Belajar Filsafat Supaya Tidak Linglung



model diperani Muhammad Miftahudin

Filsafat mestinya membuat orang dapat berpikir secara jernih, kokoh berlogika, dan bijaksana. Namun saya sering mendengar orang bicara bahwa belajar filsafat hanya membuat orang linglung. Ini tentu saja kekeliruan.

Dulu saya punya kawan yang dilinglungkan filsafat. Maksud saya setelah membaca-baca buku filsafat, ia jadi linglung. Kawan saya itu membaca buku filsafat saat ia remaja, kelas satu SMA. Saya ingat dia membaca Thales, filsuf Yunani abad ke 6 Sebelum Masehi. Sejak itu ia mengaku keimanannya kepada agama dan Tuhan seakan patah. Entah bagaimana ceritanya. Yang paling saya ingat selalu sinis memandang dunia. Kemudian melakukan pembangkangan kecil-kecil terhadap aturan.  Padahal Thales filsuf pertama yang mencoba menjelaskan dunia dan gejala-gejala di dalamnya berdasarkan rasio bukan mitos sebagaimana mistis sebagimana menguasai orang pramodern. “Saya diserbu kehampaan maha besar.  Kemudian saya hidup semau-maunya. Saya menjauhi mesjid. Bahkan keluar masuk gereja, vihara, dan rumah ibadah agama lainnya. Tak ada yang saya dapatkan selain kehampaan!” kata kawan saya.

Jujur saja, saya sendiri mengalami pengalaman hampir serupa meski tidak seheroik kawan saya itu.  Masa-masa itu seolah membaca buku filsafat adalah untuk mencari pembenaran bagi kemalasan dan keapatisan terhadap apa saja yang ada di muka bumi.  Padahal membaca buku filsafat dan belajar filsafat adalah untuk memperkokoh cara orang berpikir dengan logika yang benar.

Sekarang, atau setidaknya beberapa dekade terakhir,  belajar filsafat tidak lagi menyeramkan dan membuat orang linglung macam saya dan kawan saya. Ia seperti pelajaran menghitung, pelajaran seni, pelajaran olah raga dan pelajaran-pelajaran lainnya. Saya kira begitulah harapan Jostein Gaarder ketika menulis risalah filsafat dalam bentuk novel. Harapannya lumayan terbukti. Novel pertamanya “Dunia Sofie” mencetak besteller di mana-mana pada pertengahan 90-an.  Diterjemahkan k dalam 53 bahasa. Sampai saat ini bahkan masih terus dibaca dan didiskusikan. Gara-gara novelnya laris, Gaarder bahkan keluar sebagai pengajar filsafat di kampus dan total menulis novel-novel filsafat.

“Maya Misteri Dunia dan Cinta” adalah novel filsafat berikutnya yang belum lama ini saya baca. Menjejalkan aneka pertanyaan mendasar tentang asal mula kehidupan.  Lima belas ribu tahun yang lalu ledakan itu terjadi. Begitulah asal mula penciptaan semesta ini. Benarkah demikian? Manusia berasal benda mati. Novel ini tidak hendak mendesakkan benar atau salah. Ia hanya terus bertanya dan bertanya. Kadang jawaban tidak sehebat pertanyaan.  

Setingnya di sebuah pulau Taveuni, Fiji. Sejumlah orang tanpa sengaja berkumpul di sana. Masing-masing menyimpan lukanya sendiri. Ada John Spooke, penulis Inggris yang berduka atas kematian istrinya. Frank Andersen, seorang ahi biologi evolusioner dari Norwegia kehilangan anak dalam sebuah kecelakaan.

Novel ini membawa kita pada pusaran pertanyaan yang tak pernah habis. Manusia adalah mahluk paling cerewet.  Tidak cukup dengan kecerewetan manusia,  si keturunan amfibi, tokek pun ketularan cerewet. Ia berdebat tanpa henti dengan  Frank Andersen.  
Dengan teknik surat-menyurat, seperti pada novel Duia Sofie,  Gaarder berusaha merangkum proses evolusi manusia dari sudut pandang ahli biologi evolusioner. Frank yang mempunyai profesi sama dengan Vera, mantan istrinya bercerita tentang perjalanan yang ia alami di Fiji. Surat yang disampaikan oleh Frank hanya dalam bentuk satu arah. Tidak seperti Dunia Sophie maupun Bibbi Bokken di mana tokohnya saling berkirim surat. Surat-surat yang ditulis Frank ini dinarasikan oleh John Spooke dengan catatan tambahan diakhir cerita.

Melalui tokoh-tokohnya kita menemukan perenungan-perenungan Gaarder mengenai alam semesta. Frank Andersen makin meyakini teori evolusi ketika menyaksikan keindahan alam Fiji serta banyaknya spesies-spesies yang ditemuinya. Penuturan Frank penuh ironi ketika berpikir betapa seekor katak maupun berudu sebagai nenek moyang bangsa manusia. Namun Frank harus berterimakasih kepada hewan-hewan tersebut karena telah menjadikannya seorang manusia.

Sekalipun menggunakan jalur drama dengan menampilkan kisah cinta dan tragedi tokoh-tokohnya, novel Gaarder ini tetap saja membutuhkan konsentrasi untuk dapat menangkap dengan baik pelajarn-pelajarn filsafat yang disampaikannya. Namun tentu saja kita harus memaksakan diri berkerut kening.  Kita cukup bahagia dengan menikmati percakapan dan deskripsi novel ini mengenai fenomena alam yang disandarkan pada filsafat.

Comments