Kuburan, Jasad Waktu yang Rapuh



Model diperani oleh Masyita

Meski tidak sering, saya gemar ke perkuburan. Tapi bukan untuk ziarah. Bahkan berdoa secara khusus di makam ibu saya yang meninggal puluhan tahun lalu hampir tidak pernah saya lakukan, apalagi secara khusuk. Bagi saya berdoa dapat dilakukan di mana saja. Jadi, kedatangan saya ke kuburan biasanya hanya untuk menikmati kengungunan. Berada di tengah gundukan-gundukan tanah—baik bernisan atau tidak— yang di bawahnya terbaring jasad manusia tidak menghidupkan imajinasi tentang siksa kubur atau nikmat kubur sebagaimana yang memenuhi imajinasi masa kanak dulu. Mengunjungi kuburan adalah menghikmati tonggak-tonggak sejarah waktu yang rapuh, dan tentu saja kengungunan itu.

Atmosfer kuburan di desa tempat ibu saya dimakamkan memiliki suasana ngungun seperti yang saya inginkan. Tidak gampang menemukan perkuburan seperti  ini. Ia berada jauh dari perumahan penduduk, memencil diapit hamparan persawahan dan kebun-kebun kosong. Di selatan jalan seberang rumah saya juga terdapat perkuburan. Namun, karena suasana jalan yang selalu riuh oleh kendaraan yang lewat, atmosfer ngungun tidak saya temukan di perkuburan dekat rumah saya itu.

Jalan-jalan ke perkuburan bukan sesuatu yang  lazim. Orang akan curiga melihat kau hilir mudik atau sekadar duduk berlama-lama di perkuburan. Maka, demi menghindari kecurigaan orang, saya akan pura-pura berdoa di makam ibu saya atau makam siapa pun yang ada di sana.

Kalau sudah merasa nikmat berada dalam suasana ngungun perkuburan ingin rasanya saya berlama-lama di sana. Namun, keremangan suasana menjelang maghrib yang mengirimkan suasana seram, membuat saya terpaksa harus segera meninggalkan perkuburan. Tidak gampang mencari kawan yang mau diajak jalan-jalan di perkuburan, bahkan anak saya enggan menemani saya lama-lama. Tentu dia lebih senang kalau jalan-jalan di mal atawa renang di water boom— lain cerita kalau kompleks perkuburannya seperti San Diego Hills di Karawang yang ada kolam renang dan supermarket dan kafenya. Hidup jadi begitu ruwet, sekadar  jalan-jalan di perkuburan orang harus menunggu saat lebaran.           

Ketika baru-baru ini saya melihat lagi sampul novel “Ziarah” Iwan Simatupang, saya seperti menikmati ngungun suasana perkuburan. Sampul novel ini menyodorkan suatu romantisisme kesilaman yang entah bagaimana caranya begitu menarik saya pada keheningan. Tebalnya hanya 142 halaman. Desain sampul bergambar pohon  yang berdiri miring tertiup angin. Pohon ranggas itu mengayomi perkuburan. Sampul hanya terdiri dari tiga warna: putih, hijau muda, dan merah keunguan untuk judul yang menggunakan jenis huruf Arial Black. Kesan lain menghadapi tampilan fisik novel ini adalah kesederhanaan dan keterbatasan yang anggun.  Namun,  kalimat-kalimat pada paragaf pembuka di halaman pertama, sekonyong-konyong membetot saya.

Dengarlah:  Juga pagi itu dia bangun dengan rasa itu dia bakal bertemu isterinya di salah satu tikungan, entah di tikungan mana.  Sedang istrinya telah mati entah berapa lama.

Novel Iwan Simatupang yang saya sodorkan kali ini saya dapatkan di kamar seorang kawan. Terselip di antara tumpukan aneka jenis buku. Seingat saya sebelumnya saya pernah membacanya di perpustakaan sekolah dulu. Iwan Simatupang adalah nama besar dalam kesusastraan Indonesia pada dekade 60-an. Novel-novelnya menyajikan pandangan-pandangan filsafat, basis keilmuan yang digandrungi Iwan.  Teori-teori filsafat yang melaburi novel-novelnya menghadirkan tokoh-tokoh yang sungsang, tragik, hampir nyata sekaligus hampa. Cara bercerita Iwan dianggap membawa pembaruan dalam dunia penulisan novel Indonesia masa itu. Novel ini bercerita seperti puzzle. Melompat, maju mundur. Cerita seperti bergulung-gulung di kepala pembacanya. Pembaca dibiarkan berpikir sendiri untuk merunut urutan kisah.

Kalimat-kalimat pada paragaf pembuka di halaman pertama, bukanlah awal peristiwa yang dialami tokoh utama dalam cerita ini. Ia adalah akibat dari kejadian-kejadian yang dialami sebelumnya. Cara menulis Iwan dimulai dari belakang.    

Kalau dirunutkan ceritanya kira-kira begini. Di Kotapraja, hiduplah seorang pelukis terkenal di seluruh negeri. Ia shock dan trauma setelah ditinggal mati istri yang sangat dicintainya, pelukis mencoba bunuh diri karena akibat tak bahagia dengan ketenaran yang diraihnya. Lukisan karyanya dikagumi banyak orang sehingga harga lukisan-lukisannya melambung dan memuat dia kaya raya. Namun, di titik itulah ia disergap persoalan eksistensi. Ia terjun dari lantai hotel, namun tidak mati. Malah menimpa seorang gadis cantik yang diajaknya berhubungan seks di jalan raya tempat si pelukis jatuh. Semua terjadi dalam keheningan.

Kini, kalau saya jalan-jalan ke perkuburan saya akan membayangkan sebagai si pelukis dalam novel Ziarah Iwan Simatupang. Atau, kalau tidak sempat jalan-jalan ke kuburan saya mungkin saya akan membaca ulang novel ini. Untuk menikmati kengungunan dan mengenang jasad waktu yang rapuh.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka