Sepeda, Akhir Pekan @Museum


Pementasan dongeng "Samurai Bersepeda", Ahad (15/9)

Sudah berapa jauhkah masyarakat kita meninggalkan sepeda sebagai alat transportasi mereka? Bahkan kalau kau ke kampung-kampung, kau akan melihat semakin jarang orang menggunakan alat tranportasi ramah lingkungan ini. Anak-anak lebih memilih sepeda motor atau angkot ke sekolah. Di rumah-rumah mereka sepeda dibiarkan mengonggok dan karatan di gudang. Bahkan untuk sekadar ke warung pecel berjarak dua ratus meter dari rumah, anak-anak kita maunya menggunakan sepeda motor.  Anak-anak sekarang  merasa malu naik sepeda kayuh. Sepeda seakan menjadi lambang keterbelakangan. Menyedihkan, bukan?

Sepeda makin tersisih bukan hanya oleh kian mudahnya orang membeli sepeda motor secara kredit, tapi juga menjamurnya angkot, mengerutnya jalur sepeda, membuat orang makin malas (dan cemas) menggunakan sepeda.  Istri saya bahkan khawatir melepas anak kami berangkat ke sekolah menggunakan sepeda, lantaran jalanan seakan telah dikuasai angkot dan elf  yang gemar sekali kebut-kebutan layaknya mengejar setan.

Kita patut beryukur, sekarang tengah berjangkit tren menggunkan sepeda kayuh, terutama di kota-kota besar. Penandanya antara lain tumbuhnya komuntas-komunitas sepeda. Namun, benarkah tren ini merupakan cermin kembalinya kesadaran masyarakat mencintai sepeda? Kenyataannya banyak hal membuat kita curiga terhadap tren ini.  Pasalnya komunitas sepeda, baik dalam wujud menjamurnya kelompok bike to work maupun yang gemar bersepeda secara rombongan pada saat car free day, masih memperlihatkan sebagai bagian gaya hidup konsumtif.  Coba kau tengok harga sepeda yang mereka pakai, angkanya mencapai puluhan hingga ratusan juta.  Mereka bersepeda jadi terlihat hanya ingin pamer dan supaya  dianggap peduli lingkungan. Tapi, baiklah, kita harus percaya akan selalu ada orang yang menggunakan sepeda karena betul-betul  ingin menghemat energi, menjaga lingkungan, dan konsekuensi paling rasional untuk menyiasati kemacetan.  

Ada juga lho orang yang naik sepeda lantaran ingin menghayati sejarah. Jika kau termasuk yang terakhir ini saya akan memberi info yang mungkin membuatmu menyesal karena info ini telat datang padamu. Minggu kemarin, Teater Koma pada acara Akhir Pekan @Museum  di Museum Nasional  mementaskan dongeng  “Samurai Bersepeda”.  

Dongeng dibawakan oleh Rangga Riantiarno dan Yoga secara interaktif dan kocak.  Sehingga informasi mengenai sepeda dan sejarahnya, tak membuat pengunjung Museum Nasional bosan. Mereka malah tergelak-gelak.  Konon,  alat transportasi roda dua itu dikenal sejak awal abad ke-18 di Perancis dengan nama velocipede. Kolonial Belanda membawanya ke Indonesia. Noni-noni dan Sinyo-sinyo Belanda gemar bersepeda ke mana-mana. Bekerja, ke bioskop, dan berpacaran mereka naik sepeda. Orang Jawa kemudian menyebutnya, pit.  Orang melayu menyebutnya kereta angin. “Mungkin karena yang naik sepeda akan banyak makan angin,” kata Rangga.

Akhir Pekan @Museum adalah kegiatan mempromosikan gaya hidup sadar sejarah dengan cara berkunjung ke museum. Seorang kawan mengajak saya menjadi relawan untuk acara ini. Saya kebagian tugas menunjukkan lokasi pementasan yang berada di lantai dua kepada pengunjung museum. Lalu menyebar kuisioner kepada mereka. Yang menjawab dan mengembalikan lembar kuisoner kami beri cinderamata berupa pin.

Pementasan digelar dalam tiga putaran, yakni pukul 08.30, 09.30, dan 10.30. Masing-masing sekitar 30 menit.  Pengunjung cukup membayar tiket masuk museum sebesar Rp5.000 untuk dapat menikmati dongeng yang dibawakan para aktor dari grup drama kenamaan.  Jangan khawatir, pementasan akan digelar saban hari Minggu, tentu dengan tema dongeng yang berbeda.  Wah, program ini bisa ditiru oleh pengelola museum lainnya, termasuk yang di daerah-daerah.

Comments