Model Lukisan


 

 Lukisan Karya Djoewarso M Soerosastro, dari buildingindonesia.biz

Saya sudah meniggalkan mereka, perempuan-perempuan model lukisan saya. Kini saya pertaruhkan karir saya sebagai pelukis kepada Waridah. Saya harus menemukan perempuan itu, perempuan yang menurut bisikan ilham yang saya terima akan menyelamatkan karir saya di bidang lukis melukis.   


Namun, menemukan dan merayu Waridah untuk menjadi model lukisan saya bukan perkara mudah. Pelukis-pelukis kenamaan yang telah menjadikan Waridah sebagai model lukisan mereka tak mungkin sudi memberi informasi keberadaan perempuan itu. Mereka akan memandang sinis bahkan sebelum saya bertanya. Tapi sikap mereka makin meyakinkan saya akan kebenaran bisikan ilham itu. Jadi saya harus menemukannya sendiri sampai titik darah penghabisan.

Membutuhkan waktu berbulan-bulan penuh perjuangan untuk akhirnya menemukan Waridah. Ia baru selesai mengikuti kelas pilates di pusat kebugaran di sebuah mal pinggiran kota. Ia muncul dari dalam ruangan masih dengan pakaian senam yang tipis dan ngepas di badan sehingga memperlihatkan seluruh lekuk-liku tubuhnya yang ramping elok. Wajahnya berkilau oleh keringat yang deras mengucur meski sudah diseka handuk kecil yang dikalungkan di lehernya. Kondisi seperti itu membuatnya makin terlihat cantik dan menggairahkan.

Ia melewati saya dengan langkah pelan dan terlihat anggun. Waridah mengambil tempat duduk di meja yang terhalang dua meja dari meja saya duduk. Lalu memesan minuman. Saya segera bergerak ke mejanya.  Bola matanya bening cemerlang. “Halo, Nona Waridah, akhirnya saya bisa menemukan Anda di sini,” kata saya tanpa basa-basi. Saya tahu perempuan jenis ini memang tidak suka basa-basi.

“Anda siapa? Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, tapi Anda menyapa saya seakan kita sudah saling kenal lama,” ujarnya, menohok, seperti membuktikan dugaan saya.
“Tentu saja saya mengenal Anda. Anda sangat terkenal sebagai seorang model lukisan. Anda sering berseliweran dalam lukisan-lukisan keren karya pelukis kenamaan. Pose Anda selalu begitu sempurna dan mendatangkan keberuntungan,” kata saya.

“Oh, terima kasih. Tapi apa maksud pujian Anda?”

“Perkenalkan, saya Tius, pelukis. Saya pikir harus mencari model yang hebat seperti Anda untuk lukisan saya. Untuk itulah saya mencari Anda.” kata saya langsung pada tujuan.  Waridah terlihat dingin-dingin saja mendengar pujian saya. Bibirnya ditarik sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan sinis. Mungkin sudah terlalu banyak orang memberi pujian seperti itu sehingga buat dia jadi terdengar seperti rayuan atau bujukan murahan. Saya berupaya mencari celah menaklukan kepongahannya.

“Tadi siapa nama Anda?” Waridah bertanya dengan dagu diangkat, dan mata sedikit disipitkan seakan saya liliput yang menggelikan. Saya mengulang menyebutkan nama saya.

“Nama Anda memang masih sangat asing. Memangnya sudah berapa lama bekerja jadi pelukis?”

“Lumayan,” sahut saya, mulai agak tersinggung. Bertahun-tahun sudah saya menderita perasaan ini. Jadi saya rasa lebih mudah menerimanya untuk menanggungnya sekali lagi dari Waridah. “Saya berjanji akan memberi bayaran memuaskan. Bahkan kalau perlu separuh hasil penjualan lukisan saya nanti menjadi milikmu,” bujuk saya.

“Begini ya, Sodara Tius. Anda adalah orang kesekian yang meminta saya menjadi model untuk lukisan. Sebenarnya ini permintaan yang mudah saya penuhi. Namun sayangnya saat ini saya sedang kehilangan gairah menjadi model lukisan. Saya sedang menikmati pekerjaan sebagai tokoh dalam cerita pendek, ” sergahnya seraya mereguk es lemon tea sekali tandas.

“Berapa bayaran yang kamu terima untuk pekerjaan itu?”

“Ini bukan soal bayaran!” tukasnya dengan nada tinggi.

Kata-katanya itu membuat mulut saya terkatup dan pikiran saya linglung. Bukan karena penolakannya, melainkan alasan penolakannya yang terdengar seperti bersungguh-sungguh. ‘Menikmati pekerjaan sebagai tokoh dalam cerita pendek!’ Jenis pekerjaan apakah itu? Tapi saya tahu, saya tidak boleh mudah menyerah. Ini demi karir saya sebagai pelukis. “Dengarlah, Waridah, kamu satu-satunya harapan saya menyelamatkan saya dari keterpurukan,” kata saya dalam nada rendah, memasang mimik mengiba. Saya pikir apa pun akan saya lakukan untuk dia mau membantu saya. Bayangkan saja, saya sudah belasan tahun jadi pelukis, namun karir saya seperti jalan di tempat. Saya sudah banting setir menjajal aneka profesi lain. Mulai dari juragan beras, anggota dewan, hingga tukang pijat. Semua berantakan.

Menjadi pelukis, itulah satu-satunya profesi yang harus saya perjuangkan sampai titik darah penghabisan. Dan titik darah penghabisan itu adalah meminta Waridah menjadi model lukisan saya. Kesimpulan ini saya dapatkan setelah berbulan-bulan bertapa untuk mendapatkan ilham. Mahluk bernama ilham itu membisikkan bahwa saya harus menggunakan Waridah sebagai model untuk lukisan.

Saya yakin sekali bahwa ilham ini datang dari malaikat yang akan memperbaiki takdir hidup saya. Jadi saya harus mempertaruhkan hidup saya untuk membujuk dia bersedia memenuhi permintaan saya. Kini ketika perempuan yang saya cari ada di hadapan saya, saya tidak boleh patah. Kalau perlu saya akan memaksanya.

“Nona Waridah,” seru saya ketika Waridah bangkit dan meninggalkan mejanya. Perempuan ini hanya menoleh sejenak. Ia meneruskan langkahnya. Dia masuk lagi pusat kebugaran, menuju kamar ganti. Satpam yang berdiri di pintu menghadang saya.

“Maaf, Pak. Tunjukkan kartu member Anda?”

Saya kelimpungan dan geram. Saya hendak memaksa masuk, namun penampilan satpam yang sangar dengan tubuhnya yang kekar membuat nyali saya ciut. Akhirnya dengan langkah gontai saya kembali ke meja saya dan mereguk sisa lemon tea yang terasa hambar. Saya tidak boleh putus asa. Kalau sekadar marah, bolehlah. Tapi saya tidak patut meratap. Saya harus berjuang mendapatkannya. Begitulah yang disarankan buku-buku motivasi yang terpaksa  saya baca untuk memompa kepercayaan diri saya meraih harapan dan cita-cita saya. Butuh hati yang besar untuk menghadapi rintangan, buku motivasi itu mewejangkan. Menyerah hanya milik pecundang. Kini tinggal satu langkah untuk mendapatkan cita-cita saya itu, yaitu Waridah tidak boleh lepas dari tangan saya. Saya akan menunggunya di sini. Menguntitnya saat di keluar nanti, ke mana pun dia pergi.

Saya menyulut rokok. Mencoba meredakan kecemasan yang melanda benak. Saya meminta pelayan menambah es lemon tea.  Sambil menunggu dalam perasaan gelisah, saya teringat perempuan-perempuan yang pernah menjadi model lukisan saya. Semuanya tak meninggalkan kenangan apa pun selain kekecewaan.

Mereka semua memang dengan mudah dapat saya arahkan untuk bermacam-macam pose. Bahkan ketika saya meminta mereka berpose tanpa mengenakan baju. Tapi satu pun dari lukisan-lukisan itu dilirik pembeli. Tak satu kritikus pun menyinggung lukisan saya dalam tulisan mereka di media. Kurator-kurator yang mengurasi lukisan saya tampaknya karena kasihan belaka ketika meloloskan karya saya ikut pameran. Beberapa kawan pernah menyarankan saya jadi pelukis pemandangan saja lalu dijajakan di trotoar. Jelas itu hinaan paling kasar.

SUASANA di dalam mal makin semarak. Seakan semua orang di luar mengalir masuk kemari sementara yang di dalam mal enggan keluar. Tak bosan-bosannya mereka keluar masuk butik, menyantap makanan di restoran. Anak-anak mereka berlarian kesana kemari sambil menjerit-jerit kegirangan. Saya bayangkan bom meledak dan meluluh lantakkan mereka semua.

Di luar lampu-lampu jalan sudah menyala menyempurnakan malam. Dan Waridah belum juga terlihat keluar dari pusat kebugaran. Apakah dia sudah keluar tapi saya tidak melihatnya? Rasanya tidak mungkin, mata saya hampir tidak berkedip mengawasi pintu keluar lobi pusat kebugaran. Jangan-jagan Waridah menyelinap dari pintu lain? Dengan cemas saya menghampiri loby pusat kebugaran dan menanyakan Waridah. Baru saja saya hendak bertanya, saya lihat Waridah muncul. Dia berjalan melewati saya tanpa menghiraukan.

“Nona Waridah,” saya berjalan cepat mengejarnya. Waridah berhenti dan menoleh ke arah saya.

“Anda ngotot sekali. Sudah saya jelaskan saya sedang kehilangan mood jadi model lukisan siapa pun, apalagi pelukis tidak dikenal seperti Anda.,” tukasnya sengit.

“Nona Waridah, dengarlah, berbulan-bulan saya mencarimu,” seru saya.

“Itu bukan urusan saya. Dengarlah saya harus pergi sekarang dan saya tidak suka Anda mengikuti saya. Saya beri tahu sekali lagi, saya sedang menikmati pekerjaan baru menjadi tokoh cerita pendek!”

“Nona Waridah, saya tidak meminta Anda menjadi model lukisan, tapi menjadi tokoh cerita pendek yang akan saya tulis!” kata saya. Saya berharap siasat saya berhasil.

Waridah berhenti melangkah. Dia berbalik dan menatap saya dengan tatapan sulit ditebak.

“Anda jangan mengada-ada. Sejak kapan ada profesi menjadi tokoh cerita pendek! Jangan mentang-mentang pengarang lalu Anda seenaknya melanggar keumuman!” semburnya.

Cirebon, Desember 2013

Cerpen ini awalnya disiarkan Tribun Jabar, Minggu 30 Maret 2014

Comments

imeyloing said…
Hm bingung..kupikir cerpennya masih berlanjut
Terima kasih apresiasinya, Mey. Terus terang aku sendiri yang nulis bingung sebenarnya apa yg ingin disampaikan cerpen ini. Tapi kebingungan yang mengasyikkan, bukan?