Martir yang Terkutuk

ilustrasi diambil dari pseudosupra.blogspot.com

Butiran keringat dingin mengalir di pelipis keriput Kiai Husein. Ia terlihat tegang. Bola matanya mendelik seperti hendak mengejar bayangan yang berkelebat meninggalkannya melalui jendela. Aku ingin menubruk tubuh ringkih lelaki itu, tapi sesuatu menahanku. Bahkan mulutku diam terkunci. Menyaksikan sinar lampu bolham di kamar Kiai Husein bagai meredup dan gorden kamar tersingkap, bergetar-getar, tertiup angin. 

Sejak itu aku mendapati wajah Kiai Husein selalu tampak murung. Kehilangan rasa percaya diri. Seribu pertanyaan memadati dadaku tanpa dapat kuungkapkan. Lelaki yang selama ini menjadi tempatku memperoleh segala jawaban atas berbagai persoalan itu, kini seolah berubah jadi pikun. Sifat ekspresifnya lenyap. Matanya selalu menghindar bertatapan langsung dengan mataku. Hingga aku terus menahan diri untuk bertanya tentang peristiwa malam itu.      

Aku mendapatkan jawaban dari seribu pertanyaan tentang peristiwa malam itu bertahun-tahun kemudian, ketika aku menjenguknya sepulang dari perantauan. Kian Husein makin tampak ringkih, suaranya bergetar lirih saat menceritakannya.

Malam itu Azazil datang ke rumah Kiai Husein. Moyang iblis dari zaman Nabi Adam itu telah mengembarai seluruh antero bumi untuk menemukan Kiai Husein. Azazil tampangnya masih serupa dengan saat pertama kali diciptakan Tuhan dari kobaran api. Kiai Husein sendiri mengaku tidak mampu, atau tepatnya tak ada bahasa manusia yang berdaya menggambarkannya secara rinci dan meyakinkan.    

“Apa keperluan Azazil mendatangimu, Kiai?” kataku, tak mampu membendung rasa penasaran yang bertahun-tahun ditimbun. Seperti biasa, Kiai Husein seolah sengaja mempermainkan emosiku, menahan kecamuk pertanyaan bersemburan dari mulutku. Aku tahu, sorot matanya memintaku tenang, jangan grasa grusu. Ia menyulut rokok, menyesap perlahan-lahan, meletakkannya di asbak, mengembuskan asap, lantas menarik napas dalam-dalam.    

Sebelum bertemu Kiai Husein, Azazil telah mendatangi satu persatu kiai-kiai besar di Timur Tengah. Ia mengetuk pintu kediaman imam-imam besar seluruh masjid di pusat-pusat spiritualitas dunia tanpa terkecuali. Namun, tak satupun dari mereka mampu mengabulkan permohonan Azazil. Mereka justru memping-pong Azazil hingga akhirnya sampai di rumah Kiai Husein yang terpencil di tepi perkuburan desa yang sepi.

“Apa permintaan Azazil itu, Kiai? Mengapa para imam besar itu tak mampu mengabulkan permintaannya?” kejarku, setelah lelah menunggu karena cukup lama Kiai Husein membiarkan keheningan berdiam seakan tengah menyiapkan ledakan dahsyat. Ia berdeham beberapa kali, seperti ragu melanjutkan ceritanya.

“Kamu pulanglah dulu, Karim. Bukankah kamu baru datang dari perantauan bertahun-tahun dan belum bertemu orang di rumah,” suara Kiai yang teduh seakan menghentikan laju darahku yang menggelegak oleh keingintahuan yang dipendam berabad-abad. Aku mengemasi ranselku, menatap wajah Kiai Husein dengan kegusaran yang hampir meletus. Tapi aku tahu, aku tak mungkin memaksa lelaki ini untuk melanjutkan ceritanya sampai tuntas sekarang juga. Masgul aku mengemasi ransel yang berisi beberapa buku cerita.
Aku meraih tangannya untuk kucium. Kiai Husein menyerahkan tangannya yang halus dan empuk pada genggaman tanganku, namun ia segera menariknya ketika hampir sampai ke wajahku.        

**
Kiai Husein menatap mataku dalam-dalam, seakan mengukur seberapa besar keingintahuanku tentang peristiwa malam itu. Angin berdesir. Terdengar lolongan anjing dari arah perkuburan. Aku tiba-tiba merasakan kengerian ditatap Kiai Husein seperti ini. Belum pernah tatapannya semenghunjam ini. Kiai Husein baru selesai melaksanakan salat malam dari masjid tua samping pondoknya ketika aku tiba di pondoknya. Langkahnya tertatih ketika berjalan menuruni tangga masjid menuju arah pondoknya. Aku yang duduk menunggunya di ambin depan pondok segera bangkit berdiri, menghampirinya untuk memapahnya. Tapi Kiai Husein menahan tanganku. Ia memberi isyarat mengikutinya masuk ke dalam pondoknya yang berlampu temaram.

Tatapan mata Kiai Husein membuatku gelisah. Ingin rasanya segera meninggalkannya seandainya rasa penasaran itu tidak menyiksaku.

“Karim,” suara Kiai Husein terdengar seperti keluhan. “Permohonan Azazil begitu berat, ini persoalan paling berat yang pernah saya hadapi.”

Raut muka Azazil begitu kecewa manakala Kiai Husein terus menggeleng, tak mampu berkata-kata setelah mendengar seluruh gundah gulana, kesedihan, dan keinginan yang disampaikan Azazil.

“Kiai, engkau adalah harapan terakhir saya setelah ribuan imam besar di seluruh penjuru bumi tak mampu menunjukkan jalan padaku untuk menggapai keinginanku bertobat. Saya sungguh-sungguh mengungkapkan keinginan ini dari perasaan paling dalam yang saya miliki. Jangan biarkan saya tersiksa menanggung semua ini, Kiai,” suara Azazil meratap dengan kesedihan yang begitu menyayat-nyayat perasaan Kiai Husein.

Kiai Husein memahami betul perasaan Azazil. Perasaan seseorang yang dikorbankan demi kemuliaan Adam. Tetapi bagaimanakah kiranya sejarah dunia ini bila Tuhan mengabulkan pertobatan Azazil?  Tentu ini akan membatalkan ayat-ayat dalam kitab-kitab suci yang diturunkan Tuhan? Isi kitab-kitab suci ayat-ayat harus dikoreksi besar-besaran. Kiai Husein tercenung beberapa lama. Tak pernah terpikir olehnya betapa ia akan menghadapi persoalan serumit ini.

“Bagaiamana, Kiai? Dapatkah kau membantu mengajukan pertobatan saya kepada Tuhan? Saya sungguh menyesal telah membangkangi perintah Tuhan memberi hormat kepada Adam. Waktu itu saya begitu dikuasai kesombongan, saya tak mampu berpikir panjang. Hingga saya terjebak dalam perjanjian yang sungguh merugikan saya dan seluruh keturunan saya.”

“Saya sungguh-sungguh menyesali kebodohan saya di masa lalu. Dan kini saya ingin menebusnya, bagaimana pun caranya. Saya rela diperlakukan apa saja asalkan saya diperkenankan bertobat, dan mencabut kembali semua perjanjian itu, Kiai.”

“Kiai, imam-imam besar di seantero bumi yang telah kutemui semuanya menganjurkan aku datang kepadamu mengadukan persoalan ini. Selama ini engkau dikenal sebagai orang bijaksana, orang yang selalu berpikir jauh ke depan.  Mampu memahami keadaan paling rumit sekalipun.”

Kiai Husein masih tercenung, tak mampu berkata-kata. Sempat terpikir olehnya, tidakkah kata-kata Azazil mulai menjebaknya. Bukankah menurut ayat-ayat dalam semua kitab suci Azazil memang licik dan pintar menjebak manusia? Tapi pikiran itu ia enyahkan jauh-jauh. Kiai Husein merasa kesungguhan dalam semua tutur kata dan sikap tubuh Azazil.             

Dengan nada lembut dan hati-hati, Kiai Husein bertanya apa melatarbelakangi kesadaran Azazil hingga mendadak ingin bertobat. Tentulah ada peristiwa besar yang membalikkan sikap Azazil hingga ia sampai pada keinginan bertobat.

“Tidak ada peristiwa besar apa pun yang membuat saya ingin bertobat. Keinginan ini sesungguhnya sudah muncul sejak dulu, manakala Tuhan mengutukku, saat itu juga muncul penyesalan saya. Namun sebelum saya sempat mengungkapkan, Tuhan telanjur mengajukan perjanjian yang mau tidak mau harus saya sepakati. Posisi tawar saya lemah. Waktu itu perasaan saya tertimbun oleh kekesalan. Ini adalah kebodohan saya. Sekarang saya ingin menebusnya, Kiai. Dulu ketika Tuhan mencetuskan perjanjian denganku, sehingga aku memproklamirkan diri sebagai musuh manusia sejatinya aku tidak sepenuhnya sadar. Sudahlah, semua telah berlalu dan tak mungkin kita putar ulang. Mungkin ini sudah garis takdir. Dan sekarang saya akan mengubah garis takdir itu. Bukankah tidak ada kata terlambat untuk bertobat, Kiai?”

Kiai merasa bahwa Azazil belum mengungkap seluruhnya. Namun ia tak ingin mengejarnya. Biarlah ia menunggu Azazil mengungkapkannya sendiri. Kalau pun Azazil tetap menyimpan sebagian penyebab lainnya, Kiai Husein merasa tidak perlu memaksanya, karena toh apa pun alasan di balik keinginan Azazil, Kiai Husein merasa tidak mampu menolongnya. Sekarang persoalannya bagaimana ia menyampaikannya kepada Azazil yang tampak begitu bersedih. Suatu kesedihan yang maha dalam.  Kiai Husein mendadak merasa begitu bodoh dan zalim lantaran tidak mampu menolong mahluk Tuhan yang hendak bertobat.

“Menyesal sekali, Azazil, saya tidak bisa membantumu. Satu-satunya jalan kamu harus menghadap langsung kepada Tuhan.” Begitulah Kiai Husein akhirnya dengan suara tersendat mengatakannya pada Azazil yang bersimpuh dengan air mata berurai. Mendengar jawaban Kiai Husein, secepat kilat Azazil berkelebat meninggalkannya...      

**
Rupanya Azazil berkelebat terbang ke langit, mengikuti saran Kiai Husein, ia berniat langsung menghadap Tuhan di Kerajaan Surga.  Sepanjang perjalanan menuju Kerajaan Surga itu air mata  Azazil berderai-derai. Butiran air mata penyesalan itu seperti kilauan permata yang berlesatan di keluasan semesta. Azazil merasa begitu kecewa kepada Kiai Husein dan semua imam besar yang tak satu pun bersedia membantunya bertobat.  Terbayang kembali peritiwa menyakitkan yang membuatnya jadi pecundang. Sudah berapa ratus ribu tahunkah semua itu berlalu?

Waktu itu Azazil bahagia sekali Tuhan menciptakan mahluk baru yang dibuat dari tanah. Mahluk bernama manusia itu diciptakan begitu sempurna. Azazil bahkan sempat mengagumi keindahan mahluk baru itu.  Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Kabar yang berhembus tentang bakal ditasbihkannya Adam sebagai mahluk terbaik membuat Azazil resah.

Keresahannya makin menjadi manakala Tuhan memanggil seluruh mahluk ciptaannya, temasuk Azazil untuk berkumpul. Hatinya betul-betul rontok, amarahnya meledak manakala Tuhan benar-benar mengumumkan kepada seluruh mahluk ciptaan-Nya untuk menundukkan diri di hadapan manusia.       

Azazil tersentak dari lamunannya ketika tubuhnya hampir menyenggol meteor. Jarak ke Kerajaan Surga tampaknya tidak jauh lagi. namun, manakala ia sampai di pintu gerbang langkahnya segera dicegat seorang malaikat. Setelah terjadi perdebatan yang cukup alot, akhirnya malaikat tanpa sayap itu menyilakan Azazil bertemu Tuhan.

“Terserah padamulah, silakan menghadap sendiri,” seru malaikat, kesal, suatu sifat yang semestinya tidak dimiliki mahluk berbahan dasar cahaya itu. Azazil akhirnya berhadap-hadapan dengan Tuhan. Di hadapan pencipta alam semesta itu Azazil mengungkapkan keinginan yang sudah ia ceritakan kepada Kiai Husein dan imam besar lainnya. Di hadapan Tuhan, Azazil mengungkapkan alasan lain yang tidak diutarakan di depan Kiai Husein.

“Tugas hamba menggoda manusia sudah selesai. Sekarang, tanpa dibujuk pun, manusia sudah punya inisiatif untuk berlaku jahat. Bahkan kejahatan mereka melampaui apa yang hamba sarankan. Hamba kini jadi pengangguran ya, Tuhan. Kalau Engkau tidak mengabulkan permohonan tobat hamba, berilah hamba tugas baru, menggoda anak Adam untuk berbuat baik dan kembali ke jalan yang lurus.”   

Para malaikat yang menguping permohonan Azazil, saling celingukan, garuk-garuk kepala. Salah satu di antara mereka tiba-tiba angkat bicara.

“Tidak mungkin! Ini tidak boleh terjadi. Kami tidak sudi bertukar peran denganmu, Azazil!”

Azazil menoleh, menatap malaikat yang kehadirannya sungguh mengejutkannya. Namun, Azazil segera menenangkan malaikat yang tampaknya khawatir tugasnya diambil alih.

“Sabar, kita akan bersama-sama mengajak manusia ke jalan yang benar. Dengan kerja sama yang baik, pasti dengan mudah manusia dapat kita kembalikan ke jalan yang benar,” kata Azazil, bijak sekali.

“Kalau seluruh manusia kembali ke jalan yang lurus, lalu bagaimana drama di bumi akan dilangsungkan?” malaikat, terus mengejar.

“Inilah tantangan buat Tuhan, bagaimana Ia dapat menciptakan drama dengan tokoh-tokohnya yang lurus semua.”

“Tidak bisa, takdirmu tidak dapat dikoreksi. Kau tetap menjadi martir yang terkutuk,” kata malaikat.

Seketika halilintar menggelegar. Kegelapan menutup semua pandangan seperti layar hitam menutup panggung pertunjukan.

Gondangdia, September 2013. 

Cerpen ini pernah disiarkan Horison, Februari 2014, dan Lampung Post, Minggu 2 Maret 2014

Comments