Ayat Ayat yang Mengembara



Model diperani oleh Esthi Winarni Agustian

Ini buku kedua Kiai Husein Muhammad yang selesai saya baca. Pengasuh Pondok Pesantren Dar al- Tauhid Arjawinangun, Cirebon, ini telah menelurkan belasan buku. Hampir seluruh buku yang tulisnya berisi pembelaan terhadap perempuan. Ia memang kiai feminis, bahkan satu-satunya kiai feminis di Indonesia setelah Masdar F Mas’udi  “dilengserkan”  dari sebutan itu gara-gara mempratikkan poligami.  Saya gembira sekali bersinggungan dengan buku feminis yang ditulis seorang kiai. Memberi kesejukan dan memantapkan iman saya.  Selama ini diktum feminis ditebar-promosikan orang-orang berlatar belakang pendidikan Barat. Meskipun kekritisan yang disuarakan mereka mengandung kebenaran rasional, namun karena riwayat pendidikan Barat-nya itu jadi menimbulkan kecurigaan tertentu di kalangan komunitas muslim.

Perjumpaan saya dengan dua buah buku Kiai Husein memberi kesejukan lantaran saya seperti mendapatkan pijakan yang mantap bahwa cara pandang dan budaya patriarkis yang begitu kuat di masyarakat, merembes dan diformalkan dalam lembaga-lembaga negara, berselisih jalan dengan prinsip kesetaraan dan keadilan yang merupakan intisari ajaran Islam. Saya makin gembira lagi ketika akhirnya bertemu dan berkenalan langsung dengan kiai yang ngepos di Komnas Perempuan dua periode terakhir ini. Untuk kegembiraan ini rasanya saya perlu berterima kasih kepada kawan saya.


Bahkan belakangan, bersama kawan saya itu, kiai Husein mengajak saya membantu menerbitkan kembali buku-bukunya yang pernah terbit dan yang sedang ditulisnya. Belasan bukunya yang pernah terbit saat ini sudah tidak beredar di toko buku, padahal makin banyak orang yang mencarinya. “Islam Agama Ramah Perempuan” ini saya dapatkan di toko buku online milik kawan saya. Dari belasan bukunya yang pernah terbit, ia tidak lengkap pula mendokumentasikannya.  
Inilah salah satu latar yang memunculkan gagasan menerbitkan kembali buku-bukunya.  Kiai satu ini disela kesibukannya mengajar di pesantren, bekerja di Komnas Perempuan, mengisi lokakarya kesetaraan gender di berbagai kota di dalam dan luar negeri, tetap produktif menulis buku. Pikiran-pikirannya tentang perempuan terkait perannya dalam sosial, politik, budaya, agama dan sebagainya terus mengalir.   

Buah pikirannya perlu disebarkan seluas-luasnya. Penerbitan buku menjadi pilihan tepat supaya semakin banyak orang mendapat pencerahan, atau sekurangnya memperoleh wacana baru yang lebih segar terkait isu-isu perempuan dan agama.  Pekan terakhir Ramadhan kemarin, bersama kawan saya bertemu lagi dengannya di sebuah wisma di Menteng, tempat persinggahannya selama di Jakarta.  Setelah berbasa basi alakadarnya, seperti biasa, kami berdiskusi ditingkahi suara hujan yang gaduh. Kali ini sempat menyinggung seputar jender dan seksualitas, lebih spesifik lagi tentang homoseksualitas. Kiai Husein menyebut orientasi seksual homoseksual, sebagaimana heteroseksual adalah sesuatu yang given, atawa kodrat.

Lontarannya ini bagi saya tidak mengejutkan. Saya sudah membaca pandangannya soal ini di sejumlah makalah seminar kesetaraan gender.  Kecenderungan seksual yang berbeda dari keumuman ini menurutnya tidak berdosa. Mempraktikkannya (penetrasi seksual sesama jenis) yang berdosa. Masalahnya, kita tidak dapat dengan mudah menuduh orang melakukan penetrasi. Itu adalah wilayah pribadi yang tidak dapat diintervensi.    

Pada kesempatan itu pula kami merumuskan langkah-langkah membuat penerbitan itu. Tugas pertama yang akan saya jalankan adalah memburu dan mengumpulkan buku-buku karya Kiai Husein yang sudah terbit,  menginventarisir judul-judul buku baru yang tengah dikerjakannya. Salah satu buku yang tengah dikerjakannya adalah “Memoar Kiai Husein”. Saya menduga buku ini mengisahkan perjalanannya sampai ia dikenal sebagai kiai feminis; Awal kesadarannya kepada banyaknya tafsir-tafsir timpang, diskriminatif, dan bias jender atas teks-teks agama yang melemahkan posisi perempuan.  Ia juga tengah menulis buku tasauf.  Tentu saja saya berharap segala rencana dan mimpinya yang ditularkan pula pada kami lancar terwujudkan.

Baiklah, sekarang saya akan menguak sedikit hasil pembacaan saya atas buku “Islam Agama Ramah Perempuan”.  Bagi saya buku ini memiliki benang merah yang tegas dengan “Ijtihad Kiai Husein”, dan mungkin buku-buku karangannya yang lain. Mendedah secara kritis teks-teks sumber hukum Islam: Qur’an dan Sunah, yang sepintas mendukung pandangan-pandangan patriarkis, semisal ayat 34 surat An-Nissa yang berbunyi  “Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan”.  Menurutnya ayat ini turun tidak berlaku sebagai hukum, melainkan berkabar perihal kondisi kultural masyarakat Arab pada saat itu.

Kitab karya ulama besar dengan reputasi internasional Nawawi Al-Jawi bertajuk Uqud Al Lujain  fi Bayan Huquq al Zawjain yang berisi tentang hak-hak dan kewajiban suami istri menurut pandangan Islam berulangkali dikutip dan dikritisi. Kitab yang terus menerus diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam dan menjadi rujukan utama ini dalam pandangan Kiai Husein sangat bias jender dan tidak adil. Ia menempatkan perempuan seperti budak yang bergantung pada kebaikan tuannya.

Kiai Husein selalu mengingatkan bahwa setiap ayat tidak turun begitu saja tanpa peristiwa kebudayaan yang terjadi ketika itu. Ayat-ayat  itu akan terus menerus mengembara melintasi masa, wilayah, budaya, yang memiliki corak dan kondisi berbagai-bagai. Membaca tinjauan-tinjauan kritis Kiai Husein sangat mengasyikkan. Ia seperti membawa pikiran kita pada pengelanaan intelektual yang acap mengejutkan. Ah...           

Comments