"Sang Kiai" dan Karier Sinematik Rako Prijanto

Saya tidak memasukkan film-film garapan Rako Prijanto sebagai film layak tonton. Pasalnya ia dianggap sebagai sutradara dengan film-film kacangan. Rako bukan semacam Garin Nugroho, Riri Riza, atawa Joko Anwar, yang punya konsep dan idealisme yang jelas. Rako cenderung mau menggarap film apa saja, termasuk film-film sampah. Dua filmnya yang sempat saya tonton “Merah Itu Cinta”, dan “D’Bijis” membenarkan anggapan itu. Saya menonton kedua film itu waktu saya bekerja untuk sebuah media film yang mewajibkan saya menonton setiap film yang dirilis. Tapi untuk “Sang Kyai” film terbarunya yang beredar sejak awal Juni lalu saya merasa harus menontonnya.

Alasan saya menontonnya adalah karena tema dan latar sejarah yang diusungnya, yakni perjuangan komunitas pesantren dalam merebut kemerdekaan. Saya memiliki hubungan emosional dengan dunia pesantren. Namun ini pun sejujurnya belum menggerakkan saya untuk menonton. Saya merasa yakin harus menontonnya setelah membaca beberapa ulasan film tersebut di media. Ternyata tidak salah. Film ini sedikit mengobati kekecewaan saya pada sutradara satu ini.  “Sang Kyai” memperlihatkan lompatan penting Rako Prijanto, dan mungkin dapat memupus (kalau dia konsisten) citranya sebagai sutradara film-film kacangan.

Kerja keras dan keseriusan Rako terlihat pada kerincian properti, emosi, dan karakter tokoh-tokoh “Sang Kyai”. Sebagai film biopik, “Sang Kyai” tidak tampil dengan memusatkan pada Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari (Ikranegara) sebagai tokoh yang tanpa cacat. Tapi justru dengan menghadirkannya secara manusiawilah kharismatik Kyai Hasyim ini hadir secara utuh, dan tentu saja jadi menggetarkan.

Lembaga pendidikan pesantren, sebagai karya besar kebudayaan bangsa ini, tersampaikan secara baik. Melalui pesantren, Kyai Hasyim membentuk karakter anak-anak bangsa yang tangguh, menjunjung kemanusiaan, patriotis. Pesantren adalah tempat mengabdi, menyebarkan ilmu, bukan tempat untuk mengokohkan mitos-mitos. Supaya tidak membebani orang tua santri yang belajar di pesantren, Kyai Hasyim membuka ladang, dan secara bersama-sama dengan santrinya mengolah dan mengelola sawah untuk memenuhi kebutuhan logistik. Ini juga yang menghindarkan pesantren bergantung pada masyarakat. Rako menjelaskan hal ini secara lebih taktis, ketimbang Affandi Abdul Rahman saat mengungkapkan hal yang sama melalui film “Negeri 5 Menara”.

Bangunan konflik yang terjadi antara Kyai Hasyim dengan seorang santrinya, Harun (Adipati Dolken) muncul secara ritmik sehingga berjalan secara logis dan wajar. Harun menganggap sikap Kyai Hasyim yang lunak terhadap Jepang dengan mendukung kebijakan melipat gandakan hasil bumi sebagai kompromi dengan kafir penjajah. Kekecewaan Harun terhadap sikap Kyai Hasyim yang terkesan mendiamkan penangkapan dan pemancungan KH Zaenal Mustofa yang menentang kebijakan Jepang makin memperuncing kekecewaan Harun dan mendorong santri tersebut meninggalkan pesantren Tebu Ireng. Konflik keduanya berjalan secara smooth untuk kemudian selesai secara smooth juga. Tidak perlu ada ledakan emosi berlebihan.

Kematangan penggarapan karakter dan emosi ini yang mampu menghanyutkan penonton pada peristiwa-peristiwa dalam gambar. Adegan penangkapan Kyai Hasyim oleh tentara Jepang bagi saya paling menggetarkan. Ikra berhasil memberi napas pada sosok Kyai Hasyim yang karismatik dan berpandangan luas. Kritik Jonatan Pasaribu, bahwa ada keterputusan sikap Kyai Hasyim terkait strategi menghadapi Jepang dan Belanda. Saat menghadapi Jepang Kyai Hasyim mendahulukan strategi diplomatik ketimbang perjuangan fisik. Namun manakala menghadapi Belanda yang kembali datang untuk menjajah Indonesia, Kyai Hasyim terkesan langsung menghadapinya dengan angkat senjata. Perubahan sikap ini saya dapat dijelaskan melalui pengalaman KH Hasyim, bahwa strategi diplomatik kurang ampuh dalam kondisi darurat.

Kekejaman Jepang dalam menjadikan perempuan-perempuan pribumi sebagai budak nafsu mereka hanya diperlihatkan sekilas namun dengan kadar yang cukup. Rako terkesan menghindari kebengisan Jepang terkait jugun ianfu. Agus Kuncoro yang memerani KH Wahid Hasyim dan Christine Hakim yang memerani Nyai Kapu atawa Nyai Masruroh menambah getar film ini. Thanks ya, Rako!

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka