Jalan Selingan



Model diperani oleh Wikan Satriati

Di katalog tertulis Perjalanan; kenali diri, kenali alam, kenali Maha Pemelihara. Rangkaian kalimat yang mendesakkan begitu banyak perintah, namun tidak mengesankan apa-apa. Ini adalah katalog pameran lukisan K.H. Isa O. Djakasuria di Salihara, Desember tahun lalu. Saya bersama seorang kawan secara tidak sengaja tersesat ke sana. Tujuan kedatangan kami awalnya untuk mengikuti pemutaran film dokumenter “Ali Sadikin”. Rupanya kawan saya keliru membaca jadwal. Jadilah kami iseng memasuki ruang pameran berbentuk silinder itu sekadar untuk membebaskan diri perangkap hujan. Saya menganggap ketersesatan menikmati lukisan-lukisan ini sebagai jalan selingan yang agak menggembirakan.  

Sambil membuka-buka katalog dan berpikir untuk mengambil gambar di ruang pameran, saya mendengar seorang ibu berjilbab lebar bercerita seputar pameran kepada kawan saya. Bercerita dengan cara yang begitu khidmah dan bergairah. Ia bersama kawan-kawannya yang menggagas pameran sebagai semacam bentuk persembahan kepada guru mereka yang telah almarhum.  Mereka adalah sekumpulan kaum urban berada yang mengisi waktu luang mereka dengan kegiatan seni.

K.H Isa O Djakasuria nama yang asing bagi saya yang tidak banyak membaca dunia seni rupa kita. Dalam katalog dijelaskan ia adalah seorang ulama kelahiran Banten. Seorang ulama yang pelukis dan pengarang. Karena Djakasuria juga menghasilkan beberapa buku kumpulan cerpen.  Saya yang acap bersinggungan dengan dunia sastra pun rasanya juga tidak mengenal nama ini. Baiklah, begitu banyak pengarang, dan Djakasuria hanya seorang dari mereka.  

Dalam jagat kesenian kita, ulama yang pelukis atau ulama yang seniman kita mengenal beberapa nama. Zawawi Imron, Mustofa Bisri, Acep Zamzam Noor.  Tiga nama sohor ini dikenal melahirkan karya-karya yang “nyleneh” dan oleh karenanya menimbulkan kontroversi, paling tidak jika dikaitkan dengan keulamaan mereka.  Mustofa misalnya pernah membuat lukisan Inul tengah bergoyang di tengah-tengah riungan para kiai. Karya Djaksuria pun rupanya tidak bersih dari “kenylenehan”. Dari 55 lukisan yang dipamerkan, saya mendapati sebuah lukisan dua pasangan sedang berciuman, yang mengagetkan mereka adalah pasangan sesama lelaki dan sesama perempuan. Lukisan ini berjudul Freudsm.  Tentu saja yang dimaksud adalah Sigmund Freud, psikoanalis berdarah Yahudi yang terkenal dengan teori bahwa hasrat seksual merupakan motif utama manusia untuk mempertahankan hidupnya. Tapi kenapa dalam lukisan yang berciuman sesama jenis?  Saya pikir maju sekali imajinasi Djakasuria ini.

Ada pula lukisan orang bersembahyang di dalam masjid Nabawi, kanal-kanal di antara bangunan-bangunan tua di Eropa, pasar tradsional di Solo. Garis dan warna lukisan Djakasuria menyarankan kesenduan.  Isbandiono dalam pengantar katalog meletakkan lukisan Djakasuria sebagai  trans-spiritual mendekati mazhab Kontemporer-post Modernis.

Saya mencari sudut yang tepat untuk mengambil  gambar, ibu berjilbab lebar itu masih ngobrol dengan kawan saya.  Inilah sayup-sayup yang saya tangkap.  Djakasuria adalah guru yang mengesankan. Mengajar agama tidak hanya melalui pondok pesantren. “Ia mengajar agama melalui kesenian lebih efektif!” katanya. Ia mempunyai sanggar di rumahnya untuk siapa pun yang ingin belajar melukis dan menulis.

Ibu berjilbab lebar itu mungkin benar, berkesenian membuat manusia menemukan kemanusiaannya. Dapat bercanda dan berimajinasi dengan bebas tanpa perlu merasa kehilangan wibawa keulamaannya. Sehingga tidak perlu terjadi insiden pembongkaran patung tiga figur di gerbang perumahan di Depok atau pembongkaran patung  tiga tokoh wayang golek Sunda  (Cepot, Udel,dan Dawala) karena dianggap sebagai berhala di Karawang. Keduanya masuk wilayah Jawa Barat.  

Lukisan-lukisan ditata berdasarkan masa pembuatan yang menggambarkan tahapan perjalanan mencari Tuhan. Di bagian berikutnya lukisan murid-murid Djakasuria.  Ruang pameran ditata dengan tema, waktu, dan lokasi tertentu. Mungkin era 80-an, mungkin di sebuah kota di Eropa yang hening. Terdapat kursi-kursi kayu panjang bersandaran seperti yang kita jumpai di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin.   Ketika saya keluar seseorang menghampiri  saya dan meminta bertukar kartu nama.

      

Comments