Tentang Jacatra, Batavia, Sunda Kelapa, dan Lain-lain



gambar diambil akhir 2010

Sejak dua tahun belakangan saya acap ke Monumen Nasional (Monas). Saya ke sana biasanya saban minggu pagi untuk olahraga lari atau ikut senam di lapangannya—oya, di lapangan ini selain senam yang umum kita kenal, ada senam tawa yang diadakan club senam tawa ceria, bahkan pernah saya mendapati sekelompok orang melakukan senam Fallun Gong dari Taiwan.

Selain untuk urusan olahraga, saya kadang iseng melihat-lihat aneka barang dagangan yang digelar. Jika ada yang menarik saya akan beli, misalnya beberapa potong kaus bergambar wayang dipadu dengan Monas.  Setelah tiga urusan itu tuntas, saya pun pulang. Saya tidak masuk ke museum yang berada di bawah monumen yang menjulang ke langit yang pucuknya dilapisi emas itu. Saya hanya dapat melihatnya dari jauh. Sekali waktu pernah juga saya penasaran masuk museum, dan melihat-lihat benda-benda yang dipamerkan di sana.  Sejarah masa kolonial dalam bentuk diorama. Tentu saja sejarah versi Orde Baru. Setahu saya sampai sekarang belum ada perubahan.

Kehadiran para pedagang di pelataran Monas bagi saya sebenarnya baik-baik saja. Para pengunjung seperti saya malah diuntungkan karena kalau kehausan atau kelaparan dapat langsung membeli makanan dan minuman dari mereka. Hanya,  perilaku membuang sampah sembarangan masyarakat kita membuat rusak keindahan taman-taman dan pelataran Monas. Hamparan rumput dan trotar jadi penuh serakan sampah: puntung rokok, plastik bekas kemasan air minum, bungkus kacang, dan sampah-sampah lainnya. Memang ada petugas kebersihan yang siap menyapu sampah. Namun, jumlah mereka yang sedikit dibanding jumlah pengunjung yang tak memiliki kesadaran membuang sampah pada tempatnya, seluas apa pun lapangan Monas, akan jadi lautan sampah yang membuat miris pemandangan. Pemda Jakarta harus menempatkan petugas yang jujur untuk menindak tegas pengunjung dan pedagang yang membuang sampah sembarangan.   

Bicara tentang luas lapangan Monas, ruang publik yang kita miliki ini luasnya melebihi lapangan di tengah kota mana pun yang ada di dunia. Menurut Siswadhi dalam bunga rampai Ketoprak Betawi terbitan Majalah Intisari (2001), Champs de Mars di Paris dan Saints James Park dan Green Park di London luasnya hanya separuh lebih sedikit dibanding lapangan Monas.
Model diperani oleh Arintha

Dr. Melchior Treub, seorang ahli tumbuh-tumbuhan yang pernah menjadi direktur Kebun Raya Bogor (1850-1910), dalam majalah Teysmannia (1892) menguraikan keunikan lapangan Monas yang luasnya sekitar 90 Ha ini. Treub pernah mengajukan rancangan untuk memperindah Lapangan Monas (Koningsplein). Rancangan Treub antara lain mengganti pohon-pohon  yang ada dengan pohon-pohon rasamala yang memiliki ketinggian 200 kaki (sekitar 65 m) menurutnya lebih cocok untuk lapangan yang sangat luas itu. Selain itu, Treub mengajukan jalan silang yang memotong lapangan Monas secara diagonal.

Rancanan Treub terganjal. Namun jalan silang diagonal rancangannya dapat kita lihat sekarang. Namun jalan silang itu dibuat oleh Sukarno saat presiden pertama RI itu mulai membangun Monumen Nasional pada periode 1961-1962.     

Selain Monas, dalam buku Ketoprak Betawi yang saya baca ini, menguak tempat-tempat lain di Jakarta yang sudah ada sejak masa kolonial. Mulai dari Kota Tua, Lapangan Banteng, Pasar Tanah Abang, hingga muasal hantu cantik Mariam di Jembatan Ancol. Tentu juga tentang kondisi sosial masyarakat Jakarta pada awal-awal abad masuknya bangsa Eropa ke Jakarta.  

Nama Jakarta yang kita kenal sekarang dulu pernah bernama Jacatra, Jayakarta, Sunda Kelapa, dan Batavia. Hari lahirnya disebutkan tanggal 22 Juni 1527, yang kemudian secara resmi diakui Pemerintah Jakarta Raya. Tahun 1527 merujuk pada penaklukan Fatahillah atas tentara Portugis pimpinan Francisco de Sa.

Sedangkan nama Batavia sendiri muncul pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen yang diangkat tahun 1617. Meski nama Batavia bukan datang dari Coen, melainkan Badan pengurus VOC yang meresmikannya pada 4 Maret 1621. Bahkan Coen sendiri tidak suka dengan nama Batavia dan lebih senang menggunakan nama Jacatra. Oleh orang-orang Jakarta Coen mendapat julukan Mur Jangkung. Julukan ini mungkin terkait dengan ukuran tinggi tubuhnya yang menjulang. Gubernur Jenderal yang brangasan ini rupanya yang jadi rujukan tokoh cerpen “Murjangkung Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu” A. S. Laksana.

Beruntung sekali saya mendapatkan buku ini, meskipun tipis, namun memberi informasi yang lumayan rinci mengenai Jakarta di masa lalu. Sekarang saya tidak hanya tahu kemacetan dan kesemrawutan lalulintas yang menggasak Jakarta saban hari, tentang pertumbuhan mal-malnya yang hampir tidak terkendali.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka