Eksistensi Anak Revolusi



Model diperani oleh Randy Anggriawan


(ditayangkan di Lampung Post, Minggu 20 April 2014 dengan judul, Memoar Mantan Aktivis)
Pada tahun-tahun terakhir kekuasaan rezim Orde Baru (Orba), nama Budiman Sudjatmiko begitu santer disebut-sebut media,  mampir dalam hampir setiap obrolan mahasiswa, aktivis, buruh, sastrawan, intelektual, dan tentu saja kalangan yang berada dalam lingkaran kekuasaan. Sebabnya cuma satu: berani melawan taring kekuasaan Orba yang bengis. Akibatnya jelas: ia bersama gerombolannya diburu tangan-tangan kekuasaan untuk diberangus. Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang ia dirikan bersama kawan-kawannya disebut penguasa Orba sebagai organisasi tanpa bentuk, setan gundul, reinkarnasi Partai Komunis Indonesia (PKI) yang keji, gerakan pengacau keamanan, dan sederet sebutan negatif lainnya.

Peristiwa Sabtu Kelabu yang populer dengan sebutan Kerusuhan Sabtu, 27 Juli (Kudatuli) 1996, yang banyak menelan korban nyawa dipicu perebutan gedung DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, itu dituduhkan penguasa Orba kepada PRD sebagai pelakunya. Padahal semua tahu itu rekayasa Orba. Perburuan, penculikan, pembunuhan pun membayang-bayangi Budiman dan kawan-kawannya. Budiman tertangkap. Disiksa. Tapi ia tidak mati, ia selamat. 

Enambelas tahun kemudian ia menuliskan pengalamannya yang mencekam itu dalam sebuah buku “Anak-Anak Revolusi”. Sabtu terakhir Februari 2014 saya mengikuti diskusi buku tersebut di sebuah kafe di Jakarta. Dalam acara yang digelar Obrolan Pembaca Media Indonesia (OPMI) itu saya duduk tepat berhadapan dengan Budiman, hanya dihalangi meja. Dalam diskusi yang berlangsung santai dan intim dan hanya diikuti sekitar 20-an orang, Budiman tampak kinclong dengan kemeja putih tersetrika rapi dan kuku jejari tangan terlihat bersih seperti habis manicure padicure itu, membabar proses penulisan bukunya.  

Penulisan buku yang dikerjakan di sela tugasnya sebagai anggota dewan itu semula setebal 1.000 halaman. Budiman lantas menyerahkannya pada penerbit Gramedia. Sang editor yang kemudian bekerja keras menyunting dan mengeditnya hingga menjadi buku setebal 473 halaman yang menarik dan enak dibaca seperti novel detektif petualangan yang basah dengan kutipan kalimat bijak yang berasal dari syair lagu, puisi, novel, hingga teori-teori filsafat dan psikologi.  

Dalam buku pertamanya ini—direncanakan akan segera terbit buku kedua dan ketiga—Budiman mengisahkan perjalanannya sejak usia taman kanak-kanak hingga ia ditangkap dan diadili. Buku bergerak dalam dua alur. Alur pertama dimulai sejak cakar-cakar kekuasaan Orba memerintahkan organ-organnya memburu dan menangkap Budiman dan kawan-kawannya akibat keberanian mereka membentuk PRD.  Munir, Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), pejuang HAM, dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) yang kelak mati diracun, mengabari Budiman bahwa pasukan intelijen tengah memburunya. “PRD akan digulung, Bud,” kata Munir.
 
Alur kedua dimulia sejak Budiman pertama kali mengenal istilah pemerintah. Mendengar istilah pemerintah yang terbayang di kepala Budiman kecil adalah sosok yang begitu berkuasa memerintah orang. Sosok itu mewujud pada seorang preman yang sangat berkuasa di terminal bus yang ada di kota kecilnya di Cilacap. 

Ada seorang pria paruh baya selalu berjaga di terminal itu. Aku membayangkan kata ‘pemerintah’ sebagai nama orang: sosok lelaki yang kerap berbaju cokelat itu. Lelaki tua beruban itu tampak begitu berkuasa. Ia sering berteriak lantang, memerintahkan bus untuk  jalan atau tetap diam menunggu penumpang. Hebat sekali pria sang pemerintah itu. walau bertubuh kecil, ia dapat memaksa para sopir bus bertubuh kekar mengikuti printahnya. Mereka bahkan sering telihat menyerahkan uang kepadanya, (hal.46).

Peristiwa yang mengguncang kesadaran masa kanaknya adalah kematian tragis Mbah Dimin, tetangganya, dengan cara menggantung diri lantaran tekanan kemiskinan. Mbah Dimin terjerat lintah darat, dan ia memilih mati lantaran tak mampu membayar hutangnya yang terus beranak pinak.  

Bagi saya buku ini menarik bukan karena penuturannya yang serupa novel, tapi juga karena penuturan novel itu mengamalkan resep kisah-kisah detektif laris, yakni kekerasan, kriminalitas, dan drama asmara yang romantis, hanya saja minus adegan seks. Kritik saya pada buku ini adalah hampir tidak adanya penjelasan yang rinci bagaimana dan dari Budiman mendapatkan sumber dana untuk ongkos bergerak kian kemari, memobilisasi masa.

Saya sempat menanyakan hal ini. Budiman menjawab, dana itu diperoleh dari urunan dengan teman-teman. Ia sendiri rupanya tetap mendapat kiriman wesel dari orang tuanya. Budiman berkilah bahwa ia memilih tidak menjelaskan soal dana itu dalam bukunya lantaran tidak tahu rinciannya. Teman-teman aktivis pasti tahu bagaimana cara bertahan dalam situasi perjuangan…” ujar Budiman. Tentu saja aktivis dan mereka yang bergaul dengan kalangan aktivis tahu, namun pembaca buku ini bukan hanya dari kalangan aktivis!

Saya juga bertanya, apakah pada buku kedua atau ketiganya ia akan menceritakan kisah remeh temeh seperti keterlibatannya dalam beberapa film komedi remaja picisan? Dengan cepat Budiman menjawab tidak. Kesannya ingin menutup keterlibatannya di film komedi remaja picisan yang pernah saya tonton itu. Justru Budiman menjelaskan rencananya untuk menuliskan kisah perjalanannya di Eropa, pengalamannya menonton pertunjukan musik dan opera di sana.

Ketika ada peserta yang menyinggung tentang kedudukannya sebagai anggota dewan, Budiman bercerita bahwa ia mengamalkan tahapan-tahapan dalam membela rakyat kecil yang secara konsisten diperjuangkannya. Yakni tahap eksistensi, toleransi, dan hegemoni. “Buku ini merupakan tahap eksistensi saya,” kata Budiman. Yaitu tahap ‘sekadar’ menunjukkan keberadaan dirinya. “Tahap toleransi adalah tahap ketika ide saya harus bertarung dengan ide-ide orang lain. Sedangkan tahap hegemoni adalah masa ketika ide-ide saya muncul sebagai pemenang dari ide-ide orang lain,” cetusnya. Itulah saat mewujudkan ide-ide. Baiklah… 
  

Comments