Apa yang Diberikan Kedewasaan Padamu?




Model diperani Molly.
Pada paruh terakhir tiga puluhan usia saya sekarang, saya dikaruniai tiga orang anak. Saya ingin membicarakan mereka—terkhusus Si Bungsu yang kini duduk di Taman Kanak-Kanak— setelah membaca novel The Little Prince Antoine  de Saint Exupery.  Saya selalu tergoda memikirkan apa saja yang ada dalam pikiran bocah usia lima. Ketika ia berlaku membangkang, atau bermanja, apa sebenarnya yang sedang ia pikirkan? Apa motif tindakan mereka. Benarkah semata digerakkan oleh naluri? Kita, para orang dewasa, acap berpikir bahwa cara berpikir anak-anak itu aneh, tidak rasional seperti manusia pra-modern.

Padahal, bisa jadi orang dewasalah yang aneh. Mereka selalu mengaitkan dan mengukur apa pun dengan logika, dengan huruf-huruf dan angka. Orang dewasa, seperti kata Pangeran Kecil, selalu memerlukan penjelasan dan kepastian.  Orang dewasa akan sulit merasa bahagia justru karena mereka selalu menggunakan logika.  Mereka adalah para pemuja logika.

Saya kerap berpikir selalu ada yang bersembunyi di balik pikiran dan tindakan anak-anak.  Kita dipaksa bersikeras menafsirkannya. Di titik ini kita melihat betapa logika dipermainkan oleh yang non logika. Kau tahu tidak ada kerja penafsiran yang sempurna. Kita akan menyerah dengan mendesah, “ah sudahlah!”.  Tak jarang keputus asaan kita menafsirkan yang benar menjerumuskan kita pada kemarahan. 

The Little Prince Exupery membuat saya ingin menimbang kembali makna dewasa, apa saja yang diberikan kedewasaan pada kita? Novel ini bahkan membuat saya kangen menatap mata bungsu saya atau bocah mana pun berlama-lama, mendengar dan menyimak apa pun yang mereka bicarlakan. Demi Tuhan, mereka adalah keajaiban yang tak habis membuatmu takjub.  Barangkali kanak-kanak adalah masa di mana kebahagiaan menemukan tempatnya yang paling murni.

Apakah orang dewasa tidak mungkin lagi mendapatkan kegembiraan yang murni? Tidak, sejauh mereka memilih membuang jiwa kanak-kanak di dalam diri mereka. Apakah kedewasaan harus selalu berarti keseriusan, kekakuan? Betapa menyedihkan. Orang jenis ini kau tahu akan mendapati dunia serupa penjara. Tak ada orang yang mau tinggal dalam penjara. Begitulah faktanya. Orang-orang dewasa sesungguhnya sedang memelihara kewarasan manakala ia melakukan kegiatan yang sejatinya sangat kekanak-kanakan: memelihara burung, mengoleksi kendaraan, memancing. ..

Comments