Kuasa Akal, Kuah Bakso



Damhuri Muhammad (kiri) dan Afrizal Malna,  Jumat (17/1)

Setiap keping sampah memiliki ceritanya sendiri. Kalimat ini terlontar dari Afrizal Malna saat penyair berkepala plontos itu mampir dalam obrolan saya dengan Damhuri Muhammad di warung pelataran Taman Ismail Marzuki, kemarin. Afrizal muncul seperti orang tersesat di antara meja-meja warung sebelum kami mengajaknya bergabung.  Kalimat itu muncul ketika ia bercerita tentang kunjungannya di sejumlah negara. Suaranya lembut, lirih hampir seperti berbisik.  Sepanjang obrolan ia tidak pernah memperdengarkan suara nyaring apalagi tawa cekakakan seperti umumnya seniman yang saya kenal.

Lontaran kalimat Afrizal ini bagi saya seakan makin menegaskan betapa seniman adalah mahluk urakan yang tidak menyukai ketertiban. Kota yang berjalan serba tertib, tanpa serakan sampah secuil pun jadi terasa membosankan.  Segalanya yang terlalu terencana dan terkendali seakan tidak memberi ruang bagi yang menyimpang dan menimbulkan ketakjuban. Padahal ketakjuban tampaknya menjadi elemen penting untuk memberi guncangan pada yang datar dan lurus.

Benarkah demikian? Mungkin saja. Mungkin saja yang datar dan yang lurus membuat orang merasa nyaman dan baik-baik saja. Saya pernah mendengar bahwa karya-karya besar lahir dari kondisi yang tidak tenteram, penuh guncangan, tertekan, tak terduga. Dalam sejarah yang kita baca rasanya kita memang selalu menemukan bahwa  tak banyak karya-karya yang lahir dari kondisi normal. Namun benarkah kota yang tertib dan tak ada secuil sampah berserakan di sudut  gang-gangnya yang datar dan mulus menunjukkan tidak adanya guncangan. Paling tidak itulah kesan yang saya tangkap dari obrolan ngalor ngidul dengan penyair Abad yang Berlari itu.

Saya mendengar dia menyebut Prancis bukan kota yang menarik. Ini kota untuk orang jalan-jalan dan bersenang-senang, kota yang menyembunyikan darah di antara gedung-gedung tuanya yang megah dan terpelihara. Bukan hanya puisi yang ditulisnya yang simbolik, bahkan kalimat-kalimat dalam obrolan ngalor ngidul pun Afrizal penuh simbolik. Ia mungkin mahluk yang paling simbolik yang pernah saya kenal.  Sepanjang obrolan saya menangkap begitu banyak kalimat simbolik. Kadang saya merasa tidak perlu terlalu serius untuk menafsirnya. Sangat mungkin saya akan tersesat. Biarlah, saya pikir ketersesatan acap lebih nikmat dan inspiratif.

Cara seperti itu pula yang saya lakukan saat menghadapi puisi-puisi Afrizal Malna. Saya tidak merasa perlu mengulik makna dari gumpalan kata-kata dalam puisinya yang mengangkut aneka benda-benda dari dunia urban. Bagi saya, karya sastra seperti puisi, bahkan novel dan drama, tidak selalu harus direnungkan dan dicari makna yang terpendam di balik tampilan fisik.  Ia juga bisa dinikmati melalui sensasi tubuh yang ditaburkannya.

Damhuri Muhammad, cerpenis dan kritikus kelahiran Sumatera Barat, punya cara yang selaras dengan pembawaannya yang serius. Menurutnya kita terlalu jauh terperangkap pada rasionalitas. Rasionalitas yang kita kenal adalah rasionalitas Barat. Dan kita, masyarakat yang hidup dalam tradisi Timur telah berlaku sewenang-wenang ketika mendekati persoalan tradisi Timur dengan menggunakan rasionalitas Barat. Maka kita akan ‘gagal’ (tanda kutip dari saya) ketika mendekati puisi  Afrizal melalui rasionalitas. Nah!

Puisi-puisi Afrizal tidak ditulis dengan pikiran melainkan tubuh, yaitu tubuh yang memberi kesaksian, begitu kira-kira Damhuri melontar gagasan. Maka cara yang tempuh untuk mendekati  Afrizal adalah dengan tubuh. Sejujurnya, bagi saya gagasan Damhuri ini juga penuh ungkapan simbolik yang butuh kerja penafsiran yang melelahkan. Tapi ini membuat saya curiga, benarkah saya manusia modern yang sudah terlalu jauh terjerat dalam rasionalitas buah filsafat modern yang memuja kuasa akal? Oh! Untunglah kecurigaan saya segera ditepis oleh celetukan Afrizal, bahwa untuk memahami puisinya orang harus belajar membuat kuah bakso. Doi memang memesan bakso dengan kuahnya yang panas mengepul. Pilihan menu yang tepat di tengah gemiricik hujan. Eh, ini menu pilihan tubuh atau akal ya?

Baiklah, kembali ke soal  ‘setiap keping sampah mempunyai ceritanya sendiri’.  Afrizal menyebut Singapura sebagai salah satu negeri yang terlalu tertib, terjadwal, dan tidak memberikan ruang bagi sekeping sampah pun di jalan-jalannya yang mulus dan lurus.  “Saya tidak suka Singapura,” katanya memberi penegasan.

Singapura, bagi saya, tidak hanya mengisahkan keberhasilan rasionalitas mengatur masyarakatnya yang membuat orang kehilangan setiap keping sampah yang memiliki ceritanya sendiri, tapi juga telah menciptakan tubuh-tubuh yang selalu bergegas menyembunyikan kesepian mereka. Aduh, saya kok jadi ketularan simbolik sih!    

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka