Fantasia Kepemimpinan


Model diperani Rezania Yolanda
Dalam beberapa bulan ini kita akan memasuki masa-masa yang riuh rendah untuk menjalani ritual memilih pemimpin baru. Mereka yang saat ini masih menduduki kursi kepemimpinan harus bersiap meninggalkannya. Karena akan segera datang penggantinya. Media bulanan menjadikan kepemimpinan sebagai topik utama. Termasuk majalah bulanan sebuah kampus yang ditangani seorang kawan.      

Kawan yang baik itu meminta saya membuat sejumlah tulisan bertema kepemimpinan. Untuk tulisan resensi dia menyarankan saya meresensi buku tentang pemimpin yang saat ini tengah happening seperti Jokowi, Dahlan Iskan, dan lain-lain. Dari toko buku di lantai dasar Blok M Square saya mendapatkan  buku Jokowi Spirit Bantaran Kali Anyar tulisan Domu D. Ambarita dkk. Namun setelah membelinya, saya justru lebih tertarik menulis resensi novel fantasi Hunger Games karangan Suzanne Collins. Saya pikir, sekalipun novel fantasi, Hunger Games berbicara banyak tentang kepemimpinan. Kawan saya setuju.    

Hunger Games bicara tentang kezaliman seorang pemimpin. Pemimpin seharusnya mengerahkan segala sumber daya, waktu, dan kekuasaan yang dimilikinya untuk mendukung dan mewujudkan  situasi yang paling mungkin bagi rakyat untuk berkembang dan mencapai prestasi setinggi-tingginya. Membuka ruang seluas-luasnya bagi terjadinya dialog dua arah guna menemukan solusi atau menyiasati aneka persoalan yang ada. Satu peribahasa bijak yang mengatakan bahwa pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang berani mengakui kesalahan. 

Berangkat dari sana, seseorang yang di pundaknya dimandatkan kewenangan untuk memimpin seharusnya menciptakan dan mengawal sistem yang memudahkan dan mendorong hadirnya keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan. Karena sejatinya tugas pemimpin tak lain adalah membawa kaum yang dipimpinnya ke gerbang kehidupan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Namun, Presiden Snow dalam novel ini berlaku sebaliknya. Dia menutup semua akses warganya untuk dapat berkembang. Bahkan, alih-alih memberi kehidupan yang layak, Presiden Snow justru mempreteli apa yang menjadi hak paling dasar warganya dengan memperlakukan mereka layaknya hewan yang hanya diperas tenaganya, diekploitasi tubuhnya demi langgengnya tampuk kekuasaan yang berada dalam genggamannya.

Ia menciptakan sistem yang begitu kejam dengan mengadakan permainan yang disebut Hunger Games. Tersebutlah Panem, dulunya adalah wilayah Amerika Utara. Panem terdiri dari 12 distrik dengan Capitol sebagai ibu kotanya. Dari pusat ibu kota ini Presiden Snow mengendalikan ke-12 distrik. Pada masa lalu sebenarnya terdapat 13 distrik. Namun distrik ke-13 kemudian dihancurkan lantaran kerap meletup pemberontakan dari wilayah tersebut yang merongrong kekuasaan tangan besi Presiden Snow.

Hampir semua distrik sebenarnya berpotensi memberontak, hanya saja tidak seagresif distrik ke-13. Nah, untuk memadamkan potensi sekecil apa pun dari warga ke-12 distrik lainnya Presiden Snow mengondisikan masyarakatnya tetap dalam keadaan bodoh, miskin, dan selemah-lemahnya. Namun, rupanya itu saja tidak cukup. Letupan-letupan kebencian kepada pemerintah pusat di tengah warga ke-12 distrik acap terjadi yang menyebabkan kericuhan. Maka Presiden Snow membuat Hunger Games. Permainan ini sekaligus sebagai peringatan kehancuran distrik ke-13 yang memberontak.

Ini adalah permainan hidup mati yang aturannya tunduk pada perubahan mendadak sesuai mood Presiden Snow. Setiap distrik harus mengirimkan dua orang wakilnya untuk menjadi peserta. Mereka yang terpilih sebagai peserta adalah terutama warga yang sangat miskin. Capitol akan memberi sekarung gandum dan beberapa makanan lainnya bagi keluarga yang anggotanya terpilih sebagai peserta. Strategi licik untuk memalingkan warga dari kezaliman Presiden Snow terbukti—paling tidak untuk sementara— ampuh. Warga ke-12 distrik melupakan penderitaan dan sibuk menyaksikan permainan yang ditayangkan ke seluruh pelosok distrik melalui siaran televisi secara langsung. Pada akhir permainan yang memunculkan satu orang pemenang, Capitol akan menghadiahi sang pemenang dengan kebutuhan pokok untuk distriknya disamping hadiah untuk pribadi pemenang. Pemenang juga bertanggung jawab menjadi mentor bagi anak laki-laki dan perempuan yang mengikuti pertarungan “The Hunger Games” di tahun-tahun berikutnya.

Dari distrik 12,  muncullah Primrose, bocah lelaki 12 tahun dari keluarga papa. Kondisi fisik dan mentalnya yang lemah membuat sang kakak, Katniss Everdeen, tak tega membiarkan Primrose menjadi tumbal dalam permainan tersebut. Katniss pun maju menggantikan sang adik yang kasihinya demi mendapatkan sekarung gandum. Bersama para peserta yang mewakili distrik masing-masing, Katniss dikarantina untuk mempersiapkan permainan. Mereka dilatih oleh Haymitch, pemenang Hunger Games tahun sebelumnya. Di sanalah Katniss bertemu dengan Peeta Mellark, wakil dari distrik yang sama. Peeta Mellark sangat mencintai Katniss sejak gadis itu berusia 5 tahun. Keduanya kemudian diam-diam bersepakat untuk  tidak saling membunuh. Sebaliknya memadukan kekuatan untuk melakukan pemberontakan terhadap Capitol.  Hubungan mesra dan rencana pemberontakan kedua peserta ini terendus Capitol. Berbagai cara ditempuh Presiden Snow untuk membunuh keduanya, termasuk mengubah aturan Hunger Games seenak perutnya. Namun, sejarah akan mencatat Katniss dan Peeta mempersembahkan permainan Hunger Games yang tak terlupakan.

Novel ini begitu banyak menyusupkan pesan tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin mengelola amanah yang dibebankan di atas pundaknya. Namun, pesan ini hampir tidak terasa lantaran begitu piawainya pengarang membuat alur, mendeskripsikan setiap karakter, dan tentu saja serunya petualangan yang dilakoni tokoh-tokohnya.

Selain menampilkan karakter kepemimpinan Presiden Snow  yang kejam mengorbankan warganya demi keagungan dan kelanggengan kekuasannya, novel ini mengetengahkan kehidupan pribadi Katniss yang memiliki karakter sebaliknya. Katniss menanggung peran sebagai kepala keluarga di usia belia menggantikan ayahnya yang tewas dalam ledakan di tambang batubara. Lihatlah, sebagai pemimpin di dalam keluarganya begitu gigih Katniss membela anggota keluarganya. Ia rela menggantikan Primrose maju dalam permainan yang taruhannya adalah nyawa.

Begitulah seharusnya menjadi seorang pemimpin. Seluruh energinya senantiasa dicurahkan untuk warganya bahkan bila harus mengorbankan nyawanya sendiri. Menjadi pemimpin yang menutup akses warganya untuk maju bahkan menindas mereka sejatinya pemimpin semacam itu tengah melawan takdir.  Cepat atau lambat kekuasaannya akan ambruk. Presiden Snow sejatinya merepresentasikan peran penguasa absolute, dan ini melawan takdir kepemimpinan. Ketika seseorang menjadi pemimpin, harus mewaspadai dan berlindung dari sikap seperti raja. Karena sikap ini akan menjerumuskan seorang pemimpin pada kehancuran.

Tentu saja, di luar perkara pesan kepemimpinan yang disusupkan secara cantik, novel fantasi ini menyajikan drama percintaan sepasang anak manusia yang menggugah emosi. Novel ini tidak hanya memberi hiburan yang mengasyikkan tapi kiranya mampu menambah kekayaan pengalaman terutama bagi anak-anak muda yang tengah gelisah mencari sosok pemimpin yang tegas dan rela berkorban yang makin langka di negeri ini.

“Hunger Games” merupakan buku pertama dari trilogi. Dua buku lainnya adalah “Cathcing Fire” dan “Mocking Jay”. Sebagaimana ketika diangkat ke layar lebar, trilogi novel ini meraup sukses besar di seluruh dunia. Sejumlah penghargaan yang dituainya antara lain California Young Reader Medal, dan dinobatkan sebagai "Buku Terbaik Tahun Ini" oleh Publishers Weekly' pada 2008. The Hunger Games terjual 800.000 eksemplar pada Februari 2010. The Hunger Games memuncaki daftar buku terlaris The New York Times pada November 2008, dan berada di daftar tersebut lebih dari 100 minggu berturut-turut. Saat adaptasi film The Hunger Games dirilis pada Maret 2012, novel ini bertengger di daftar buku terlaris USA Today selama 135 minggu berturut-turut. Penerbit Scholastic melaporkan bahwa 26 juta novel trilogi Hunger Games telah dicetak, termasuk novel dengan sampul edisi film.

Sejak perilisannya, The Hunger Games telah diterjemahkan ke dalam 26 bahasa, dan hak penerbitannya terjual di 38 negara. Di Indonesia hak penerbitannya dibeli Gramedia pada bulan Oktober 2009. Gramedia menerbitkan cetakan kesepuluh pada Desember 2013.


Data buku


Judul                : The Hunger Games

Penulis             : Suzanne Collins

Penerjemah     : Hetih Rusli

Penerbit           : Gramedia

Cetakan            :Kesepuluh, Desember 2013

Tebal                :408 Halaman

Harga               :Rp58.000

Comments