Menjaga Pertamina, Menyelamatkan Bangsa

Seorang kawan yang menangani penerbitan media internal sebuah BUMN menghubungi saya. Dia memesan saya menuliskan resensi buku biografi Ibnu Sutowo, seorang dengan latar pendidikan dokter dan ketentaraan yang menjadi peletak dasar perusahaan tambang minyak negara. Namun saban menyebut nama ini yang berkelebat di kepala saya adalah sosok Dian Sastro, aktris top Indonesia yang kini jadi menantu dari putra bungsu Ibnu Sutowo. Resensi yang saya maksud saya turunkan di sini. 

Model diperani oleh Sheilla


Ekonomi Indonesia sedang kacau, terasa paling kacau sejak proklamasi kemerdekaan. Nilai uang merosot terus, inflasi. Sumber daya alam hampir-hampir tidak diusahakan. Tidak ada modal, tidak ada uang untuk dijadikan penggerak penggarapan.// Kapital dan tenaga asing lari keluar. Seperti tidak ada harapan untuk mengatasi pelbagai kesulitan. Keresahan menjadi-jadi karena pemberontakan di daerah. Dan PKI, tambah berkembang.//

Paragraf yang dikutip dari buku biografi Ibnu Sutowo: Saatnya Saya Bercerita (hal. 163) di atas mungkin dapat menjadi pembuka yang tepat dan menarik untuk mengenang kembali peran Ibnu Sutowo dalam sejarah kelahiran perusahaan minyak negara yang lebih terintegrasi, Pertamina. PT Pertamina (Persero) betapa pun memiliki peran sangat besar dalam perjalanan sejarah bangsa dan negara Indonesia, mengingat bukan hanya kontribusinya yang besar bagi penerimaan negara sampai saat ini, tapi juga secara politis Pertamina menjadi salah satu tonggak kesadaran berbangsa dan rasa nasionalisme.

Dalam situasi yang serbakacau, demikian dipaparkan buku ini, Ibnu Sutowo, yang tak memiliki pengalaman di bidang perminyakan, ditunjuk pemerintah mengurusi perusahaan minyak yang kondisinya waktu itu hanya berupa lapangan-lapangan tua dan telantar, peralatan dan pabrik-pabrik yang hancur sebagai akibat Perang Dunia Kedua, Perang Kemerdekaan dan pemberontakan; suatu perusahaan dengan karyawannya yang terpecah-pecah oleh ideologi. Sejarah mencatat, Ibnu Sutowo kemudian mampu membalik keadaan. Ia berhasil ‘menyulap’ karut-marut perusahana minyak itu menjadi tambang uang nasional dan menunjukkan pada dunia kemampuan kerja putra-putra bangsa menjalankan perusahaan minyak sendiri.  Di bawah pengelolaannya, produksi minyak Pertamina pernah mencapai 1,7 juta barel per hari dengan harga 34 dolar AS per barel belum termasuk penerimaan negara dari minyak sekitar 2 miliar dolar AS.

Buku biografi anggitan sastrawan Ramadhan KH ini menuturkan secara runut dan jernih perjalanan hidup Ibnu Sutowo yang unik dan kaya akan warna, sejak masa kanak-kanak hingga kiprahnya dalam percaturan politik dan membesarkan Pertamina. Kisah getirnya dicopot dari perusahaan yang dibidaninya pun tentu dituliskan pula di sini. Tidak luput juga kiprahnya di organisasi sosial kemanusiaan Palang Merah Indonesia.

Riwayatnya dalam membidani dan memimpin Pertamina mendapat porsi besar di sini. Pilihan ini wajar lantaran sosoknya memang tidak mungkin dilepaskan dari Pertamina, sekaligus bahwa buku ini tampaknya memang diniatkan untuk ia bercerita apa yang sesungguhnya terjadi di Pertamina pada 1974, yang menyeret perusahaan itu pada kondisi krisis dan Ibnu dibebastugaskan pemerintah dari sana. Alhasil, dari buku ini kita menerima pleidoi, sebuah pembelaan yang meyakinkan dari seorang yang banyak sekali diisukan sebagai pembangun sekaligus sumber kebangkrutan Pertamina pada pertengahan 1970-an itu. Melalui buku ini, sesuai judulnya, Ibnu Sutowo menceritakan apa sebenarnya yang terjadi dalam krisis tersebut. Penyingkapan ini  menunjukkan pada kita betapa mahalnya harga yang harus dibayar oleh rakyat atas suatu persaingan politik global.

Sebagai buku, Ramadhan KH berhasil menunjukkan dengan jeli sisi mana saja dari Ibnu Sutowo yang perlu dijelaskan dan mesti disampaikan dengan cara apa hal ihwal mengenai pendiri Pertamina ini. Meski buku ini terbilang buku lama dan mengenai isu yang sangat lama, tetapi masih sangat layak dibaca dan dikoleksi sebagai pelajaran berharga bagaimana dinamika kemerdekaan, pembangunan sebuah perusahaan negara, dan pelbagai topik yang melingkupi tokoh penting bernama Ibnu Sutowo. 

data buku


• Judul buku: Ibnu Sutowo: Saatnya Saya Bercerita • Penulis: Ramadhan KH • Penerbit: National Press Club of Indonesia • Cetakan: I, 2008 • Tebal: xxxviii + 538 halaman

        

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka