Hantu Waktu



model diperani oleh Virginia Ollivianty

Ibu saya pernah berkomentar perihal saya yang acap bepergian, hinggap di satu kota ke kota lain. Seperti burung, dia bilang.  Mungkin ia membayangkan saya terbang meliuk-liuk di ketinggian, menyeberangi lautan. Lalu terlontar ke kota yang asing.  Menemukan pemandangan dan pengalaman lain. “Pasti menyenangkan,” seru istri saya. Dia gemar menceritakan kembali cerita pengalaman saya kepada ibu saya.

Perjalanan yang menyajikan pemandangan dan pengalaman baru kerap membuat kita tidak merasa bosan. Rasa penasaran yang membangkitkan keriangan, sekurangnya itulah yang saya rasakan . Laju waktu kemudian terasa lebih lekas bergegas dan pendek. Sebaliknya, berdiam di tempat yang sama dengan kegiatan yang tak jauh berbeda, acap mendatangkan perasaan bosan. Laju waktu jadi terasa lambat dan panjang.

Jadi, panjang dan pendeknya waktu ditentukan oleh perasaan kita dalam merespons ruang.  Tetapi benarkah demikian? Saya selalu merasa penasaran dengan waktu. Terbuat dari apakah ia sesungguhnya? Apakah waktu tidak dapat dipisahkan dari ruang? Akan begitu banyak pertanyaan untuk waktu. Saya tidak pernah mendapatkan jawabannya secara meyakinkan selain menghayal-hayal. Albert Einstein percaya waktu dapat ditembus. Menurut teorinya, orang dapat ulang alik ke masa lalu ke masa kini, dari masa kini ke masa depan.  Artinya, orang dapat mengulang-ulang hidupnya sebanyak yang ia mau.

Kau bisa memilih jalur waktu yang paling menyenangkan. Jalur waktu yang tidak menyenangkan tetap ada dan berjalan. Dan kau dengan pilihan yang salah ada di sana. Kau berada di tiga jalur waktu yang berbeda  di ruang yang sama. Di antara tiga, di mana kau yang sebenarnya? Alan Lightman menulis novel Mimpi-Mimpi Einstein dan mencoba mewujudkan segala kemungkinan mengenai waktu. Ia tidak selalu bergerak lurus seperti yang kita kenal. Di sebuah kota waktu dapat hadir dengan cara mundur. Akibat mendahului sebab. Orang dapat membelah-belah waktu.  Khayalan tentang waktu.  Novel ini mungkin tetap tidak bisa menjawab mengapa laju waktu di kota-kota besar super sibuk seperti Jakarta terasa lebih lekas ketimbang di desa lereng gunung nan sunyi? Benarkah laju waktu di kedua wilayah itu berbeda? Yang pertama lebih gegas dari yang lain?

Kalau  kita bisa ulang alik menembus waktu, pelajaran sejarah mungkin jadi lebih mudah. Kita bisa mengetahui langsung bagaimana Adam memulai hidupnya, bagaimana tongkat Musa membelah laut merah,  mengapa Majapahit runtuh, sekaligus mencegah segala musabab yang menghancurkan bumi. Membatalkan perkawinan pasangan yang kelak melahirkan tokoh-tokoh jahat dalam sejarah umat manusia. Menciptakan dunia sebagai tempat yang lebih layak dan nyaman.  Namun, kalau kau bisa ulang alik mengarungi waktu, lalu bagaimana saya menghitung waktumu?

Rupanya istri saya tidak pernah menceritakan kembali cerita saya mengenai kemungkinan waktu kepada ibu saya.  Mungkin karena tidak menarik, tidak menghibur, sukar dijangkau daya hayal mereka. Saya akan segera bergegas melupakan masa lalu. Teringat ucapan seseorang yang menohok: orang yang mengingat terus masa lalunya adalah orang yang tak siap menghadapi masa depannya.
Peribahasa ini mungkin tidak akan berlaku jika kita tahu waktu bisa ditekuk-tekuk, bisa digumpalkan sesuai kebutuhan!  

Comments