Lapak Buku dan Museum Linggarjati



Ilustrasi diambil dari cirebontouristinformation.blogspot.com

Ada pemandangan tak lazim di taman wisata Linggajati, Kuningan, Jawa Barat, pada musim liburan usai lebaran kemarin. Pemandangan itu adalah lapak buku. Nyempil di belakang bangunan-bangunan tempat diselenggarakan pertemuan dan peristirahatan yang halamannya habis dijadikan lahan parkir dadakan, lapak buku itu terlihat begitu merana dan kesepian. Saya segera merogoh tas kamera untuk merekam pemandangan ganjil ini, tapi sial, batre kamera habis! Saya mencoba menggunakan perangkat kamera BlackBerry. Sayang, lowbet juga.

Di antara panggung dangdut, kolam renang, komidi putar, rumah hantu, serta arena hiburan lainnya, lapak buku sungguh jadi pemandangan yang ‘nyempal’. Kedai-kedai makanan dan aneka benda cinderamata menyedot lautan manusia yang terus menerus mengalir memburu hiburan. Musik dangdut beserta lengkingan vokal sang biduan bergema, menggetarkan dinding bukit. Siapakah yang peduli panggung dangdut dan kedai-kedai dadakan itu merusak kehijauan taman?


Mengajak si bungsu dan ibunya, saya menghampiri lapak untuk melihat-lihat buku-buku yang dijual. Siapa tahu ada buku menarik yang layak dibeli. Rupanya tidak ada, selain novel-novel religi populer pembangun jiwa (terbitan Diva Press), buku yang dihamparkan di lapak persegi panjang ukuran kira-kira 2x3 meter itu sebagian besar buku-buku motivasi, tips hidup sukses, serta buku cara memasak dengan harga antara Rp25 ribu sampai dengan Rp35 ribu. Meskipun begitu saya menawari istri untuk memilih satu yang menurutnya paling menarik.

Istri saya menggeleng.  Saya kecewa dengan gelengannya. Istri saya, seperti umumnya ibu-ibu rumah tangga lain, tidak punya tradisi belanja buku dan membacanya. Alasan yang diajukan istri saya seperti yang saya tebak: di rumah sudah banyak buku. Saya yakin dia tidak akan mengajukan alasan serupa kalau diminta memilih baju atawa perkakas dapur, meski barang yang sama sudah ada di rumah kami. Hancurnya sebagian koleksi buku saya diganyang kutu buku menjadi alasan penguat lain untuk gelengan kepalanya.

Istri saya hanya membolak-balik buku secara sekenanya. Kemudian mengajak segera beranjak dari sana, meminta ke kedai bakso sambil menonton panggung dangdut.  “Itu novel bagus, lho,”  kata saya pura-pura, hanya demi memancing keinginannya. Ia tetap melengos. Saya perhatikan, bukan cuma istri saya, kebanyakan orang yang mampir ke sana hanya sekadar melihat-lihat, untuk kemudian berlalu tanpa melakukan penawaran apa pun. Penjualnya, pria separuh baya, hanya dapat menatap hampa. Sebagian kecil saja yang menawar dan tertarik membeli.

Saya yakin, museum Linggarjati yang menyimpan situs sejarah Perundingan Linggarjati antara Pemerintah Kolonial Belanda dan Pemerintah Indonesia yang dikenal dengan Konferensi Meja Bundar, juga sepi. Orang yang datang kemari hanya menyumpal di  arena hiburan. Pengelola Taman Wisata Linggarjati tampaknya kurang antusias menjadikan Museum Linggarjati sebagai tempat wisata sejarah yang penting. Bukan hanya itu, pengelolaan sampahnya pun terkesan serampangan tanpa rasa sesal.  Orang dapat membuang bungkus makanan di mana saja. Kanal-kanal berair jernih penuh sampah kemasan plastik.

Mengelola museum mana pun di negeri ini memang menyedihkan. Jangankan museum yang letaknya di lereng bukit daerah pedalaman, museum yang gampang dijangkau seperti puluhan museum di Jakarta, tetap saja kurang dapat menarik minat masyarakat.  Tetapi saya percaya kalau dikelola dengan baik, semisal dengan melengkapi sekitar museum dengan kafe-kafe yang menyediakan jajanan berharga ramah serta menyamankan pengunjung, dipadu pelayanan yang sigap oleh petugas terlatih, serta promosi yang lebih gencar,  akan banyak orang datang berkunjung. Kondisi ini rasanya masih jauh jika kita melihat realitas politik hari ini yang didominasi oleh hasrat perburuan kekuasaan, bukan pelayanan publik dan kepedulian merawat sejarah.  

Puas nonton panggung dangdut dan berenang, saya mengajak si bungsu dan istri saya ke museum, untuk melihat situs sejarah Perundingan Linggarjati atau yang dikenal Konferensi Meja Bundar.  Namun istri saya menolak lagi. Ia malah mengajak pulang. Pada istri saya bilang, saya akan kembali ke Linggarjati untuk mengunjungi lagi museum—terakhir saya mengunjungi museum Linggarjati  waktu SMP dulu, berapa puluh tahun sudah?  Istri saya tersenyum sinis, “kayak sejarawan saja,” dia bilang. Duh!

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka