Perempuan yang Terusir dari Halaman Novel



Ilustrasi diambil dari brian-shine.blogspot.com

Cerpen ini awalnya disiarkan Tribun Jabar, Ahad, 1 September 2013
Namanya Siti. Dia senantiasa mengenakan gaun kembang-kembang tanpa lengan. Rambutnya panjang tergerai. Bibirnya berminyak seperti habis makan gorengan. Ekspresi wajahnya saat mengunyah gorengan sungguh mendebarkan. Sepasang matanya memejam seakan sedang melumat bibir laki-laki yang melukai sekaligus dicintainya. Jika tekun menyusuri sudut ke sudut  kafe di sekitaran Bundaran Hotel Indonesia, kamu pasti akan menemukan perempuan itu.

Dia biasanya duduk tumpang kaki di teras Grand Hyatt setelah bosan nongkrong di dalam kafe. Menyedot rokok dengan cara yang terlihat nikmat sekali. Dia akan memesan kopi instan dari pengasong yang banyak berseliweran. Kamu akan melihat matanya menerawang seperti memikirkan sesuatu yang jauh dan memberi kesan ia bukan bagian dari keriuhan di sekitarnya. Duduklah kamu di sisinya. Kamu hanya perlu menyapanya dengan satu kata, “hai,” Siti akan segera menyergapmu dengan tatapan campuran entah sendu entah sahdu. Tapi kira-kira tatapan mata itu seperti ingin mengatakan bahwa ia bahagia mendapat sapaanmu seakan kamu adalah kawan lama yang siap menjadi tempat berbagi kesedihan yang merundungnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kamu akan merasa akrab dengannya.

“Jadi, dulu aku ini hanya imajinasi, seorang tokoh dalam cerita fiksi.” Nah,  begitulah Siti mengawali pembicaraannya dengan satu kesimpulan yang mungkin membuatmu tersentak. Kalau Siti sudah berkata begitu, sebaiknya kamu jangan menyela dulu. Simaklah baik-baik setiap kalimat yang keluar dari bibirnya. Percayalah kamu tidak akan pernah merasa jemu, bukan hanya karena gerak bibirnya yang berminyak dan seluruh ekspresinya yang membuatmu terlempar ke lereng gunung yang sunyi dan teduh, tapi juga kalimat-kalimat yang berloncatan dari bibirnya yang terdengar seperti lelucon itu. Sebagaimana tokoh perempuan dalam novel-novel metropop, Siti memiliki tampilan visual yang nyaris sempurna. Tubuh yang ramping. Suara yang mendesah merdu. Hanya sorot matanya yang memperlihatkan betapa ia menyimpan persoalan rumit.

“Seseorang menulis novel, menciptakan tokoh dalam novelnya, begitulah aku hadir. Seluruh diriku, masa lalu dan masa depanku milik seseorang itu. Aku tak bisa mengedipkan mata, memeletkan lidah, bahkan membaui aroma lelaki yang lewat di depanku tanpa sepengetahuan dia.”

Sambil ngomong begitu bibir Siti tak mau lepas dari rokoknya, dan sesekali menyesap kopi instan di gelas plastik untuk membasahi bibir dan kerongkongannya. Ia tak terganggu dengan debu dan asap knalpot yang menyembur dari  aneka kendaraan yang melintas di sana. Seakan segala kebisingan dan keruwetan di Bundaran Hotel Indonesia pada jam pulang kantor itu tak ada belaka. Atau sebaliknya, keadaan di sekitarnya seakan tak dapat menjangkaunya. Tak heran jika kulitnya selalu terlihat bersih mulus di tengah gempuran segala polusi. Kamu mungkin akan bertanya apa yang dilakukannya selain nongkrong dari kafe ke kafe. Atau tepatnya, apa pekerjaan dan berapa gajinya untuk dapat bertahan hidup di Jakarta yang serba mahal? Pertanyaan-pertanyaan itu, seperti dalam novel-novel yang ditulis secara serampangan, tak mudah ditemukan jawabannya.    

“Tentu saja aku tidak keberatan dengan semua ini. Aku tak keberatan menjadi segala yang diinginkannya seperti syair lagu Dermaga Cinta Nicky Astria. Dia seorang lajang yang kesepian yang selalu merasa inferior di depan orang-orang terutama perempuan. Tak ada yang bisa dilakukannya selain mengkhayal. Inilah yang membuatku prihatin dan ingin berbuat sesuatu untuk dirinya. Namun, apa dayaku? Dia lebih gemar menjadikanku perempuan yang taat pada suami bahkan ketika si suami berselingkuh dengan banyak teman perempuannya. Pada kesempatan lain ia menjadikanku perempuan yang bertahun-tahun menunggu lelaki yang tak pernah datang. Aku merasa ia mengidentifikasikan dirinya dengan diriku.”

Siti tak selalu benar-benar menatapmu saat ia bercerita. Bahkan mengesankan tak peduli kamu menyimak atau tidak. Kadang ia memain-mainkan asap rokok, memutar-mutar batang rokok di sela jemarinya. Kadang nada suaranya terdengar sinis.

“Ini mungkin masih oke-oke saja. Tapi ketika suatu kali dia menjadikanku perempuan yang hanya bisa mencintai perempuan, ini terus terang agak menjengkelkan. Apa boleh buat, semua harus  kujalani sebaik-baiknya. Memang hanya itu yang dapat aku lakukan. Aku berusaha menikmati peran apa pun yang dia berikan. Aku tak mengeluh, tidak protes, kupikir inilah ibadah terbesarku.”

“Suatu ketika yang kuangan-angankan pun tiba. Aku betul-betul hidup sebagai manusia. Seperti Isa menjelma dari firman Tuhan. Meski demikian seluruh gerakku dikendalikan oleh jemari tangannya yang menari-nari di atas keyboard laptopnya. Dia terkejut sendiri manakala mendapati diriku muncul di kamarnya, membuatka dia nasi goreng telur orak arik kegemarannya, membuatkannya kopi. Dia sempat ketakutan dan mengira diriku jin yang berwujud perempuan cantik. Dia menceritakan pada kawan-kawan dekatnya. Mereka semua tertawa dan menganggapnya mulai menderita gangguan jiwa.” 

“Suatu kali dia mengenalkanku sebagai pacarnya kepada ayah ibunya dan kawan-kawannya setelah yakin aku bukan jin melainkan tokoh rekaannya yang menjadi nyata. Dia menyetelku sebagai perempuan periang yang banyak bicara, supel. Orang tuanya terlihat gembira sekali mendapati anaknya yang penyendiri akut ternyata bisa juga mendapatkan pacar.”

“Dia kebingungan manakala orang tuanya menyuruhnya menikahiku. Stress. Bagaimana mungkin menikahi perempuan yang tercipta dari imajinasinya sendiri. Tentu saja aku tidak dapat meyakinkan dirinya betapa aku bisa menjadi istri yang baik baginya. ‘tulislah aku menjadi perempuan yang tepat sesuai pilihanmu’ kataku. ‘tidak mungkin, sama sekali tidak menyenangkan memiliki istri yang segala wataknya persis dengan angan-anganku,’” ujarnya.

“Aku terus membujuknya. Kamu tahu, ternyata membujuk diri sendiri bukan pekerjaan mudah.”

Begitulah Siti mulai mengeluh. Jika sudah sampai di situ, kuharap kamu tetap menahan diri untuk bicara sekadar memberi saran. Kamu terus tatap saja matanya, hidungnya yang kecil runcing. Siti akan terdiam lama. Kuharap kamu bertahan terus untuk tidak berkomentar apa pun. Sekali lagi ini kutekankan. Kamu jangan coba-coba memberi nasihat. Sebab kalau itu kamu lakukan, Siti akan marah. Dia akan menganggapmu tidak peka, tidak mengerti penderitaannya. Aku mengatakan begini karena aku pernah mengalaminya. Mendadak dia menatapku penuh kejengkelan, lantas meninggalkanku, bergegas masuk ke pintu Plaza Indonesia yang ramai. Butuh waktu lama untuk mendekatinya kembali.

Jadi, camkanlah pesanku. Toh tidak terlalu lama. Dia akan menghela napas. Terdengar berat. Dia akan melanjukan ceritanya. Percayalah. 

“Situasi yang menyulitkan ini berlarut-larut sampai kemudian kami terlibat pertengkaran hebat. Dia menuduhku terlalu banyak menuntut. ‘Jangan coba-coba menyetirku,’ ujarnya. Aku mencoba memberi argumen. Tapi dia tidak terima. Pertengkaran hebat itu berujung pengusiran diriku dari seluruh halaman-halaman novelnya. ‘Pergilah kamu sekarang. Jangan ganggu hidupku lagi,’ bentaknya. Mestinya aku gembira karena dengan demikian aku bebas menentukan nasibku sendiri. Ternyata tidak demikian. Hidup di dunia nyata rupanya tidak seenak yang dibayangkan. Hidup tanpa kendali dirinya membuatku merasa hampa. Tak punya harapan. Dia sama sekali tak mau bahkan sekadar melihatku. Itulah diriku. Sungguh menyedihkan bukan?”            
         
Kalau sudah sampai di sini. Terserah kamu akan mengambil sikap apa. Yang terang Siti akan meminta bantuanmu, seperti yang dilakukannya padaku, untuk mencari lelaki itu dan membujuknya supaya mau menerima dia kembali dan menjadikannya tokoh dalam halaman-halaman novel yang ditulisnya. Kamu tahu ini bukan permintaan mudah untuk dituruti. Bukan cuma persoalan menemukan lelaki itu di tengah kesemerawutan Jakarta, melainkan juga bagaimana caranya mempercayai cerita Siti. Tapi, kamu tahu, kita acap tak bisa menolak permintaan perempuan secantik Siti yang paling mustahil sekalipun. Kita dibuat tak berdaya mendengar rajukannya yang menghiba. Matanya yang berkaca-kaca. 

Itulah sebabnya kini aku berada di sini. Di sudut kota yang jauh dari Jakarta. Bahkan aku tak berani keluar dari kamarku. Aku cemas begitu keluar Siti akan memergokiku. Menuntutku menolongnya. Aku tak tahan menghadapi rajukannya. Menatap matanya membuatku merasa bersalah.  Jika kamu atau siapa pun yang membaca cerita ini menemukan laki-laki itu tolong bujuk dia untuk kembali membawa Siti ke dalam cerita-cerita fiksi yang ditulisnya.    

Kebon Sirih, 17 Mei 2013

Comments