Timur dan Barat yang Enggan Meleleh



ilustrasi dicomot dari www.goethe.de

Di dunia Timur sejarah perempuan seakan tidak pernah berubah. Selalu menjadi subordinasi laki-laki dan kehilangan hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Kali ini kita melihatnya lewat film “Die Fremde”. Umay, yang diperlakukan secara kasar oleh suaminya Kemal, akhirnya meninggalkan Istanbul, Turki.

Negara yang dituju Umay adalah Jerman. Di negeri Hitler pernah berkuasa tersebut ayah dan ibu Umay tinggal. Di negeri ini pula Umay dilahirkan dan tumbuh dewasa. Namun, keinginan Umay untuk berpisah dari suaminya dan hidup mandiri di Jerman tidak mendapat dukungan dari keluarganya karena hal itu dianggap menyalahi agama dan tradisi mereka. Terpenjara di antara dua sistem nilai dan kepercayaan Umay memutuskan untuk lari agar terlepas dari kekangan keluarganya. Umay diterima bekerja di sebuah restoran dan menjalin asmara dengan pria Jerman. Langkah Umay akhirnya berujung pada sebuah tragedi. Ia dikejar oleh anggota keluarganya untuk dihabisi.

Film ini seakan menghadirkan kontras antara Timur yang membatasi perempuan, dan Barat yang memberi kebebasan kepada perempuan. Dalam film garapan Feo Aladag, sutradara berkebangsaan Jerman kelahiran Austria ini, Timur itu berwujud Turki, sebuah negara yang telanjur dilekatkan dengan Islam, mengingat pada masa lalu pernah menjadi pusat kekalifahan Turki Usmani. Namun benarkah Islam membatasi perempuan? Jawabannya adalah tidak! Islam menjunjung tinggi prinsip keadilan. Tak ada keadilan tanpa kesetaraan.

Islam, seperti juga dialami agama lainnya, acap dijadikan dalih untuk melanggengkan kekuasaan, dominasi politik, bahkan peperangan. Kekhalifahan acap dipandang sebagai representasi nilai-nilai Islam. Padahal tidak sesederhana itu.  Melalui Umay kita seperti kembali diajak untuk mempertanyakan kembali makna nilai Barat dan Timur dan pengaruhnya bagi arah sejarah kebudayaan kita. Apakah Timur apakah Barat? Mengapa sejarah seakan berhenti ketika membicarakan kedua konsep ini?  

Saya terus menimang-nimang pertanyaan ini ketika film selesai dan keluar dari Arthouse Cinema GoetheHause sambil melupakan bahwa film ini di tahun yang sama (2010) menerima tujuh nominasi dalam ajang penghargaan versi Persatuan Kritikus Film Jerman, meraih penghargaan LUX dari Parlemen Eropa sebagai karya terbaik seni film di Eropa.

Comments