Menghela Atambua



poster dari flickmagazine.net


Menonton film-film karya Riri Riza selalu menghadirkan ingatan tentang ruang dan waktu yang begitu dekat, begitu lekat, tapi saat bersamaan terasa jauh tak tersentuh. Ingatan-ingatan tentang harapan, keterasingan, keheningan yang entah tapi mengusik. Saya telah menikmati “Gie”, “3 Hari untuk Selamanya”, “Laskar Pelangi”, “Sang Pemimpi”—saya belum sempat menyaksikan “Eliana, Eliana” dan “Untuk Rena”—. Apa pun tema yang diusung film-film besutan Riri, selalu ada benang merah yang tegas: keheningan dan keterasingan manusia.    

Keheningan dan keterasingan yang entah karena saya sukar sekali merumuskan perasaan yang meruyak dalam benak saya saban menghadapi gambar-gambar rajutan Riri. Semacam perasaan hampa yang samar namun begitu kuat menekan saya untuk terus melacak jejak kehampaan itu. Membuat saya meraba-raba dada sendiri untuk memastikan bahwa memang ada yang tak pernah lengkap dalam hidup ini. Akan terasa lama rajutan gambar-gambar itu berlinangan dalam kepala saya. Hei, kok jadi agak ruwet dan sentimentil begini...

Ketika menghadapi “Atambua 39 Derajat Celcius” yang saya tonton di Arthouse Cinema Goethe Institute beberapa malam lalu pengalaman serupa itu hadir lagi, bahkan lebih keras. Ber-setting daerah perbatasan Indonesia dan Timor Leste bernama Atambua, film ini menyajikan kesenyapan. Bukan hanya hampir tanpa dialog, film ini menekankan pada suasana. Saya mendapati hamparan perkampungan yang senyap, gersang, bisu. Sungai berair keruh. Jalan-jalan yang mengepulkan debu, sampah plastik beterbangan mengabarkan sesuatu yang ditinggalkan, tak berguna, lara. Ibu-ibu tua beraut pasrah sekaligus tegar, dan, lagi-lagi hening. Keheningan yang menghela Atambua.     

Saya menemukan pria Timor Leste pro integrasi bernama Ronaldo Bautista, 47 tahun. Sopir bus antar kota yang mulai bekerja sejak sebelum fajar. Joao, anaknya yang berusia belasan tahun, terpisah dari ibunya sejak referendum Timor Timur 13 tahun lalu. Keluarga mereka terpecah oleh peristiwa referendum yang mengantarkan Timor Leste menjadi negara berdaulat. Ini jelas tema politik. Namun, film yang bagus tetap saja bagus apa pun temanya. 

Ibu Joao berada di Liquisa, Timor Leste, bersama adik perempuan Joao. Joao yang remaja dan tidak dekat dengan ayahnya, senang berada di luar rumah. Kerinduan pada ibunya hanya bisa ditawar melalui rekaman suara ibunya yang ia putar  berulang-ulang. Sebagaimana remaja umumnya, Joao gemar nongkrong bareng kawan-kawan sebaya, memutar video porno, dan jatuh cinta untuk kali pertama. 

Cinta pertama Joao bernama Nikia Dos Santos, gadis Kupang, yang datang ke Atambua karena kakeknya meninggal. Seorang diri Nikia membuatkan makam kakeknya dengan unggunan batu yang ia angkut satu persatu di lereng bukit.  Joao tertarik pada Nikia, ia membantu mengangkut batu sebagai cara untuk mengungkapkan perasaannya. Namun cara itu rupanya tidak berhasil meyakinkan dirinya, hingga Joao menggunakan cara yang sangat kasar: Berusaha memperkosa Nikia. 

Nikia kemudian kembali ke Kupang. Joao terus berupaya mengejarnya. Saat bersamaan Ronaldo dipecat dari pekerjaannya lantaran mabuk saat sedang bekerja. Ia  kemudian masuk penjara karena pertengkaran di sebuah rumah biliar. Ia menghardik kawan-kawannya yang prokemerdekaan. Joao sangat terpukul. Ia berusaha mendapat uang untuk membebaskan ayahnya. 

Gambar-gambar film ini bergerak secara lambat, mengingatkan pada film-film Eropa, namun sama sekali tidak membosankan. Karena setiap gambar memiliki tautan yang jelas dengan cerita. Riri menguasai betul secara teknik dan bagaimana mengeksekusi gagasan ke dalam bahasa gambar. Sehingga dengan dialog minimal pun kita dapat menangkap pergulatan karakter setiap tokoh-tokohnya. Setelah Garin Nugroho, saya kira Riri Riza merupakan sutradara andalan yang memiliki tempat khusus dalam sejarah sinema Indonesia.

Saya selalu berupaya untuk tak melewatkan film Riri. Saya bahagia sekali ketika akhirnya berkesempatan menyaksikan “Atambua 39 Derajat Celcius”  di Pusat Kebudayaan Jerman setelah terlewat menyaksikannya di jaringan bioskop komersial. Sayangnya saya tak sempat mengikuti diskusi dengan Riri yang malam itu hadir memberikan diskusi. Saya datang mencuri-curi waktu di tengah tumpukan pekerjaan. Begitu film rampung saya harus bergegas kembali ke kantor.
Hampir delapan tahun lalu, ketika Riri merilis “3 Hari untuk Selamanya” saya memang pernah mewawancarainya. Selalu menarik menyimak pembicaraan sutradara yang punya visi jelas di bidangnya.   

Comments