Drama Kepahlawanan di Sangasanga



Palagan Sangasanga

Pekan lalu saya kelayapan sampai ke Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Beberapa kawan yang meminta saya ke sana untuk mencari bahan penulisan feature tentang Peristiwa Merah Putih 27 Januari 1947. Ini adalah peristiwa heroik para pejuang Sangasanga mengobarkan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Hal pertama yang saya pikirkan adalah bertemu dan mewawancarai pelaku sejarah yang mungkin masih tersisa. Usia mereka tentu sudah sangat sepuh. Saya membayangkan mereka berbicara berkobar-kobar tentang semangat berkorban demi membela tanah air. Rupanya saya kecele. Hampir tak ada kesan heroik maupun hasrat menunjukkan jasa-jasa mereka di masa lalu. Bahkan, saat ditanya soal motivasi mereka bergabung menjadi gerilyawan, dengan santai dan agak berkelakar H. A. Anwary, pejuang veteran kelahiran 15 Agustus 1915, menjawab bahwa tak ada seorang pun yang ingin dilahirkan menjadi pejuang di medan peperangan. “Mengerikan sekali,” ujarnya.

Mereka berjuang semata karena situasi dan kondisi yang menuntut demikian. “Semua orang angkat senjata dan bergerak melawan Belanda. Malu saya kalau tidak ikut berjuang,” kata lelaki yang memiliki puluhan buyut sampai dia lupa jumlahnya. Wajahnya terlihat keriput dan letih. Saya menawarkan air mineral kepada Anwary yang terlihat terbatuk-batuk. Matahari yang beberapa pekan belakangan dilipat gumpalan awan, hari itu menampakkan diri dengan riang. Anwary ditemani rekan seperjuangan bernama Sujoko yang lebih muda beberapa tahun saat melayani wawancara saya usai keduanya mengikuti upacara peringatan Peristiwa Merah Merah Putih di lapangan Gelora Pantai, kompleks perkantoran Pertamina, pada siang yang hangat itu.

Penuturan mereka memberi kesan kepada saya bahwa perjuangan mereka dulu benar-benar tidak didorong oleh keinginan hebat membela negara. Tidak heran apabila mereka juga tidak menggebu menuntut pemerintah memberi santunan atau penghargaan apa pun. Dapat hidup normal dan bekerja dengan tenang saja sudah cukup bagi mereka. “Semasa itu kami tidak tahu dan tidak peduli bahwa banyak terdapat kandungan minyak di perut bumi Sangasanga,” kata Sujoko, sekalipun dulu ia bekerja di bagian instalasi listrik di perusahaan pengeboran minyak pemerntah kolonial Belanda bernama NV De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM).     

Mungkin Sujoko, Anwary dan para pejuang veteran lainnya juga tidak mengerti  bahwa selain rempah-rempah, kekayaan minyak bumi yang terkandung di perut Bumi Pertiwi Sangsanga mendorong bangsa-bangsa yang jauh dari daratan Eropa, dengan segenap kekuatan militer mereka, berbondong-bondong datang dan berebut menguasainya. Kehadiran para penjajah kemudian membentangkan lakon peperangan dan kepahlawanan.

Bagi para pelajar kita pun nama Sangasanga barangkali terdengar aneh manakala mengaitkannya dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selama ini hanya Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, dan Bandung dan kota-kota lain yang kerap menjadi perbincangan bila tema kepahlawanan dan  peperangan berada di sekitar kita. Padahal, Sangasanga merupakan salah satu wilayah yang menyimpan letupan sejarah yang sangat mungkin menjadi sumbu pemicu terjadinya drama penjajahan, peperangan, dan kepahlawanan di seantero Nusantara dalam rentang waktu berabad-abad lamanya.

Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, Sangasanga sudah menjadi wilayah penghasil minyak yang sangat penting. Produksi minyak di Sangasanga dimulai sejak 1897. Perusahaan pengeboran minyak yang pertama kali mengeksploitasi minyak di Sangasanga bernama Mathilde, milik pemerintah kolonial Belanda. Raja Muhammad Sulaiman dari Kerajaan Kutai yang memberi konsesi kepada Belanda untuk mengoperasikan sumur  minyak di sejumlah wilayah di Kalimantan, termasuk Sangasanga.

Namun, lazimnya watak penjajah yang serakah, Belanda mengeksploitasi sumur-sumur minyak dan masyarakat lokal habis-habisan. Kaum penjajah hidup dalam gelimang sumber daya alam yang melimpah, sementara rakyat lokal hidup dalam derita penindasan tak tertakar. Situasi inilah yang menjadi sumbu meletupkan peperangan yang berpuncak pada 27 Januari 1947 yang kelak dikenal sebagai peristiwa Merah Putih Sangasanga yang kemudian diperingati saban tahun hingga sekarang.

Anwary menuturkan, ketika Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 di Jakarta, para pejuang kemerdekaan di Sangasanga bergabung dalam badan-badan kemerdekaan. Ada Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) dan Badan Penolong Perantau Djawa (BPPD). Para pejuang bersama rakyat bergerak merebut Kalimantan dari pendudukan Belanda. Dengan semangat perjuangan membela tanah air para pejuang bergerilya mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Tak terhitung harta benda dan nyawa yang dikorbankan dalam peperangan ini. 
H.A. Anwary (kiri) dan Sudjoko, Senin (27/1).
**
Kekuasaan Belanda di Indonesia (Hindia Belanda) sempat mengalami jeda beberapa tahun dengan datangnya tentara Jepang. Dalam rangkaian Perang Pasifik (Perang Dunia Kedua 1942-1945) Jepang menginvasi secara serentak daerah-daerah Pasifik dan Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda. Jepang berambisi menguasai Hindia Belanda terutama untuk mendapatkan berbagai bahan mentah dan minyak bumi guna menghidupi industri di negara mereka dan membiayai peperangan menaklukkan negeri-negeri sekitarnya. Jepang mengirim kekuatan armadanya yang dipimpin Laksamana Madya Tokahasji.

Jepang menguasai Kalimantan Timur pada permulaan 1942, setelah berhasil melumpuhkan kekuatan Belanda. Pada tanggal 24 Januari 1942 tentara Jepang mendarat di Balikpapan. Lalu bergerak ke Banjarmasin, Samarinda, dan seluruh wilayah Kalimantan. Secara otomatis Jepang lantas menguasai kota-kota penting, termasuk Sangasanga. Belanda yang kalah akhirnya menyerahkan kekuasaannya kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalimati, Subang, Jawa Barat.

Dunia tidak tinggal diam atas sepak terjang Jepang di negara-negara Asia. Maka awal tahun 1944 Sekutu menyerang Jepang untuk pertama kalinya melalui serangan udara. Sasaran ditujukan pada instalasi-instalasi militer dan minyak Jepang yang berada di Sangasanga. Pesawat Sekutu mengebom tangki-tangki minyak Jepang. Rakyat Sangasanga yang semula menyambut gembira kedatangan Jepang yang menyebarkan propaganda “saudara tua”  kini berbalik membantu Sekutu menyerang proyek-proyek vital pendudukan Jepang. Hingga akhirnya cengkeraman kekejaman Jepang di Hindia Belanda berakhir. Jepang menyerahkan Indonesia kepada Sekutu pada pertengahan Agustus 1945, setelah Sekutu menjatuhkan bom atom di Nagasaki dan Hirosima.    

Setelah seluruh personel dan perbekalan batalion infanteri Australia selesai mendarat di Manggar pada 8 September 1945, pada 10 September dilakukan upacara penyerahan Jepang secara resmi di atas kapal HMS Burderkin. Selanjutnya Australia menduduki Sangasanga pada 11 September sekitar pukul 16.00. Rakyat Sangasanga menyambut gembira pendudukan Australia karena merasa telah dibebaskan dari kekejaman perang dan mulai kembali kehidupan normal. Sebelum kekalahan Jepang hubungan rakyat Sangasanga dengan tentara Sekutu, khususnya tentara Australia yang tergabung dalam Z Force, terjalin baik.

Para teknisi pengeboran minyak mulai berdatangan untuk merehabilitasi sumur-sumur minyak yang berjumlah lebih dari 600 di Sangasanga dan Anggana. Kesempatan bekerja bagi bekas pegawai perusahaan minyak NV De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) pun kembali terbuka. Namun kehidupan normal itu tidak berlangsung lama. Setelah pasukan Australia ditarik dari Sangasanga untuk kembali ke negerinya, tentara Netherlands Indies Civil Administraton (NICA) datang menggantikan. NICA berambisi kembali menjajah di Sangasanga.  

Pada saat bersamaan rakyat Sangasanga mendengar kabar dari Jawa bahwa Belanda kembali datang untuk melanjutkan penjajahan. Tentara Belanda kembali datang dengan membonceng Sekutu.  Kabar tersebut tak pelak meluapkan kemarahan para pejuang dan rakyat Sangasanga. Tersebut sejumlah tokoh pejuang berperan mengobarkan perlawanan terhadap Belanda dan merebut kemerdekaan Indonesia di Kota Minyak Sangasanga. Ada Soekasmo, Hamid Kasim, Tukiman, M. Badrun; juga Budioyo, tentara KNIL yang memihak perjuangan bangsa Indonesia.

Melalui peperangan dahsyat yang menelan korban ribuan nyawa, para pejuang Sangasanga berhasil mengibarkan bendera merah putih di tangsi Sangasanga. Perusahaan pengeboran minyak Belanda BPM diambil alih dan berganti nama menjadi Perusahaan Minyak BPRI. Untuk mengenang peristiwa ini pemerintah Kaltim membangun museum Monumen Merah Putih dan Museum.

Sungguh Sangasanga tak dapat dilepaskan dari drama perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia merebut kedaulatan, termasuk kedaulatan  mengelola sumber minyak bumi yang banyak terdapat wilayah ini.

Comments