Meirina, Albania



Model oleh Meirina
Apa hubungan Merina dan Albania? Mungkin tidak ada hubungannya sama sekali kecuali bahwa Meirina dipotret sambil memegang novel “Istana Mimpi”karya pengarang Albania Ismael Kadare. Saya belum membaca novel ini, karena telah lenyap sebelum saya sempat menyimpannya. Jujur saja, saya tak mengenal nama pengarang ini sebelumnya. Novel ini begitu saja diambil oleh Meirina, kolega saya, dari rak buku. Mei, demikian kolega saya biasa disapa, juga tidak berniat membacanya.  Ia hanya ingin dipotret sambil berakting membaca buku.  Hasilnya, seperti kamu lihat di samping tulisan ini.     

Saya memintanya berpose senyaman mungkin. Saya lalu memotretnya dalam beberapa gaya di ruang perpustakaan yang sepi sepanjang hari.  Dari beberapa gaya, saya pikir hanya satu ini yang paling unik. Lihatlah, matanya agak memejam seperti tengah menghayati  kenikmatan tertentu.  Sudah pasti bukan kenikmatan membaca novel ini, meskipun dari sinopsisnya novel ini lumayan menarik. Suatu kali saya mungkin akan mencari novel ini, tapi mungkin juga tidak sama sekali.  Ini novel surealis untuk menyindir pemerintahan diktator di Albania melalui perantara mimpi. Kesultanan Albania yang diktator membentuk sebuah lembaga yang bertugas mencatat dan mengumpulkan semua mimpi-mimpi yang dialami warganya.

Tujuannya untuk mempelajari mimpi-mimpi tersebut. Kemudian dipilih, mimpi  yang paling memberikan pertanda mengenai masa depan kesultanan, pemilik mimpi tersebut dipanggil sultan untuk diinterogasi.  Oya, Albania ini sebuah negeri kecil di Eropa timur yang memiliki sejarah panjang perebutan pengaruh dan kekuasaan bangsa-bangsa besar: Romawi, Byzantium, Yunani. Dalam sebuah kurun negeri ini pernah berada dalam kekuasaan Turki Usmani atawa Ottoman, tidak heran apabila mayoritas penduduk negara ini penganut Islam.

Nah, rupanya, Ismael Kadare mengambil setting novel ini ketika Albania berada di bawah kekuasaan kesultanan yang berkiblat pada Turki Ottoman sekitar tahun 1385-1912. “Istana Mimpi” menggambarkan sultan sangat diktator, mengekang rakyatnya. Sebagaimana sastrawan di belahan dunia manapun, Ismael Kadare berlaku kritis dan mengkritik keras kediktatoran penguasa Albania masa ia hidup dengan meminjam sejarah kesultanan di negeri itu di dalam novel-novel yang ditulisnya. Gara-gara kekritisannya Kadare pernah dipenjara oleh pemerintah Albania, dan dibuang atau mencari suaka ke Perancis.

Comments