Pulau Umang, Terumbu Karang



Riri, Delia, Arintha, dan Misbah (dari kiri) di dermaga P Umang, Kamis (24/11)

Saya tak hendak membuka catatan ini dengan kalimat semacam  “Semua orang menggemari makanan laut atawa sea food, namun hanya sedikit yang peduli  betapa ekosistem laut sedang terancam oleh maraknya perusakan terumbu karang yang berlangsung semakin massif”.  Pembukaan seperti itu membuat catatan ini terlalu serius dan terkesan sedang berkhotbah tentang lingkungan hidup. Kau tahu, bagi banyak orang, termasuk saya, berlaku serius itu sangat melelahkan.     

Jadi, sebaiknya saya akan memulai  menuliskan kedatangan saya ke Pulau Umang yang masuk wilayah perairan Pandeglang, Banten, itu dengan santai. Begini, saking putih dan lembutnya pasir yang menghampari pantai Pulau Umang membuat saya hampir ingin memakannya, atau paling tidak melaburkannya ke sekujur tubuh. Sebelum puas menikmati hamparan pasir putih yang hampir menyerupai bubuk gula itu, saya segera menghambur ke jernihnya air laut dan ber-snorkeling, tentu setelah mengenakan sepatu kodok, pelampung, kaca mata, dan alat pernapasan di  bawah air.

Saya menyelam dan memandangi keelokan terumbu karang dan aneka biota laut lainnya. Saya hampir bersorak ketika memasuki air sambil membayangkan adegan dalam film Blue Lagoon yang dibintangi Brooke Shields. Uh, akhirnya saya menyelam dan menikmati pemandangan dunia bawah laut seperti yang sering saya lihat dalam program wisata di televisi. Tangan saya menggapai-gapai rombongan ikan aneka bentuk dan warna. Saking takjubnya, saya lupa sampai berapa lama saya menyelam. Saya sempat menelan air laut yang membuat tenggorokan saya terasa kering dan batuk-batuk. Saya tidak sendirian menyelam, melainkan bersama rombongan para aktivis lingkungan. Merekalah yang mengajak saya ke sana untuk program penanaman sejuta terumbu karang. 

Program ini dimotori oleh orang-orang  yang merasa prihatin atas makin massif-nya kerusakan terumbu karang. Rusaknya terumbu karang, kau tau,  dapat menggerus ekosistem biota laut. Dan dalam jangka panjang hal ini berpotensi  mengancam pula masa depan kehidupan nelayan. Program yang diinisiasi oleh Global Compact Network, Ujung Kulon Conservation, PPM Manajemen, dan Pulau Umang Resort itu, selain snorkeling diisi pula dengan workshop tentang pentingnya mengajak masyarakat luas untuk turut menjaga ekosistem laut, dan tentu saja penanaman terumbu karang menggunakan corale dom. Ini adalah kerangka berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari baja tahan karat untuk melindungi terumbu karang. Kelak, 10 hingga 20 tahun yang akan datang terumbu karang yang ditanam bersama dom itu akan mampu melindungi daerah pantai dari abrasi.   

Rombongan tidak hanya terdiri dari para aktivis lingkungan, tapi juga para pelajar dan mahasiswa yang mulai memiliki kesadaran menjaga kelestarian alam. Selama tiga hari dua malam saya berada di sana bersama mereka melupakan keruwetan Jakarta.  Saya berkenalan dan ngobrol dengan orang-orang yang antusias mengobrolkan tentang betapa pencemaran atas laut sudah begitu akut. Salah satunya Christian Halim, pemilik Pulau Umang Resort.  Pria kelahiran Bandung ini mengisahkan banyaknya pencurian ikan menggunakan alat penyedot maupun bom  di perairan Indonesia yang dilakukan oleh nelayan asing.  Baik penyedot maupun bom sangat berbahaya bagi kelangsungan ekosistem laut. Karena cara ini tidak hanya mengambil semua ikan sampai yang terkecil tapi juga menghancurkan terumbu karang sebagai ‘rumah’ bagi bagi ikan-ikan untuk hidup dan berkembang biak. “Jika tidak ada yang peduli dengan kerusakan terumbu karang, masa depan nelayan akan terancam,” kata Christian.  

Christian juga menuturkan bagaimana mulanya hingga sampai di sana dan membangun Pulau Umang Resort. Itu berawal dari kecintaannya yang besar pada alam. Pada 2004, ia membeli Pulau Umang dan membangun resort di pulau terpencil yang terletak di Selat Sunda itu. 2004, kau tahu, adalah tahun ketika bencana tsunami meluluh-lantakan Aceh. Bencana ini seperti pukulan telak bagi usaha resort yang dirintis Christian. Berkat kegigihan Christian, sampai sekarang Pulau Umang Resort dapat dikelolanya dengan banyak melibatkan warga setempat menjadi pekerja ahli di sana.

Mungkin kau curiga, bahwa menjadi aktivis lingkungan bagi Christian untuk sekadar menjaga kelangsungan bisnis resort-nya. Namun jika pun kecurigaanmu benar, keterlibatan Christian dalam upaya penyelamatan terumbu karang tidak hanya akan dinikmati oleh dia sendiri tapi juga nelayan-nelayan di pesisir pantai Pandeglang.    

aktivis sedang mengikat terumbu karang dalam corale dom
Saya berbincang dengan Christian di tepi kolam renang yang menghadap hamparan pantai dalam hembusan angin yang terasa begitu segar. “Karena angin ini berasal dari Taman Nasional Ujung Kulon,” cetus Christian.  Taman nasional tempat berdiamnya badak jawa itu memiliki luas 7.000 hektar dengan 7 juta pohon.  Jumlah ini mampu memproduksi 35 ribu ton oksigen dan menyerap 14 juta kiloliter karbondioksida. Aduh, terdengar serius lagi ya?

Comments

Anonymous said…
Fotonya boleh kali dikirim ke email aku...insya allah desember/ januari ya kita kesana lg