluh kali saya menghadiri acara pernikahan. Kesan yang merebak saban menghadiri pernikahan adalah kebahagiaan di wajah pengantin. Saking girangnya kadang diwarnai pula acara tangis-tangisan. Pernikahan telanjur dipahami sebagai tonggak penting dalam sejarah hidup seseorang, paling tidak dalam norma dan tradisi masyarakat Indonesia (atau masyarakat yang memegang tradisi agama). Ia dideretkan bersama peristiwa kelahiran dan kematian yang sakral.

Mungkin karena itulah peristiwa janji suci pernikahan menimbulkan suka cita bagi para pelakunya. Melihat rasa riang gembira di wajah pengantin saya acap digelitik pertanyaan, mana sebenarnya yang paling besar yang menyebabkan pengantin merasa bahagia saat melangsungkan pernikahan. Apakah karena akan punya teman hidup yang siap membagi kesepian dan hasrat tubuhnya, berhasil melewati sebuah fase dalam hidupnya, atau merasa telah melakukan ibadah dalam agamanya. Pastilah jawaban tidak pernah sama satu dengan yang lain.

Perihal penyebab terakhir orang merasa bahagia saat menikah, saya jadi ingat obrolan dengan seorang kawan. Ia berpendapat pernikahan tidak ada urusannya dengan ibadah. Pernikahan semata perkara transaksi antar dua orang manusia. Kawan saya bilang, tidak ada satu pun ayat  Qur’an yang menyebutkan pernikahan adalah ibadah. Pernikahan adalah masalah dan fenomena sosial belaka. Agama hanya menekankan untuk berbuat baik kepada setiap manusia. Karena pernikahan adalah bagian dari berbuat baik, maka agama kemudian mengafirmasi dukungan terhadap pernikahan. Sehingga pernikahan terlihat seperti ibadah.

Ihwal pernikahan, saya juga kemudian teringat sebuah novel berjudul “Jakarta” karya pengarang Prancis Christophe Dorigné – Thomson. Novel ini bercerita tentang hubungan tanpa pernikahan antara, seorang warga Prancis dengan perempuan Indonesia bernama Yasmina. Hubungan tanpa komitmen ini membuat masing-masing tetap memiliki kebebasannya.

Saat Yasmina memilik anak, cinta Edwin berubah “bentuk”. Kini ia tidak mencintai Yasmina sebagai pasangannya, melainkan mencintai Yasmina sebagai ibu dari anak mereka. Perubahan bentuk cinta Edwin membawa keduanya kepada perpisahan yang melukakan bagi Yasmina. Edwin mengklaim, cintanya hanya cukup sampai Yasmina memiliki anak dan melahirkan. Cinta Edwin tak cukup besar untuk mencintai Yasmina selamanya. Mereka tidak bercerai karena tidak pernah menikah.

Seorang kawan, dalam blog-nya bercerita, ia punya seorang kawan perempuan yang lantaran terobsesi keindahan Prancis dan romantisme menara Eifell rela dibawa pacar Perancisnya tanpa dinikahi. Saat ia meminta pacar Prancisnya menikahi, laki-laki Perancis setuju asalkan pernikahan mereka dilakukan di Indonesia.

Laki-laki Prancis juga berkeberatan mengundang orang tuanya. Pasalnya orang tua si Prancis juga tidak menikah. “Nanti mereka bingung, karena mereka sendiri tidak menikah, lagian kalau menikah nanti cerainya susah.”

Pernikahan memang penuh paradoks. Ia mengikat dan membebaskan pada saat bersamaan. Dapat menjadi surga jika kedua orang yang diikatnya memegang komitmen. Sebaliknya, tanpa komitmen untuk saling menghargai sebagai partner yang setara, tali pernikahan akan menjadi sangkar yang menyiksa, terutama bagi pihak perempuan yang berada dalam lingkup dan kesadaran patriarkal. Mata masyarakat akan memandangnya miring bila istri tidak patuh pada suami tanpa peduli bahwa suami tidak memegang komitmennya untuk setia. Situasi serupa itu yang disebut para feminis sebagai pernikahan hanya perbudakan (dan pelacuran) yang dilegalkan. Wah!

Comments