Penyeret Gerobak dan Seekor Anjing


Ilustrasi diambil dari deviantart.com

cerpen ini pernah tayang di Lampung Post, Ahad, 15 September 2013
Saban pulang kerja, pukul 11 malam, aku melihat perempuan itu menyeret gerobak dari arah utara. Begitu aku keluar dari gerbang kantor perempuan itu tiba di hadapanku. Tentu saja dia muncul sambil terus menyeret gerobaknya tanpa mengacuhkanku. Gerobak yang diseret perempuan itu panjangnya sekitar dua sampai tiga meter dengan beban buntalan-buntalan plastik hitam entah apa isinya, bertumpuk-tumpuk memenuhi gerobak. Dan, lihatlah, di sela-sela buntalan plastik hitam—terselip seperti sisa makanan di antara gigi—seekor anjing berbulu putih kusam nyaris luput dari perhatian.

Dari gerakannya menyeret-nyeret gerobak roda dua itu tentu bebannya sangat berat. Jika lebih cermat lagi akan tampak sepasang betisnya membengkak dan ditumbuhi varises. Kadang secara refleks aku ingin membantu mendorong gerobak itu supaya mengurangi bebannya. Namun segera saja kubatalkan niat itu. Aku khawatir tindakanku justru membuatnya curiga, kemudian menghajarku. Bukankah ia terlihat kurang waras? 

Wajahnya sekilas kutangkap mengingatkanku pada seseorang yang pernah begitu dekat, entah siapa aku lupa. Wajah yang acap menunduk saat menyeret gerobak itu tidak terlihat menderita. Tidak pula bahagia. Ekspresi wajah perempuan itu seakan mengatasi kedua emosi itu. Kurasa wajah itu menyiratkan semacam ketegangan, agak sedikit menyerupai kemarahan. Sesekali ia bersiul, mengomel. Kalau terdengar suara klakson atau teriakan orang yang meledeknya, ia akan bersiul atau memekik-mekik menirukan suara orang yang meledeknya—yang di telingaku terdengar seperti lolongan suara anjing—kemudian tertawa. Tapi, sekali lagi, bukan tawa dari ekspresi kebahagiaan atau kesedihan. Entahlah, aku sulit merumuskan ekspresi jenis apa.

Ia akan berhenti jika melihat sampah yang mungkin dianggapnya berharga, teronggok atau berserak di tepi jalan dan trotoar. Dipungutnya, lalu dimasukkan dalam buntalan-buntalan plastik hitam. Begitu hitam. Itulah sebabnya beban yang diangkutnya semakin hari semakin menggunung.

Ia seret gerobaknya melewati kolong jembatan rel kereta api, berbelok ke kanan melintasi lorong antara stasiun dan permukiman padat. Tepat di tikungan perempuan itu kembali berhenti sejenak, memeriksa tong sampah depan rumah makan padang. Ia lanjutkan menyeret gerobak, naik ke trotoar depan sebuah kantor bank seberang masjid raya. Ia ikat gerobaknya dengan tambang yang ujung lainnya dililitkan ke tiang listrik. Lalu menggelar tikar plastik dan tidur. Anjing yang terselip di sela buntalan hitam meloncat turun dan menemaninya tidur. Di sanalah rupanya perempuan itu beristirahat.

**
Sebenarnya tidak selalu pukul 11 malam aku mengakhiri pekerjaan untuk kemudian pulang. Kadang pukul sembilan, sepuluh, malah tak jarang tepat tengah malam. Pekerjaanku memang tidak dibatasi jadwal tertentu. Namun biasanya pukul delapan sudah kelar. Hanya saja aku enggan pulang cepat-cepat. Sebagai lajang—yang pernah patah hati parah— toh tak ada yang kutemui di kamar sewaan selain kesenyapan. Aku tetap di kantor menghabiskan waktu dengan main games, atau sekadar berselancar di dunia maya. Sekalipun begitu, saban pulang aku mesti berpapasan dengan perempuan penyeret gerobak. Seakan ia menunggu aku pulang pukul berapa pun untuk memperlihatkan gerobak dan ekspresi wajahnya yang tak dapat kurumuskan itu.

Aku berpikir mungkin ini sebuah kebetulan belaka yang sudah sepantasnya diabaikan. Namun pikiranku yang lain menyergah bahwa ini kesengajaan. Kalau sebuah kesengajaan, lalu apa maksudnya? Pertanyaan ini yang membuatku penasaran. Maka suatu kesempatan, sejak sore sampai menjelang subuh, aku nongkrong di warung kopi depan kantor. Menunggu perempuan penyeret gerobak itu lewat. Sampai beberapa kali melakukan pekerjaan menggelikan ini, yang kudapat adalah kesia-siaan. Perempuan penyeret gerobak itu tak juga muncul batang hidungnya. Tentu saja hal ini membuatku makin penasaran. Apalagi setelah mendengar keterangan beberapa orang yang biasa nongkrong di depan kantor. Mereka bilang tak pernah lagi melihat orang yang kumaksud.

Apakah perempuan penyeret gerobak itu ilusiku belaka. Atau ia memang luput dari perhatian mereka. Rasanya tidak mungkin. Karena jauh sebelum kusadari kejadian rutin ini, setiap aku melewati trotoar depan kantor bank sepulang nonton film atau minum-minum di pub sekadar mengusir kesepian aku melihat perempuan penyeret gerobak itu ada di sana. Pernah kulihat ia tengah memberi makan, mengelus-ngelus leher anjing kesayangan, sambil berbicara dalam intonasi seorang ibu yang memberi nasihat kepada anaknya. Sekarang aku ingat, wajah itu mirip sekali dengan Anindita. Calon istriku yang minggat semalam menjelang pernikahan. Tujuh tahun silam. Mungkinkah ia Anindita?

“Banyak sekali orang yang menarik gerobak lewat sini. Mereka adalah pemulung dari kampung. Yang mana yang kamu maksud?” kata ibu penjual rokok dengan nada mencurigaiku. Jawaban hampir serupa kudapatkan dari satpam yang bertugas jaga di pos depan kantor. 
  
Dipenuhi semangat memecahkan teka teki, suatu sore menjelang maghrib aku menyusuri jalan ke utara, arah dari mana perempuan penyeret gerobak itu muncul. Sampai satu kiloan berjalan aku tak menemukan perempuan dengan gerobak dan anjingnya. Mengurai sedikit kelelahan aku duduk di kursi depan minimarket sambil menyesap minuman dingin. Mengorek informasi dari orang-orang yang ada di sana. Jawaban mereka tak ada yang memuaskanku. Barangkali ini memang ilusiku belaka.

Lalu aku meyakin-yakinkan diri bahwa ia betul-betul ilusi. Namun, makin aku meyakin-yakinkan diri, semakin aku tidak yakin. Bagaimana mungkin ia ilusi jika setiap malam aku dapat melihatnya begitu nyata melintas di depanku, menyeret-nyeret gerobak yang itu-itu juga. Aku menyesal mengapa tidak terpikir untuk memotretnya. Padahal kamera poket selalu ada di tasku.

Di kota ini memang makin banyak gerobak berseliweran di jalan-jalan, berbaur dengan sepeda motor, mobil dan kendaraan-kendaraan lain. Lalu lintas jadi macet dan semrawut. Kadang di dalam gerobak tidak hanya berisi sampah, melainkan juga manusia. Mereka adalah anak dan istri penyeret gerobak. Tapi mengapa sekarang aku tidak menemukan satu pun mereka? Apakah sengaja mereka ngumpet karena tahu aku sedang mencari mereka untuk bertanya siapa perempuan penyeret gerobak bersama seekor anjingnya itu? Bahkan tak kutemukan pula di trotoar depan kantor bank seberang masjid tempat ia biasanya beristirahat.

Kini kegiatanku hanya melamun. Wajah Anindita dan kejadian menyedihkan yang ingin kukubur dalam-dalam, terus berkelebatan. Aku bertekat menemukan perempuan penyeret gerobak itu. Hari-hari berikutnya tak ada yang kukerjakan selain berupaya mencari dan terus mencari untuk menemukan perempuan penyeret gerobak dan anjingnya itu. Aku tak menggubris nasihat beberapa kawan yang memintaku melupakan perempuan penyeret gerobak itu.

“Jangan korbankan masa depanmu. Perempuan penyeret gerobak tak pernah ada. Ia hanya ilusi, Kawan. Kasihanilah dirimu, kamu dibutuhkan dirimu sendiri.”

“Ayolah, Kawan. Sebelum semua terlambat, sudahi kegiatan bodohmu. Habis nanti waktumu untuk mengurusi ilusi yang tidak jelas. Lagi pula apa sih menariknya perempuan penyeret gerobak dan anjingnya itu? Bukankah gajimu cukup untuk menyewa perempuan kapan pun?”

**

Berbilang hari sampai berbulan-bulan kemudian aku terus mencari dan menunggu perempuan penyeret gerobak itu. Aku meninggalkan pekerjaanku, bahkan aku tak peduli lagi dengan keadaanku sendiri. Kemeja putihku tampak kekuningan oleh debu dan asap knalpot. Sedikit pun tak kuhiraukan keadaan wajah dan seluruh tubuhku. Mungkin amat dekil lantaran tidak pernah tersentuh air, rambut awut-awutan, dan gigiku pun kuning mirip jagung rebus.

Aku berjalan memasuki gang-gang sempit sambil mengawasi setiap penyeret gerobak yang berpapasan. Aku selalu menanyakan hal yang sama setiap bertemu mereka. Namun, mereka kini mulai tidak mengacuhkan pertanyaanku. Karena kesal aku pernah menggampar mereka. Mereka pun berlari menjauh sambil menyeret-nyeret gerobaknya. Ada pula yang balas menggampar sehingga terjadilah gampar-gamparan. Ketika terjadi gampar-gamparan, teman-teman penyeret gerobak yang kugampar berdatangan dan mengeroyokku sampai tubuhku babak belur. Mereka baru meninggalkanku yang jatuh terkapar dengan tubuh penuh bekas pukulan.

Tetapi kejadian semacam itu tidak membuatku kapok. Aku terus bertanya dan menggampar mereka yang tak mengacuhkan pertanyaanku. Sehingga orang-orang akan segera menyingkir apabila melihat aku lewat. Aku terus berjalan sambil memunguti barang-barang yang mengonggok di jalan. Mengorek-ngorek tong sampah. Memasukannya ke dalam plastik hitam. Aku menggendong palstik hitam yang makin lama makin penuh dan bertambah berat. Maka aku pun mencuri gerobak entah milik siapa yang terparkir di dekat tong sampah.

Saban hari aku terus berkeliling dengan beban yang makin berat. Meski bebanku terus memberat namun aku terus memasukan barang-barang yang kutemukan di jalan atau tong sampah. Kadang aku harus berebut dengan para penyeret gerobak lain. Bahkan dengan seekor anjing. Aku kemudian berdamai dengan anjing berbulu putih kusam yang kutemukan mengorek-ngorek tulang di tong sampah depan  rumah makan padang. Aku berkawan dengan anjing itu yang kemudian mengikutiku ke mana pun aku berjalan. Ia meringkuk di sela-sela buntalan plastik hitam di dalam gerobakku.

Suatu malam ketika aku berjalan melintasi sebuah kantor, aku melihat seorang perempuan muncul dari gerbang kantor. Mungkin karyawan kantor itu yang mau pulang. Ia memandangku dengan wajah iba. Namun tentu saja aku tak memedulikannya. Saban malam aku melintasi kantor itu dan melihat ia keluar dari gerbang kantor seakan ia sengaja menungguku melintas di gerang kantor itu pukul berapa pun lewat di sana. Setiap melihatku menyeret-nyeret gerobak kulihat ia secara refleks ingin mendorong gerobakku supaya bebanku berkurang. Namun itu tak pernah jadi ia lakukan. Entah mengapa. Mungkin ia takut aku mencurigainya dan kemudian menghajarnya.

Gondangdia, 12 Juli 2013   

Comments