Kota-kota yang Tumbuh dan Memiuh



Model diperani Chitra Nadya

Saya membaca “Kota-kota Imajiner” Italo Calvino. Novel tentang kota-kota yang berada dalam wilayah kekuasaan Kublai Khan yang dilalui penjelajah Italia Marco Polo yang hidup pada abad dua belas. Kota-kota yang ditaklukan Kublai Khan adalah fakta sejarah, namun Marco Polo mendeskripsikan kota-kota itu secara surealis dan imajinatif. Dengarlah:

Diomira, sebuah kota dengan enam puluh kubah perak, patung patung perunggu segala dewa, jalan-jalan bersalut timah, sebuah teater kristal, dan seekor ayam emas di atas menara  yang berkokok setiap paginya.   

Isidoria, sebuah kota dengan bangunan-bangunanannya yang memiiki tangga lingkar berlapis kerang-kerang laut, tempat di mana teleskop-teleskop dibuat ....

Ratusan kota yang dijelajahi Marco Polo dan ia ceritakan kepada Kublai Khan.  Maurillia, Zaira, Dorothea, Zenobia, Fedora, Armilla... Armilla sebuah kota yang tak berdinding tak beratap yang memungkinkan wilayah itu layak disebut kota. Hanya pipa-pipa air vertikal.  Deskiripsi Calvino tentang kota-kota itu begitu rinci dan memunculkan kesan puitis yang kuat. Deskripsi kota-kota yang dilalui Marco Polo jelas jauh berbeda dengan kota-kota di Indonesia yang pernah saya datangi.

Mungkin saya terlalu berlebihan jika tiba-tiba menghubungkan kota-kota imajiner Calvino dengan kota-kota  yang pernah saya kunjungi. Kota yang pertama kali memasuki tubuh saya adalah Cirebon. Ini adalah kota kelahiran saya.  Ia muncul dalam lintasan ingatan saya yang sayup dan menjauh. Di buku-buku pelajaran sekolah dasar, tentu saja saya mengenal nama kota-kota lain: Bandung, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang...namun kota-kota ini hanya hidup dalam imajinasi saya.

Desa saya sekitar 30 kilometer dari Kota Cirebon.  Jarak ini membuat saya merasa Cirebon begitu jauh sekali. Apalagi kota-kota yang lain, waktu itu rasanya saya tidak terpikir bakal mengunjunginya. Maka menjadi suatu kegembiraan dan kebanggaan tersendiri ketika saya akhirnya, bersama kakak perempuan saya, berhasil datang ke Cirebon. Waktu itu sudah ada mal di pusat kotanya, Matahari, Ramayana, dan beberapa lagi, saya lupa.

Tapi kakak saya tidak membawa saya ke mal itu. Melainkan studio Radio Republik Indonesia (RRI) untuk acara jumpa pendengar. Saya takjub melihat bangunanya yang besar dengan ruangan yang begitu luas untuk pertemuan itu. Di pojok ruangan saya melihat piano yang dimainkan seseorang untuk mengiringi acara jumpa pendengar itu. Kakak saya dulu memang gemar ‘kirim-kiriman’ lagu di udara. Ia membeli kartu pos. Di lembaran keras persegi berwana krem pucat itu ia menulis judul lagu yang dimintanya kepada penyiar. Selain permintaan lagu, ia menulis semacam kata-kata mutiara, kadang curhatan, dan tentu saja kirim salam untuk sesama kawan yang rajin mengudara, kadang untuk para tetangga, mungkin pacar. Biasanya ditutup dengan ucapan ‘untuk  semua pendengar setia. Selamat mendengarkan’.

Cirebon kini tentu sudah jauh berubah—seperti kota-kota lain: Bandung, Semarang, Surabaya, Medan.....  Semakin ramai, padat, panas, dan semrawut. Pemerintah kota yang silih berganti tidak mampu berbuat banyak bagi kota-kota yang tak pernah berhenti tumbuh. Namun yang hidup dalam imajinasiku adalah Cirebon yang telah berlalu. Cirebon yang riuh dan jauh. Bangunan-bangunan tua, gang-gang lurus dan panjang, trotoar-trotoar...  

Kemarin saya ke Manado. Kota yang gaduh. Saya berjalan kaki menyusuri lorong-lorongnya yang sama dengan kota-kota lain: sihir jual beli.  Kota-kota ini, dengan pertumbuhannya saat ini, tak akan menarik dideskripsikan.  Karena hanya terdiri dari ruko dan mal. Saya harus mendeskirpskannya dengan cara lain. Seperti Calvino mendeskripsikan kota-kota yang ditaklukan Kublai Khan.

Comments