Akhir Tahun, dan Kita yang Selalu Merasa Kehabisan Waktu



Model diperani oleh Si Bungsu.
Beberapa hari menjelang momen penghabisan tahun secara kebetulan saya membaca novel “Momo” karya Michael Ende. Kebetulan, karena ini novel berkisah tentang kita yang selalu merasa kehabisan waktu. Kita getol mengerat-ngerat waktu untuk setiap kegiatan yang kita anggap penting, dan tiba-tiba kita terhenyak mendapati tahun yang telah dikerat-kerat itu segera lewat dan akan berganti dengan hitungan baru--segera kita kerat-kerat lagi-- sementara kita merasa tak kebagian apa-apa selain mengikuti jadwal yang seakan-akan telah buat sendiri.
   
Saya terus dihantui suasana kota dan para penghuni novel itu. Semula kota itu berjalan begitu damai. Penduduknya saling berkunjung dan menyapa satu sama lain. Semua berkat Momo, gadis kecil yang menempati sebuah ruang di bekas reruntuhan ampiteater. Tiap hari penduduk kota itu datang dan berkumpul di ampitetaer untuk saling bercerita, mengungkap problema yang mereka alami. Momo tidak pernah memberi penyelesaian bagi masalah-masalah yang mereka hadapi. Ia bukan motivator yang sok pintar memberi resep hidup sukses pada semua orang. Momo hanya duduk mendengarkan dengan sungguh-sungguh persoalan yang mereka bawa di hadapannya. Namun, kesungguhan dan ketulusan Momo mendengarkan mereka rupanya lebih dari cukup. Karena hanya dengan mendengarkan secara sungguh-sungguh mereka justru dapat menyelesaikan sendiri persoalan dan perselisihan serumit apa pun.

Kesungguhan dan ketulusan dalam mendengar keluhan orang yang dimiliki Momo tidak ada tandingannya. Kemampuan ini membuat orang yang menceritakan persoalannya menemukan sendiri ide gemilang untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Tidakkah ini menyindir kita yang tidak pernah punya waktu untuk mendengar keluhan orang lain? Kemampuan mendengar secara sungguh-sungguh dan tulus keluhan orang lain seakan pekerjaan maha berat yang hanya orang yang mendapat ilham yang mampu melakukannya.    

Namun, suatu hari kedamaian penduduk kota itu terusik. Berawal dari kedatangan gerombolan tuan kelabu, para pencuri waktu yang membuat irama hidup penduduk kota selalu terburu-buru dan selalu merasa kehabisan waktu. Segala sesuatu harus dilakukan secara cepat dan terjadwal yang semuanya bermuara pada terkumpulnya pundi-pundi uang sebanyak-banyaknya. Hidup jadi kaku. Tak ada waktu untuk bertegur sapa dan saling bercerita. Tak ada lagi masa untuk duduk berkumpul berdiskusi dengan gembira.

Ini jelas novel surealis dengan setting negeri dan waktu antah berantah. Tapi novel ini jelas merupakan kritik keras terhadap prilaku masyarakat modern yang memuja efesiensi dan rasionalitas. Saya agak ragu apakah novel ini disukai sulung saya yang kelas satu esema? Novel ini bersama novel terjemahan lainnya,  fabel “Pangeran yang Selalu Bahagia dan cerita-cerita lainnya” Oscar Wilde, “Penyihir Mencari Istri” Eva Ibotson, “Pangeran Kecil” Antoine de Exupery, dan “Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran” Mark Haddon, dengan baik hati dipinjamkan seorang kawan.

Sebelumnya, padanya saya bercerita tentang sms sulung saya yang minta dibelikan novel. “Novel remaja, kaya Habibi dan Ainun” kata sulung saya itu. Yang dimaksud novel remaja oleh sulung saya mungkin novel yang bercerita tentang percintaan. “Habibi dan Ainun” jelas bukan novel, ini karya autobiografi yang ditulis mantan presiden BJ Habibi mengenai perjalanan cintanya dengan sang istri. Selain bukunya, autobiografi ini sukses ketika diangkat menjadi film. Meski autobiografi, tapi karena autobiografi kisah cinta, maka menurut patokan yang dibuat putri saya itu, “Habibi dan Ainun” adalah novel remaja.

Beberapa cerita dalam “Pangeran yang Selalu Bahagia” memang ada yang berkisah tentang pemuda yang demi cintanya kepada seorang gadis rela mencari bunga mawar merah. Atas bantuan dan pengorbanan nyawa seekor burung bul-bul, pemuda itu mendapatkan bunga mawar merah seperti yang diinginkan gadis yang dicintainya. Tapi kisah ini saya rasa ini bukan novel remaja seperti yang dimaksud putri saya, karena cerita ini tidak hanya dapat dinikmati remaja melainkan semua usia.

Begitu juga novel “Momo” yang saya ceritakan di atas. Tokoh utama dalam dua cerita ini adalah remaja, tapi kita segera tahu ini bukan novel remaja. Dan saya rasa tidak ada kategori remaja atau serius untuk urusan novel, yang ada novel bagus dan novel jelek. Itu saja. Makanya dengan tenang dan gembira saya menyerahkan novel-novel ini pada sulung saya itu. Meskipun begitu, saya tetap saja bertanya-tanya tentang novel remaja yang disebutkan sulung saya itu. Saya ingat, waktu saya kelas satu esema dulu, seumuran sulung saya sekarang, saya sudah membaca “Para Priyayi” Umar Kayam, kumpulan cerpen Idrus, Korrie Layun Rampan, pada saat tsanawiyah saya membaca Wiro Sableng, Deni Manusia Ikan, Pendekar Panji Wungu, Edy D Iskandar...

Comments