Pendidikan yang Menolak Mimpi



Ilustrasi diambil dari antaranews.com

Bukan rahasia lagi bahwa sebagian Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atawa Non Government Organization (NGO)  didirikan oleh orang-orang dengan tujuan mencari duit belaka, bahkan menjadikannya sebagai sumber penghasilan untuk hidup bermewah-mewah. Mereka ini jelas orang-orang pintar, kalau tidak mana mungkin dapat menjual isu-isu (baik sosial, lingkungan, demokrasi, seni, pendidikan, kemanusiaan, agama dan seterusnya) kepada para donatur—umumnya dari luar negeri— yang mereka pikir dapat dikibuli. Maka jangan heran apabila kau melihat aktivis NGO, katakanlah di Jakarta, yang hidup makmur. Ke mana-mana naik taksi, nongkrong di kafe, menyewa rumah tinggal di kawasan Menteng.   

Kawan-kawan aktivis LSM jenis ini adalah para wartawan yang mereka bayar untuk memberitakan kegiatan pemberdayaan atawa advokasi semu yang mereka lakukan. Bagi mereka pemberitaan media menjadi sangat penting dan utama. Karena kliping berita yang akan dijadikan modal ketika menyodorkan proposal untuk meminta donasi. Maka pemberitaan pun diatur dan dimanipulasi sedemikian rupa. Pokoknya mirip drama.

Ingatan ini berkelebat ketika saya berhadapan dengan Bahar, ketua lembaga konservasi alam Wanaraya di lingkungan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi, dalam film “Sokola Rimba” besutan Riri Riza. Maka, ketika ada anak buahnya bernama Butet Manurung (Prisia Nasution) yang tulus terpanggil mengajari baca tulis dan berhitung  anak-anak Suku Kubu atawa dikenal sebagai Orang Rimba, yang bermukim di hulu dan hilir Sungai Makekal, Taman Nasional Bukit Dua Belas,  pun disinisi, diledek sebagai pahlawan pendidikan.

“Mereka itu bukan urusan kita,” kata Bahar. Ia pun melarang Butet terlalu berempati dalam mengajar anak Rimba, karena (mungkin) dianggap merepotkan  dan hanya akan menghabiskan anggaran.  Butet boleh mengajar mereka, tapi sekadarnya saja untuk kepentingan publikasi.  Butet terpukul. Namun, Butet yang pada awalnya datang ke sana lantaran tidak ada kegiatan setelah lulus kuliah, telanjur jatuh cinta pada anak-anak Suku Kubu. Ia bertekat terus mengajar bahkan hingga ke Hulu tanpa sepengetahuan atasannya. Di sana ia bertemu peneliti asing yang berseberangan dengan Bahar. Berinteraksi intensif dengan Anak-anak Rimba yang tidak semuanya antusias menerima pelajaran baca tulis dan hitung. Bahkan Butet mengalami pengusiran.

Bagi saya “Sokolo Rimba” tidak hanya mengetengahkan perjuangan Butet mengajar anak-anak Rimba secara bersahaja namun menggetarkan, tapi juga menyodorkan pertanyaan makna keberadaan manusia bagi manusia lainnya. Saya terkesan ketelatenan Riri mengerjakan film ini yang hasilnya jauh lebih menyentuh dan realitis ketimbang film “Laskar Pelangi” maupun “Sang Pemimpi”.

“Sokola Rimba” seperti membuka pemahaman baru, bahwa pendidikan tidak harus selalu untuk menaklukan alam dan mengeksploitasinya guna mencapai kemakmuran sebagaimana mimpi-mimpi yang dikhotbahkan buku-buku motivasi. Pendidikan adalah cara manusia merespons kehidupan sekadarnya. Karena hanya dengan cara itu manusia akan dapat hidup selaras dengan alam.    

Film ini diangkat dari catatan Butet Manurung atas pengalamannya mengajar anak-anak Rimba. Saya belum membaca bukunya. Baru belakangan setelah menonton filmnya saya googling foto Butet di internet. Sosok yang cantik, berwibawa, dan terkesan tegas dan berkarakter. Prisia Nasution yang memerani Butet di film “Sokola Rimba” memang lebih molek dari Butet, tapi saya rasa pilihan Riri Riza kepada Prisia Nasution tidak salah. Selama beberapa hari setelah menonton film ini saya seperti dihantui oleh aktingnya, dan terutama suaranya yang merdu, hangat, namun mendalam ketika ia bercengkrama atau sekadar menyapa anak-anak Rimba yang dicintanya. Bahasa orang Rimba terdengar indah sekali.

Comments