Hari Ketiga di Dalam Bus



Ilustrasi diambil dari deviantart.com


Cerpen ini awalnya disiarkan Kedaulatan Rakyat, Minggu 1 September 2013
Ini hari ketiga aku berada dalam bus yang melaju tanpa pernah berhenti.  Entah sudah berapa kali aku tertidur dan terbangun. Yang jelas begitu aku terbangun bus masih berjalan. Kadang lambat tapi lebih sering kencang. Meliuk-liuk di atas jalanan yang tidak selalu beraspal mulus. Sudah berapa ribu kilokah jarak yang ditempuh? Berapa kotakah yang telah terlewati? Aku tidak dapat mengetahuinya dengan pasti. Daerah yang dilalui sama sekali tidak kukenali. Hutan-hutan. Bentangan pantai. Sawah-sawah. Aku tak pernah melalui jalan ini sebelumnya.

Kadang bus masuk ke jalur padat yang membuat lajunya tersendat. Kadang terjebak kemacetan karena pasar tumpah. Pada kesempatan lain bus masuk terowongan yang begitu panjang hingga mataku hanya menangkap kegelapan. Lalu muncul di jalanan lengang yang kanan kirinya berupa padang gersang dengan pohon-pohon yang meranggas ranting-rantingnya sehingga terlihat seperti duri ikan yang mencuat kesepian. Kulihat debu mengepul dan sampah-sampah beterbangan di belakang bus.

Seluruh pemandangan di luar mulanya begitu menakjubkan. Pegunungan yang biru, debur gelombang di sepanjang pantai, padang gurun yang lengang, iring-iringan orang menuju peribadatan dengan kepala menyunggi macam-macam buah yang disusun ke atas. Kota-kota yang ramai lengkap gedung-gedungnya yang berbaris rapi, perkampungan miskin, jurang, lembah, sungai-sungai berbatu dengan sejumlah pendayung di bawah jembatan sana. Matahari yang muncul di ufuk timur kemudian tenggelam di arah barat. Namun setelah tiga hari berganti-ganti melihat pemandangan yang sama jadi terasa biasa saja. Bahkan kini aku mulai merasa bosan. Aku ingin bus berhenti, lalu keluar, duduk barang beberapa saat, menghirup udara segar di tepi jalan. Tapi aku sungkan mengungkapkan keinginanku pada sopir yang selalu menjawab dengan dingin: “tanggung, nanti saja sekalian istirahat sepuasnya begitu sampai di tempat tujuan!”

Aku tidak mungkin beralasan pengin kencing atau berak sebentar. Karena bus ini memang menyediakan toilet di sudut belakang. Roti, susu, buah, dan makanan kaleng lainnya pun masih cukup persediaan untuk seluruh penumpang sampai beberapa hari ke depan. Ditaruh di dalam beberapa kulkas yang terletak di atas jendela bus. Mungkin ada sebagian penumpang bus ini yang memiliki keinginan sama denganku. Tapi tak ada yang berani mengungkapkannya setelah mendengar jawaban sopir yang agak membentak dan mengandung ancaman. Mereka hanya saling pandang mengukur kemungkinan kemungkinan sebentar, menggumam entah apa, untuk kemudian kembali diam. Ada yang meneruskan membaca novel atau majalah, ada yang hanya melamun memandang keluar, lebih banyak yang memasang kembali earphone-nya lalu melanjutkan tidur. Meskipun aku tahu mereka ada yang tak benar-benar tidur. Mereka terlihat enggan saling sapa sekadar mengurangi kejenuhan. Menyimpan semua keinginan dan segenap kegelisahan dalam pikiran masing-masing.

Kondisi di dalam bus memang nyaman. Pendingin udara yang berfungsi dengan baik, jok kursi yang lebar dan empuk dengan sandaran yang dapat dibaringkan sesuai keinginan, lengkap dengan layar video yang menayangkan aneka hiburan. Lantai kabinnya pun dilapisi karpet lurik yang lembut di telapak kaki. Walaupun begitu tetap saja rasa bosan yang terus merayap tidak dapat dienyahkan.

“Berapa lama lagikah perjalanan?” Aku tidak dapat lagi membungkam kekesalan. Namun sopir tetap bergeming. Kondektur yang duduk di sampingnya hanya melirikku sekilas tanpa menyahut sepatah kata pun. Ketika aku bangkit dan mengulang pertanyaan dengan suara lebih keras, kondektur berdiri menatapku.

“Tak bisakah kamu diam!” bentaknya membuat nyaliku ciut. Bukan hanya badannya yang besar dan berotot, tapi di balik jaketnya gagang pistol tampak menyembul. Seakan memberi isyarat supaya aku tidak bertanya-tanya apalagi coba-coba menghasut penumpang lain. Apakah mereka tengah menculikku? Aku kembali memerosokkan diri di jok yang sandarannya sedikit kumiringkan. Menelan semua kekesalan sambil menduga-duga berapa lama lagi kira-kira bus akan berhenti di tempat yang disebut sopir sebagai tujuan.  

Semakin aku tahan semakin ingin memberontak. Kulirik penumpang sebelahku. Seorang lelaki tua. Matanya memejam seolah-olah tidur. Padahal aku tahu ia tidak benar-benar tertidur. Kelopak matanya bergerak-gerak gelisah. Aku yakin tadi ia mendengar bentakan kondektur. Aku mendengar suara napasnya yang naik turun terengah engah. Pelan-pelan kutepuk bahunya. Ia membuka matanya, melirikku sebentar, kemudian kembali memejam.

“Bapak, bangunlah. Mau ke mana kita sebenarnya?” Laki-laki tua itu hanya mendesah, merapatkan jaket.

Mataku menyapu seisi bus. Mencari-cari benda yang mungkin dapat kugunakan untuk memecah kaca jendela. Aku melihat beberapa martil dalam kotak merah yang menempel di dekat pintu samping depan dan samping belakang bus. Martil yang memang disediakan untuk digunakan dalam keadaan darurat. Kupikir inilah saat tepat untuk menggunakannya.       

Dadaku berdebar-debar menunggu saat yang tepat untuk mengambil martil. Namun seakan mengetahui pikiranku, kondektur mendadak bangkit dan mencopoti martil-martil itu seraya mendengus. Lalu mengumpulkannya ke dalam dashboard dekat sopir. Aku melihat tindakan kondektur dengan tubuh lemas karena kehilangan harapan keluar dari bus celaka ini.

Aku menghitung jumlah penumpang. Ada tiga puluh dua orang termasuk sopir dan kondektur. Seandainya seluruh penumpang bersatu tentu sopir dan kondektur tak ada apa-apanya. Tapi inilah masalahnya, seluruh penumpang ketakutan bahkan untuk saling sapa dengan kawan sebelahnya. Mungkin harus ada yang memulai. Itulah tugasku sekarang.

“Bangun kamu!” mendadak kondektur berdiri di dekatku. Aku begitu ketakutan, dan pura-pura tidur.

“Jangan pura-pura tidur, kamu! Ayo bangun,” Suara bentakannya yang nyaring membuatku terkejut dan gemetar.

Kondektur memaksaku bangun dengan menarik kerah bajuku. Dia menyeretku ke toilet. Ya, Tuhan apakah yang akan dia lakukan? Sialan tak seorang penumpang pun berani menolongku. Mereka semua pura-pura tertidur, ketakutan.

“Apa yang akan kamu lakukan!” aku meronta. Sebuah bogem mentah mendarat di pipiku. Aku mengaduh menahan kesakitan. Sudut bibir pecah. Lidahku mencecap asin darah.

“Apa salahku?” pekikku.

“Jangan coba-coba bikin ulah kamu di sini?” bukk! Jotosannya kali ini bersarang di perutku. Aku terhuyung. Aku mencoba melawan dengan balas memukul, namun dengan mudah kondektur menangkap tanganku, memelintirnya.

“Kenapa kamu melakukan ini padaku?” seruku merintih.

“Kami hanya menjalankan tugas. Jangan mempersulit tugas kami!” ujarnya, dingin, seraya mendorongku hingga aku terjungkal.

“Apa yang kamu lakukan? Mau dibawa ke mana kami sebenarnya?” kataku dengan sisa keberanian dan kebingungan.

Kondektur membentak lagi, “jangan bertanya itu lagi, bodoh! Bukankah kamu sendiri yang menginginkan perjalanan ini?” Lantas ia membanting pintu toilet dan menguncinya dari luar. Meninggalkanku yang makin tak mengerti.

Sambil mengerang kesakitan aku berpikir, apa yang dimaksud dengan ‘hanya menjalankan tugas? Dan bahwa kami yang menginginkan perjalanan ini? Aku mengingat-ingat bagaimana mulanya aku berada dalam bus ini. Namun ingatanku seperti terpotong. Aku hanya ingat tiga hari lalu ketika aku terbangun aku sudah berada dalam bus yang tengah melaju ini. Aku meraba ponsel di kantung celanaku. Kucari nomor istriku. Tak kutemukan. Siapa yang telah menghapus nomor istriku. Aku menekan begitu saja nomor yang ada, namun yang kudengar mesin operator yang menjawab “Nomor yang anda tuju berada di luar jangkauan!” Jawaban yang sama kudengar ketika aku menghubungi beberapa nomor lain.

Aku duduk di pojok toilet, berkeras melacak kronologi semua kejadian yang kualami sebelum tiga hari terakhir. Aku mencoba mengecek lini masa di dinding akun Facebook-ku melalui smartphone-ku. Aku berharap dapat menemukan kejelasan di sana meskipun tidak begitu yakin karena aku memang tak pernah menjadikan kegiatan yang kulakukan sebagai status di media sosial itu. Ternyata benar, aku tak menemukan apa-apa.

Baiklah, akan kuceritakan saja kejadian yang kualami sekarang di dinding Facebook. Tapi astaga, aku tak bisa menggunakannya. Kepanikan menyerbuku tanpa dapat kulawan.   

Dengan harapan yang hampir putus, aku melihat di luar hujan turun deras sekali, disertai kabut yang memperpendek jarak pandangku. Beberapa kali kudengar suara geledek.  Mengapa tak ada satu pun dari penumpang-penumpang itu ke toilet untuk kencing? Aku berusaha bangkit.  Dan betapa terkejutnya aku manakala melihat cermin wastafel. Wajah yang terpantul di sana sama sekali bukan wajahku. Melainkan wajah orang yang tak kukenal...

Gondangdia, Juni 2013

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka