Yoga, Jilbab, dan Minggu Pagi



Ruas Jalan Thamrin, Minggu (6/10)

Hari Minggu kemarin ketika lari pagi mengitari Bundaran Hotel Indonesia, saya mendapati ribuan orang melakukan yoga massal di ruas Jalan Thamrin. Ini pemandangan unik. Bayangkan, melakukan kegiatan yoga, jenis meditasi yang disertai gerakan fisik untuk mencapai keseimbangan badan dan pikiran yang biasanya dilakukan di ruangan tertutup dan hening, kini mereka melakukannya di ruas jalan utama yang paling sibuk di jantung Jakarta.

Dengan perasaan digelitik penasaran saya mendekat untuk melihat lebih jelas gerakan-gerakan yoga yang mereka lakukan. Rupanya kegiatan yoga massal diselenggarakan oleh sebuah perusahaan asuransi asing. Pesertanya tentu saja masyarakat urban kelas menengah Jakarta dan kota-kota sekitarnya. Penasaran saya belum lagi usai ketika pikiran saya kembali disergap pertanyaan, kalau untuk pihak penyelenggara motivasinya jelas bisnis, tapi apa sebenarnya yang mendorong orang-orang ini melakukan yoga? Benarkah untuk mencapai keseimbangan pikiran dan ketenangan?

Kaum urban kelas menengah Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, belakangan tengah gandrung pada hal-hal yang datang dari timur yang dianggap mampu mengembalikan otentisitas kemanusiaan. Kegandrungan mereka pada hal-hal berbau timur ini kemudian menjadi gaya hidup. Barangsiapa yang tidak mengikuti arus besar ini maka akan merasa ketinggalan. Siapa yang mau ketinggalan di jaman sosial media begini? Jadi, berdondong-bondonglah mereka melakukan kegiatan apa saja yang berbau timur, termasuk yoga.

Yang menarik bagi saya, banyak peserta yoga massal ini perempuan-perempuan berjilbab. Dengan tekun, antusias, dan khusyuk mereka mengikuti gerakan-gerakan yoga yang diarahkan instruktur. Gerakan celentang, tengkurap, menekuk-nekuk tubuh, membuat lekuk tubuh mereka yang dibalut pakaian olahraga tampak jelas.  Jika kita asumsikan para jilbaber sebagai sosok dari kaum yang taat dengan keyakinan agamanya, mestinya mereka bukan hanya tidak mengikuti, tapi juga menolak yoga. Selain karena gerakan-gerakannya yang membuat keseksian tubuh terlihat, tapi yang lebih penting lagi,  yoga tak lain praktik meditasi yang berasal dari budaya Hindu.

Apakah ini menunjukkan kaum muslimah telah mengalami kemajuan dalam menyikapi agama dan realitas di hadapannya? Mungkin saja—saya gembira jika ini yang terjadi—tapi saya kira yang lebih kuat memotivasi mereka mengikuti yoga adalah karena tidak mau ketinggalan trend tadi. Sulit membayangkan bahwa yoga yang mereka lakukan digerakkan oleh kesadaran universal mendekati Tuhan.  

Lepas dari semua dugaan dan kecurigaan tersebut, pemandangan ini bagi saya tetap menarik. Karena mempresentasikan kebudayaan-kebudayaan asing saling bertemu, berdialog, timbal balik, sehingga terjadi relasi harmonis. Saya rasa harmonisnya relasi kedua kebudayaan yang berasal dari Timur ini bukan sedang bersinergi untuk melawan kebudayaan Barat yang diasumsikan sebagai lawan seperti yang diramalkan Samuel P Huntington.      

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka