Sejarah dalam Tumpukan Surat



Model diperani oleh Masitta

Sejak pukul 19.00 hingga pukul 01.00 saya mengetik naskah cerpen dan sejumlah surat. Bunyi  tak tik tak tik mesin tik terdengar riuh. Tetangga kosan sebelah pasti terganggu. Tapi saya tidak peduli. Saya harus menyelesaikan mengetik cerpen malam ini. Besok naskah harus dikirim. Saya tidak ingin menunda menyelesaikannya,  paling malam pukul 02.00. Sebelum pukul 03.00 saya harus sudah tidur karena besok tidak boleh terlambat masuk kerja.

Pukul 12.00, ketika istirahat makan siang, saya meminta ijin keluar area pabrik untuk memposkan cerpen ke kantor pos. Saya harus meminta persetujuan pimpinan grup leader . Tidak begitu rumit memang, tapi tetap saja membuat lumayan repot.  Menggunakan sepeda kayuh saya ke kios foto kopi. Saya harus lebih dulu memfoto kopi cerpen untuk dokumentasi sebelum memposkannya.  Ini untuk antisipasi redaktur tak mengembalikan kiriman cerpen saya manakala cerpen saya tidak layak disiarkan media.

Adegan ini terjadi sebelum tahun 2000. Masa itu komputer memang sudah lama ada, namun masih menjadi barang mewah bagi kebanyakan penulis, apalagi buruh pabrik macam saya. Saya baru menggunakan komputer setelah tahun 2000.  Seorang kawan kemudian mengajari saya mengenal internet, membuat alamat email. 

Sekarang sudah hampir lima belas tahun saya menulis menggunakan komputer, bahkan sejak empat atau lima tahun lalu menggunakan komputer jinjing atawa notebook. Dengan komputer, pekerjaan menulis jelas jauh lebih mudah. Saya tidak perlu mengetik ulang cerpen yang akan saya kirim media lain. Cukup di-print.  Internet yang menyediakan e-mail (surat electroninc) makin meringkas pekerjaan mengirim cerpen. Tidak perlu nge-print, amplop, membeli prangko, dan mengantarkannya ke kantor pos . Berapa biaya, tenaga, dan waktu yang dapat dihemat?  Namun segala kemudahan itu tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas produktifitas kerja kepenulisan.

Kadang saya kangen menulis menggunakan mesin tik, menggunakan bolpoin. Beberapa penulis kawakan konon sampai sekarang tetap menggunakan mesin tik saat menulis novel. Remy Silado, penulis produktif itu, mengaku lebih gemar menggunakan mesin tik ketimbang komputer. Suara mesin tik, dia bilang, lebih inspiratif dan membuat lancar menulis.

Saya kangen melihat kertas surat tulisan tangan saya, melipat, dan memasukkannya ke dalam amplop. Membawanya ke kantor, pos, membeli perangko, mengelem bagian belakangnya untuk ditempelkan di sudut amplop. Kangen suara ketukan palu pak pos memberi cap pos. Siapakah orang yang terakhir kali menerima kiriman surat tulisan tangan saya? Setahun lalu saya masih melihat koleksi surat-surat tulisan tangan saya yang saya kirim untuk mantan pacar yang sekarang jadi ibunya anak-anak. Entah apakah ia masih menyimpan atau sudah membuangnya. Mungkin saya perlu menanyakannya. 

Saya tengah membaca “Surat-Surat Politik Iwan Simatupang 1964-1966” suntingan Frans M. Parera (LP3ES, 1986) ketika kerinduan menulis surat menggunakan bolpin ini muncul. Betapa surat-surat yang pernah kita tulis dapat merunut sejarah seseorang. Lihatlah,  melalui surat-surat yang tulisnya ini Iwan Simatupang menjelaskan dirinya kepada kita. Sikap-sikap dan pandangan politiknya, bahkan kesepian-kesepiannya serta hal-hal bersifat personal lainnya. Surat-surat itu ia tujukan kepada kawan akrabnya, B Sularto.

Iwan berada dalam kelompok kecil seniman yang tidak berada dalam dua kubu organisasi seniman yang tengah panas-panasnya berseteru: Manifestasi Kebudayaan yang mengusung Humanisme Universal dan Lekra yang mengarak ideologi Realisme Sosial. Surat-surat Iwan merekam pergolakan zamannya. Ia melancarkan kritik keras pada tokoh-tokoh PKI dan underbow-nya, Lekra.  DN Aidit, dikritik Iwan sebagai tokoh yang memaksakan ideologi komunis secara mentah dengan mengabaikan konteks.  Sukarno tak lepas dari kritik Iwan.  Namun, Iwan melihat mereka tetaplah korban dari politik global yang mengalami polarisasi demikian ganas.

Negara atau individu yang memilih tidak berada di blok sana maupun blok sini akhirnya menjadi komunitas yang kesepian, seperti yang dialami Iwan Simatupang. Meski dikategorikan sebagai surat-surat politik, namun jelas ruh sastra dalam catatan-catatan yang banyak di tulis Hotel Salak, Bogor, ini tetap terendus, meskipun samar.

Iwan Simatupang hanya satu dari tokoh-tokoh kita yang surat-suratnya dibukukan dan dapat menjadi sumber penulisan sejarah bangsa ini, bahkan surat-surat mereka adalah sejarah itu sendiri. Kita juga beruntung dapat membaca  surat-surat HB Jassin yang dibukukan ”Surat-surat HB Jassin 1943-1983” (Gramedia,  1984), lebih di belakang lagi  surat-surat RA Kartini yang ditajuki “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Surat-surat mereka adalah dokumen sejarah bangsa ini yang layak dikekalkan.  

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka