Eksotika Masa Kolonial



gambar diambil dari alluva.wordpress.com

Saya membaca novel  “Tenggelamnya Kapal van Der Wijck” karangan Hamka saat duduk di tsanawiyah.  Lebih dari dua puluh tahun sesudahnya seorang kawan mengajak saya menonton film berjudul sama. Film ini memang diangkat dari novel terbitan Balai Pustaka pengujung tahun 30-an itu (atau bisa juga sebaliknya, novel klasik itu mengangkat film ini). Dalam perjalanan ke bioskop tempat saya dan kawan saya janji ketemu dan nonton, saya berusaha mengingat-ingat cerita novel itu. Tidak terlalu berhasil. Lamat-lamat saya hanya ingat sebagian besar cerita novel ini bergerak dari surat menyurat sepasang kekasih yang cintanya ditentang adat dan budaya. Selebihnya adalah ingatan bahwa novel ini dituduh plagiat oleh Pramoedya Ananta Toer.

Saya segera mengenyahkan tuduhan plagiat, dan berupaya menggali ingatan tentang surat-surat itu.  Surat-surat yang berisi letupan perasaan dan harapan sepasang kekasih itu, Zainudin dan Hayati—nama kedua tokoh utama ini saya ingat setelah menonton filmnya--berbalut bahasa yang sangat indah bagi saya pada usia remaja itu. Untuk masa sekarang bahasa yang digunakan tokoh-tokoh novel ini mungkin terdengar terlalu berlebihan atawa lebay.  Kini saya menonton filmnya dan bahasa yang digunakan dalam dialognya dibiarkan sebagaimana dalam novel. Kawan saya menanggapi sinis peristiwa-peristiwa  dan sikap tokoh dalam film ini. Misalnya, hanya  lantaran cintanya tertolak, Zainudin jatuh sakit. Mengigau dan meratap-ratap memanggil-manggil Hayati.  Seakan penolakan cinta itu merupakan peristiwa maha dahsyat yang tak tertandingi penderitaannya.

Hayati yang semula membalas cinta Zainudin dan keduanya bertangis-tangisan mengucapkan janji setia, berubah secara mendadak. Hayati datang ke arena pacuan kuda di Padangpanjang bersama kawannya dari kalangan berada dan bergaya hidup ala bangsa Eropa dan bergaul akrab dengan para bule.  Di sana Hayati bertemu dan Aziz, pemuda kaya  yang kemudian dipilihnya menjadi suami karena dianggap lebih menjamin masa depan  disamping memiliki asal usul yang jelas.  Gaya hidup Hayati pun turut berubah, bergaul dengan sosialita pada zamannya yang penuh pesta pesta.  Dengan tega Hayati meninggalkan Zainudin yang berupaya mengejarnya.

Zainudin terempas dalam kehancuran harapan.  Kondisi ini memicu Zainudin menulis cerita dan mendongkrak tiras koran yang memuatkan cerita yang ditulisnya. Kesuksesan Zainudin membuatnya dipercaya memimpin penerbitan di Surabaya. Di kota ini karirnya makin cemerlang. Novel-novelnya laku keras dan usaha penerbitannya makin berkibar. Lelaki kampung yang miskin itu kemudian berubah menjadi saudagar. Rumahnya besar dengan taman-taman yang asri hijau memikat mata. Di kota ini Zainudin bertemu lagi dengan Hayati yang pindah ke kota itu bersama Aziz.  Namun Keadaan berbalik.

Aziz yang dirundung kesialan lantaran gaya hidup hedonisnya akhirnya ditampung di rumah Zainudin. Bahkan Azis menyerahkan Hayati pada Zainudin. Pergolakan pun terjadi dalam batin Zainudin. Antara menolak dan menerima kembali Hayati yang pernah mengkhianatinya. Dengan hati tercabik dia memilih berteguh dengan pendiriannya menolak Hayati dengan dalih Hayati tetaplah milik Aziz.
 
diambil dari bukubukubekas.wordpress.com
“Hayati yang dulu telah pergi. Perempuan yang kuhadapi sekarang bukan Hayati,” begitu Zainudin mendustai hatinya sendiri. Bagi kebanyakan penonton remaja yang mempersetankan nalar cerita, film “Tenggelamnya Kapal van Der Wijck” agaknya berhasil mengaduk-aduk perasaan  dengan gambar-gambar eksotik masa kolonial. Tidak heran film ini mendulang sukses dengan perolehan penonton lebih dari 1,5 juta orang*.  Tak peduli nalar cerita film ini menyedihkan.  Nalar cerita yang segera digugat adalah pendeknya rentang waktu dalam cerita film ini. Perjalanan Zainudin dari seorang pemuda kampung yang hancur menjadi seorang saudagar hanya berlangsung dalam dua tahun. Padahal perjalanan dari Padangpanjang ke Batavia dan dari Batavia ke  Surabaya  yang masa itu ditempuh menggunakan kapal laut bisa memakan waktu berbulan-bulan.  Setting ruang film ini juga anomali. Di manakah Kapal van Der Wijck teggelam?  Kalau sudah menyeberang berarti bukan di Surabaya, tetapi Zainudin menyusul ke rumah sakit yang menampung para korban menggunakan mobil.

Kemudian setting tahun tahun 1930-an seakan lesap begitu saja. Kehidupan berjalan normal layaknya di sebuah negeri antah berantah yang damai tenteram kecuali oleh urusan cinta yang berlarat-larat. Namun memunculkan atmosfer 1930-an juga bukan berarti harus menampilkan letusan senapan dan jeritan rakyat yang dicambuki kompeni.   

Jika menengok perjalanan sejarah sastra di Hindia Belanda, masa 1930-an merupakan masa yang ketat dalam dunia penerbitan novel. Banyak penerbit-penerbit yang diberangus lantaran menerbitkan bacaan-bacaan berbahaya, yaitu bacaan-bacaan yang mengandung ideologi komunis atawa islamis yang mengungkap kondisi riil penjajahan. Penerbit-penerbit ini oleh D.A. Rinkes, sebagaimana dikutip oleh Sapardi Djoko Damono, disebut sebagai “saudagar kitab yang kurang suci hatinya” atau “agitator”.

Kemunculan Balai Pustaka merupakan upaya pemerintah kolonial mengendalikan bacaan yang disebarkan kepada pelajar-pelajar dan masyarakat luas. Pengendalian ini antara lain berwujud penerapan sensor sangat ketat terhadap novel-novel yang diterbitkan. Novel-novel bermuatan ideologi yang membahayakan pemerintahan kolonial jelas tidak bakal lolos. “Tenggelamnya Kapal van Der Wijck” adalah novel yang masuk kategori aman. Yaitu novel yang menjauhkan kesadaran masyarakat dari kondisi riil.

*filmindonesia.or.id

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka