Untuk Apa Pelatihan Menulis?


Mardiyah Chamim (berdiri)

Mardiyah Chamim membuka workshop dengan sebuah game atawa tugas yang menyerupai permainan. Ia meminta para peserta untuk memperkenalkan diri dengan cara mendeskripsikan diri mereka masing-masing di atas secarik kertas tanpa menuliskan nama. Ia memberi waktu lima belas menit. Inilah deskripsi yang ditulis salah satu peserta yang dibaca peserta lainnya.

Saya seorang pria yang memakai jaket hitam, tinggi 170 sentimeter. Hoby saya membaca, dan sekarang saya sudah lima tahun bekerja di Pertamina.  

Kemudian Mardiyah mempersilakan para peserta mencari siapa orang yang mendeskripsikan dirinya seperti dibacakan di atas. Selang beberapa menit, ternyata tidak juga ditemukan orang yang dimaksud. Kesulitan tersebut, menurut Mardiyah, karena deskripsi sangat minim dalam menunjukkan ciri-ciri fisik. Tidak ada deskripsi ciri fisik secara spesifik yang memberi petunjuk bagi pembaca untuk dapat segera mengenal dan menemukan orang bersangkutan. Fakta ini sekali lagi membuktikan bahwa menulis secara tangkas dan tepat tidak cukup bermodalkan bakat, tapi juga harus menguasai teknik-teknik keterampilan menulis yang dapat dipelajari seperti keterampilan yang lain.

Sangat sukar mengenali seseorang melalui penyebutan pekerjaan, apalagi kegemaran. Informasi mengenai hobi makin sulit untuk mengidentifikasi seseorang secara tepat. Karena kegemaran seunik apa pun tidak memberi ciri khusus secara fisik pada seseorang yang mengaku memiliki hobi yang disebutkan, kata Mardiyah.

Para peserta workshop terlihat khusyu mendengar paparan mantan pewarta yang kini bekerja di Tempo Institute tersebut. Saya ada di antara mereka, khidmat menyimak setiap kata yang meluncur dari bibir Mardiyah. Workshop diadakan di sebuah hotel di bilangan Semanggi, (Jakarta, tentu saja). Dalam tubuh hampir menggigil lantaran temperatur udara di ruangan disetel di bawah sepuluh derajat intonasi suara Mardiyah terdengar memiuh di kuping saya. Lidahnya kurang fasih melafalkan kata yang ada huruf ‘r’-nya. Tapi hal ini sama sekali tidak mengurangi minat saya. Bahkan sebaliknya, jadi terdengar khas dan enak diikuti.

Ini kali kedua saya menjadi peserta sebuah pelatihan menulis dengan Mardiyah sebagai pemateri. Pertama dalam acara Citizen Journalism (jurnalisme warga) yang digelar di Museum Nasional beberapa tahun lalu. Penampilannya sederhana, bahkan terlalu sederhana, ia mengenalkan jilbab khas Indonesia, yaitu membungkus kepalanya sebatas rambut, membiarkan lehernya terbuka dengan lengan baju sebatas siku.

Saya beruntung seorang kawan yang baik mengajak saya mengikuti workshop ini. Bukan hanya karena pematerinya bagus, mendapat tiga buah buku (antara lain Catatan Pinggir Jilid 10 Goenawan Mohamad dan Bahasa! keduanya terbitan Tempo),  dan disediakan kamar hotel. Meskipun workshop mengusung tema bagaimana mengelola media internal, namun tentu saja ada sesi bagaimana menulis secara baik, yaitu runut dan jernih dan menggunakan prinsip 5 w + 1 H. Prinsip ini tentu saja berlaku untuk kerja penulisan apa saja bukan hanya bentuk berita maupun feature, tapi juga cerpen dan novel. Bedanya hanya pada urut-urutan penerapannya. Ini tidak gampang jika tidak terus menerus berlatih dengan cara praktik setiap hari.

Semua jenis tulisan tak mungkin dapat dinikmati tanpa mengandung keenam unsur tadi. Dulu saya pernah bekerja untuk sebuah media internal. Saya menulis tentang direktur bank yang bertugas di daerah kepulauan terluar Indonesia. Saya menceritakan bagaimana suka duka si direktur bekerja melayani masyarakat Indonesia di tengah geografi yang sulit dan terpencil. Pengalaman paling buruk, paling unik, paling pahit, dan paling menggembirakan.

Saya kesulitan bagian mana yang harus didahulukan sebagai isu utama atau lead, bagaimana mengolah data supaya enak dibaca. Beruntung redaktur saya baik lagi pintar. Setelah membaca tulisan saya yang telah diedit, saya sungguh terpesona. Bagaimana tulisan saya menjadi begitu indah seperti cerpen. Sampai sekarang setiap saya mau menulis, termasuk menulis untuk blog ini, saya selalu seperti baru belajar menulis.

Saya acap kesulitan membuka paragraf pertama dengan kalimat yang menarik yang sanggup menjerat pembaca untuk melanjutkan membaca tulisan saya. Sekali lagi, tanpa praktik terus menerus, mengikuti pelatihan berbiaya paling mahal dan teori secanggih apa pun tidak akan membantu kita dapat menulis secara jernih, runut, dan enak dibaca.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka