Sentimentalisme Yogyakarta



Yogyakarta, suatu pagi Minggu (8/9)

Sudah lama saya menyadari betapa saya adalah seseorang dengan hati yang rawan. Mudah terharu, gampang dibuat sentimentil.  Ini terbukti lagi pada Minggu (8/9) siang kemarin. Saya pulang dari Yogyakarta menggunakan kereta Fajar Utama. Turun di stasiun Ciledug  (Cirebon). Stasiun Ciledug dan jalan besar beraspal yang dilintasi angkutan umum, dihubungkan oleh  sebuah jalan kecil. Ketika kau berjalan di jalan kecil itu kau akan melewati gedung sekolah SMA Nahdlatul Ulama. Ini sekolah yang merekam sejarah masa remaja saya yang melankolis.

Dari jalan kecil itu saya dapat melihat pintu pagarnya memang tampak sudah berubah, juga papan nama yang ditancapkan dibalik pagar.  Tapi ini hanya bagian kecil yang membuat perasaan saya mendadak diaduk-aduk sentimentalitas.  Saya teringat kawan-kawan saya, guru-guru saya. Saya teringat petugas  perpustakaan sekolah. Teringat bacaan-bacaan yang saya pinjam di perpustakaan. Majalah Ulumul Qur’an, novel Sang Priyayi Umar Kayam, kumpulan cerpen Korrie Layun Rampan, buku puisi Toto Sudarto Bahtiar...Tiba-tiba saya ingin menerabas pagar, menerobos waktu, masuk ke dalam kelas, dan mendapati saya dalam seragam putih abu-abu sedang membaca sajak Toto Sudarto Bahtiar di depan kelas. Oh...  

Sentimentalitas itu sudah mulai mengental sejak saya berada di Yogyakarta dua hari sebelumnya. Kota ini dalam ingatan saya adalah sebuah kota yang dipenuhi romantisme kepenulisan. Entah siapa yang pertama kali menjalarkan imajinasi itu dalam bilik ingatan saya. Meski kenyataannya Yogyakarta kini hampir tak ada bedanya dengan bagian tertentu dari Jakarta, Yogya yang romantik telanjur mengendap abadi dalam memori saya. Saya mendarat di bandara Adi Sucipto Jumat siang.  Langsung bergerak ke Jalan Mangkubumi, mencari hotel yang telah dipesan dari Jakarta. Saya melihat kantor redaksi Kedaulatan Rakyat, harian tertua dan terbesar di Yogyakarta.  Berhenti sebentar untuk mengisi perut dengan kuliner khas Yogya: gudeg.

Malamnya saya merayap ke Malioboro, bersidesak di lorong-lorongnya. Saya membeli beberapa potong celana murah untuk orang rumah. Sesudahnya janji bertemu dengan kawan penulis muda Yogya yang saya buat sehari sebelumnya tertunaikan dengan baik. Kami lesehan makan sego kucing depan stasiun Tugu yang legendaris itu. Kawan itu dengan semangat mengumbar cerita laku kepenulisannya. Aktivitasnya mengelola grup penulis di jejaring media sosial. Menyingkap sekilas riawayat hidupnya, mimpi-mimpinya. Saya lebih banyak menyimak sambil menyesap kopi jos yang sedap sekali itu.

Dia menyebut pemilik penerbitan yang kini jadi bos. Buku-buku yang diterbitkannya (novel-novel pembangun jiwa, buku-buku how to dan semacamnya) banyak yang mengalami booming. Bos penerbitan itu kini membuka asrama untuk menampung penulis-penulis muda terutama dari daerahnya. “Kaya raya sekarang dia. Bahkan dia ke luar negeri untuk nonton langsung aksi Valentino Rossi  di sirkuit,” kata kawan penulis muda Yogya itu. Dia tidak tahu bahwa bos penerbitan itu dulu cerpenis produktif. Dulu saya sempat berkorespondensi bahkan datang ke kosannya saat ia masih kuliah di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kali Jaga. Itulah pertama kali saya datang ke Yogyakarta.  

Malam berikutnya saya datang ke tempat yang sama untuk keperluan yang sama pula. Tapi kali ini sendiri. Kawan penulis yang lain batal ke Malioboro untuk ketemu saya. Jadi seusai mengganyang beberapa bungkus sego kucing, sate telur puyuh dan paru, serta menandaskan segelas besar kopi jos (kopi yang penyajiannya dicemplungi arang panas) saya segera kembali ke hotel. Malam kedua itu saya nginap di sebuah hotel di jalan Dagen, Malioboro. Saya tidur lumayan lelap, mungkin karena lelah seharian keliling Yogyakarta,  bertemu Gusti Kanjeng Ratu Pembayun di kediamannya untuk wawancara. Padanya saya sempat bertanya soal cara pandangnya terhadap kesetaraan gender, feminisme. Masih tradisional rupanya. Rambutnya tergerai sebahu tak membuatnya kehilangan keanggunan khas perempuan kraton. Mengenakan gaun motif batik terusan warna biru Gusti Kanjeng Ratu Pembayun terlihat bersahaja. Kebersahajaan yang membius. Saya jadi teringat Atiqah Hasiholan dalam film Java Heat

Pagi-pagi saya bangun untuk segera pulang menggunakan kereta Fajar Utama. Saya menelusuri trotoar Malioboro untuk mencapai Stasiun Tugu. Pagi Minggu jalan Malioboro digunakan masyarakat untuk senam. Duduk di bangku di trotoar Malioboro, saya menyaksikan iringan-iringan orang bersepeda ontel melintasi rel kereta, dan memotretnya. Saya membeli Kedaulatan Rakyat  dan Koran Merapi Pembaruan dari pengasong yang lewat. Saya menemukan cerpen Ulfathin CH dan Yetti Aka di masing-masing koran itu.

Ulfatin CH adalah penulis yang telah memiliki riwayat cukup panjang, dia seangkatan Abidah el-Khalieqy dan Dorothea Herliany. Tapi cerpennya yang tampil hari itu terasa hambar, lurus datar. Cerpen Yetti Aka bagi saya lebih menggigit. Yetti Aka adalah cerpenis terkini Indonesia asal Sumatra Barat yang agresif. Cerpen-cerpennya dilaburi semangat pemberontakan perempuan. Saya menyukai gaya bertuturnya yang bergerak melalui perasaan dan pikiran tokoh-tokohnya. Saya berniat menyimpan kedua koran tersebut, sayangnya tertinggal di bangku kereta Fajar Utama. Ah ...       

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka